Senin, 22 September 2014

Malam Mingguan



 “Malam  ini nonton maping video, yuk, di Gedung Sate!” Ajak Dewi, teman saya.
“Apa itu maping video?” Tanyaku polos. Tapi sepertinya akan menarik, karena akan mengetahui sesuatu yang baru.
“Penayangan video tapi layarnya di dinding. Kayak layar tancep gitu lah, tapi layarnya dinding.”
“Ooo,, gitu? Kayaknya seru tuh. Emang video apa yang nanti akan diputar?” Ku bilang dengan antusias.
“Gak tahu. Kalo dulu aku lihat mah tentang menjaga lingkungan.”
“Hayu,, hayu,,. Jam berapa itu?”
Yak.  Hari sabtu ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengadakan penayangan maping video di Gedung Sate. Katanya dalam  rangka ulang tahun Kota Bandung. Ooo,, Bandung, selamat ulang tahun buatmu. Bagaimanapun kondisi Bandung, yang membuat aku bertahan di Bandung bukan karena kecintaanku pada Kota Bandung semata. Tapi Bandung bagiku adalah tempat dimana aku mulai hidup dan mengenal agamaku. Ku cinta Bandung karena Allah. Heheee.... (sepertinya lebay amit yak?).
Malam minggu, jalan kaki menyusuri trotoar Bandung, bercanda dengan kekawan, dan nonton maping video. Mungkin hal ini bukanlah hal pengalaman yang luar biasa, yang membuat orang-orang terbelalak dan sambil bengong berkata waaaahhhh,,,, Tapi bagiku jalan-jalan malam ini adalah pengalaman baru. What??? Berapa lama di Bandung? Hari gini baru keluar malam mingguan?

What ever-lah. Yang penting, aku senang malam minggu ini bisa berpetualang menjejaki jejak malam.
Dewi ternyata nggak hanya ngajak aku seorang. Dia juga ngajak teman kuliahnya. Namanya Aul. Udah kutebak namanya pasti Aulia. Ternyata memang benar, hahaa. Kami janjian di pusdai. Lalu berjalan kaki ke Gedung Sate. Di sini, di jalan ini, aku melihat Bandung dengan dekat. Biasanya aku melewati jalan ini dengan nenegn Hafsoh (motorku). Tapi malam ini aku menyusurinya dengan jalan kaki. Senangnyaaa.... 

Dewi yang polos dan kocak, aku yang pemalu padahal malu-maluin, Aul yang pendiam dan benar-benar pendiam. Kami bertiga bersama sambil bercanda menyusuri trotoar jalan Diponegoro. Hahaa...
Melihat banyak orang di depan Gedung Sate, membuat ingatanku kembali ke masa Sekolah Dasar saat akan nonton layar tancep. Senangnyaaa.... apa yang membuat aku senang? Yaitu pengalaman baru. Wkwkwkkkk... menyedihkan, tujuh tahun tinggal di bandung, baru malam ini keluar malam mingguan. Bae weeh!

Jam 20.15 video mulai ditayangin. Ternyata videonya tentang menjaga lingkungan. Menjaga kelestarian alam, agar alam ini terbebas dari polusi, bencana alam dan kehidupan manusia bisa sejahtera. Aaa.... bagus! Tapi yang membuat aku terpukau bukan soal cerita dalam videonya. Melainkan bentuk penayangannya. Bagus syekaleeeee,,,,,!!!! Bagian depan Gedung Sate dibuat layar, dan animasinya baggggus sekali! Bisa yah manusia berpikir sekeren itu. Bentuk animasinya disesuaikan dengan bentuk bagian depan Gedung Sate yang bertingkat, ada genteng di depannya dan jendela-jendela. Sebelum videonya dimulai, pembukaannya dengan memainkan cahaya yang mewarnai bagian depan Gedung Sate. Waaahhh,,,, Gedung Sate dengan lukisan cahaya itu sungguh menjadi keren!!!!!  

Acara malam ini ditutup denganpesta kembang api. Tapppi, sayang banget, aku gak nonton sampe selesai. Pesta kembang api juga cuma bisa lihat kembang api di balik dedaunan, karena Aul, teman baruku itu, katanya perutnya sakit dan menghabiskan acara malam ini dengan menunggui dia di depan toilet. Hahahaaa,,,, ada-ada gajah! Tapi, tak apalah. Dapat teman baru saja sudah membuat aku senang.... salam kenal teh Aul!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar