Selasa, 16 September 2014

Penulisnya tak mau memberi judul.



Aku sakit maag lagi. Seseorang ngasih komen di FB. Katanya karena aku banyak pikiran. Apa? Aku mikirin apa?

Sebulan merasakan bebas dari larangan makanan apapun. Bisa makan kopi, walau dengan prasyarat tertentu, bisa makan mi rebus dengan prasyarat tertentu, kecuali makanan dan minuman yang berasaasam. Sebulan juga merasakan senang dan semangat dalam bekerja, euforia pekerjaan barunya masih terasa. Sebulan waktu itu bagiku adalah sebulan kemerdekaan yang membahagiakan.

Setelah sebulan berlalu, pekerjaan bertambah banyak. Perang pikiran mulai terjadi. Antara gak mau melakukan tugas ini itu dengan perintah si bos untuk melaksanakan ini itu. Hmm,,,, masih ada perasaan terpendam? Sempat juga kesal dengan sistem penggajian. Sang istri bos yang kerjaan di kantor ngerjain skripsi atau ngasuh anaknya tetep dapet gaji yang sama denganku. Sedangkan kerjaanku, harus mengadministrasikan keuangan (padahal ini kerjaan si istri bos). Akad awalnya aku diminta bantuan administrasi keuangan. Tapi nyatanya aku semua yang mengerjakan, kecuali pegang uang dan atmnya saja. Padahal seharusnya pikiran itu tidak masuk dalam daftar pikiranku. Yang masuk dalam daftar pikiranku adalah aku haurs kerja dan mendapat penghasilan. Selain ngurus keuangan, juga jadi notulen kalau ada klien, jadi direktur PSDM yang waktu itu harus banyak surat yang dibuat, dan juga membuat jurnal. Padahal tugas awal aku saat melamar pekerjaan adalah membuat jurnal. Membuat jurnal saja kadang membuat kepala kehilangan keseimbangan karena keras dan seriusnyanya berpikir. Setelah satu bulan merasakan euforia pekerjaan baru, maka selanjutnya penat dan lelah mulai terasa.

Lain di kantor, lain pula persoalan di kostan. Di Agustus minggu kedua, salah satu temanku menjauhiku, mencuekkanku. Dia tidak banyak bercerita padaku, bahkan tidak bercerita sama sekali. Padahal sebelumnya, dimana kami bertemu, di sana dia bercerita panjang lebar. Karena sepotong ayam, atau entah karena do’aku untuk sedikit menjauhkan dia dariku, maka dia pun menjauhiku. Bukan selama tiga hari, tapi entah sampai kapan. Kini sudah hampir tiga minggu berlalu, tapi dia masih bungkam di hadapanku. Karena tidak mau terlalu memikirkan hal ini, maka aku bersiakap sebiasa mungkin. Bertanya pada dia, ngajak ngobrol sesekali. Tapi dia masih saja bersikap seperti itu. Semula, sikap dia tak terlalu kupikirkan. Tapi,,, rasa kesal menguap bersamaan dengan lelahnya pekerjaan di kantor.

Mhq, itu lain soal lagi. Dari tahun ke tahun, mhq selalu jadi momok yang menyeramkan. Tapi seseram apapun itu, aku tetap harus menjalankannya. Kenapa merasa seram?? Entahlah. Aku merasa itu proyek/penjualan yang besar yang aku sendiri gak tahu harus begaimana menjalankannya.

Masih berpikir ini dengan logika? TER-LA-LU!!!!!

Lain soal pekerjaan, lain juga soal hobi dan cita-citaku. Hobi nulis dan cit-cita jadi penulis membuatku mengagendakan nulis dan membaca dimalam harinya. Setelah siang hari bekerja, sore bisnis bertemu orang ini itu, dan harinya aku nulis dan baca-baca. Tidur diagendakan jam 00.00. kadang tidur jam 01.00. kegiatan nulis dan baca ini kadang membebani juga, satu sisi aku ingin tidur, sisi lain aku harus nulis dan baca setiap malamnya. Setelah seharian otak dan badan bekerja, malam hari pun aku masih harus berpikir. Tapi bukankan wajar kalau otak manusia digunakan untuk berpikir dan bekerja? Belum lagi, di sebuah pelatihan menulis, minggu ini mengharuskan pesertanya menulis satu artike setiap harinya. Kadang itu menjadi beban pikiran juga. Tapi beban pikiran yang dinikmati untuk melakukannya.

Mungkin cuma empat hal ini yang memberatkan pikiranku. Soal kantor yang mulai melelahkan, soal teman kostan yang mulai bikin kesal karena sikap cueknya itu, dan soal maju-ragu langkah dalam mhq, dan soal nulis. Maka aku ingat, di pagi itu, pagi hari selasa tanggal 9 September 2014, sambil jalan di motor menuju tempat kerja, aku berpikir, perasaan sudah lama aku gak sakit. Melakukan istirahat di rumah untuk satu dua hari. Membebaskan pikiran dari belenggu pikiran-pikiran. Dan menjauh dari semua hingar bingar suara kehidupan yang menuntut untuk bekerja keras dan bersaing. Kostan yang dulu hangat dan menentramkan, kini sepi dan membosankan.

Selasa malamnya, saat aku janjian ketemu teman, tiba-tiba nafasku berat. Berat yang tak pernah aku alami sebelumnya. Aku bicara seperti habis lari lima keliling lapangan dengan kondisi badanku yang tak pernah dipake olah raga.

Esok paginya aku pergi ke dokter. Beratnya/sesaknya nafas ini katanya masih dari maag. Omegot!!! Dan hari itu, sepertinya Allah mengabulkan do’aku. Aku istirahat di kostan selama dua hari. Jum’at aku masuk kerja. Tapi pulang kerja, si uluhati kembali berteriak, membuat badanku lemes dan kepala pusing. Sabtu minggu kembali aku rehatkan badan.

Karena kondisi kostan yang sedang sepi (orang-orang kostan pada pulang. Tinggal aku berdua sama teman yang masih saja mencuekkanku). Istirahat di kostan kadang menambah kesal. Sakit ini itu, makanan gak ada, pagi siang malam harus makan on time, pengennya ada yang nyediain makanan. Tapi ternyata...? Tak jarang harus menahan sakit uluhati saat mencari makanan.

Dan sampailah pada hari ini, rabu 17 Sept. 2014. Aku masih berlemes-lemes ria di rumah orang tuaku. Kemarin si dokter memberi aku obat tidur. Semalam temanku komentar di FB aku kebanyakan pikiran. Apa karena pikiran-pikiran itu?

Semula aku berpikir untuk sakit karena aku ingin istirahat dari semua hingar bingar dan semua tuntutannya. Sepertinya sekarang inilah saatnya, aku harus istirahat, menata ulang niat dan menata ulang kegiatan yang harus ku jalani.

Dan mungkin karena pikiran-pikiran ini sang dokter memberiku obat tidur. Lucunya hidup si aku ini,,, ;-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar