(Sesekali nulisnya rata kanan, untuk melatih keseimbangan otak).
Dulu pernah ada seorang ustadz bilang, "Segala sesuatu yang terjadi,
dari hal yang terkecil hingga hal besar, semua telah tertulis
dalam kitab lauhful mahfudz." Itu artinya sudah dalam kepengaturan
Allah.
Ada salah satu jema'ah yang bertannya, "Termasuk kalau kita marah, apa itu sudah diatur oleh Allah?"
"Betul." Kata Ustadznya.
"Lalu kenapa kita seolah dipersalahkan jika kita marah? Kalau kita bohong, dan itu sudah dalam kepengaturan Allah, kenapa kita dianggap berdosa saat kita marah?" Lanjut si penanya tadi.
"Yah, kemarahan dan kebohongan yang pernah kita lakukan memang sudah dalam kepengaturan Allah. Dan bagi Allah itulah yang terbaik bagi kita. Itulah model pendidik dari Allah. Salah dan benar hanyalah penilaian otak manusia saja." Jawab sang ustadz tenang.
Ada salah satu jema'ah yang bertannya, "Termasuk kalau kita marah, apa itu sudah diatur oleh Allah?"
"Betul." Kata Ustadznya.
"Lalu kenapa kita seolah dipersalahkan jika kita marah? Kalau kita bohong, dan itu sudah dalam kepengaturan Allah, kenapa kita dianggap berdosa saat kita marah?" Lanjut si penanya tadi.
"Yah, kemarahan dan kebohongan yang pernah kita lakukan memang sudah dalam kepengaturan Allah. Dan bagi Allah itulah yang terbaik bagi kita. Itulah model pendidik dari Allah. Salah dan benar hanyalah penilaian otak manusia saja." Jawab sang ustadz tenang.
***
Itulah sepenggal pelajaran yang baru saya mengerti setelah melewati perenungan dan peng-iqra-an lingkungan dan diri. Kesalahan yang pernah kita lakukan memang diperkenankan oleh Allah, bukan untuk memberikan cap buruk pada kita, tapi sebagai pendidikan bagi kita untuk mengetahui jalan yang salah dan benar.
Saat kita marah, saat itulah kita tahu marah itu seperti apa. Bila kita mampu merenunginya dengan hati dan akal yang ikhlas (karena Allah), maka kita akan menyadari bagaimana pengaruh rasa marah pada pikiran kita, pada hati kita dan pada semangat hidup kita. Terganggukan? Itulah pendidikan dari Allah kenapa Allah melarang kita marah-marah, karena hal itu mampu mengganggu kemurnian hati dan keimanan kita.
Saat kita berbohong, maka otak akan berputar memikirkan berbagai cara agar kebohongan kita tidak terungkap. Dengan berbohong juga seolah kita tidak menerima kenyataan yang terjadi. Menyangkal kenyataan, bukankah sama artinya menyangkal Kehendak dan hal yang terbaik menurut Allah bagi kita? Setidaknya, begitulah Allah mendidik kita melalui kebohongan yang pernah kita lakukan, untuk mengetahui bahwa berbohong sama artinya menolak Kehendak Allah yangterbaik.
Maka, untuk semua kejadian yang menimpa kita, kejadian yang kecil sampai kejadian besar sekalipun, itulah yang terbaik berdasarkan Kacamata Allah.Tak ada yang salah dengan masa lalu kita yang terlihat 'buruk'. Tak ada yang salah dengan perilaku kita yang seolah 'salah'. Semuanya baik. 'Benar' atau 'salah' hanyalah penilaian otak. Yang jahat hanyalah persepsi kita. Dan yang salah (lagi) hanyalah provokasi dari syetan pada akal kita tentang takdir yang telah terjadi.
Jika kita mampu mengiqra dengan lurus (karena Allah), maka dari kesalahan itulah kita akan mendapat sebuah pelajaran. Kenapa Allah menciptakan gelap (malam), karena Allah Mau menunjukkan apa itu bulan, bintang dan menciptakan waktu yang tepat untuk berkhalwat dengan-NYA (waktu qiyamul lail). Juga mengajarkan tentang apa itu cahaya. Kenapa Allah Menghendaki sebuah kesalahan untuk kita lakukan? Karena Allah ingin menujukkan mana yang benar dan mana yang salah. Jika kita tak pernah salah, darimana kita akan tahu mana yang benar?
Seperti itulah Allah Memberikan gelap agar kita mampu menemukan dan menuju pada cahaya-NYa.
*bagi yang baca catatan ini, kalo ada yang salah mohon disilaturahimkan agar saya bisa memperbaiki kekurangan dari pemahaman saya. Terima kasih. Semoga bermanfaat, tapi tidak memuaskan,,, :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar