Aku sakit
maag lagi. Seseorang ngasih komen di FB. Katanya karena aku banyak pikiran. Apa?
Aku mikirin apa?
Sebulan merasakan
bebas dari larangan makanan apapun. Bisa makan kopi, walau dengan prasyarat
tertentu, bisa makan mi rebus dengan prasyarat tertentu, kecuali makanan dan
minuman yang berasaasam. Sebulan juga merasakan senang dan semangat dalam
bekerja, euforia pekerjaan barunya masih terasa. Sebulan waktu itu bagiku
adalah sebulan kemerdekaan yang membahagiakan.
Setelah sebulan
berlalu, pekerjaan bertambah banyak. Perang pikiran mulai terjadi. Antara gak
mau melakukan tugas ini itu dengan perintah si bos untuk melaksanakan ini itu.
Hmm,,,, masih ada perasaan terpendam? Sempat juga kesal dengan sistem
penggajian. Sang istri bos yang kerjaan di kantor ngerjain skripsi atau ngasuh
anaknya tetep dapet gaji yang sama denganku. Sedangkan kerjaanku, harus
mengadministrasikan keuangan (padahal ini kerjaan si istri bos). Akad awalnya
aku diminta bantuan administrasi keuangan. Tapi nyatanya aku semua yang
mengerjakan, kecuali pegang uang dan atmnya saja. Padahal seharusnya pikiran
itu tidak masuk dalam daftar pikiranku. Yang masuk dalam daftar pikiranku
adalah aku haurs kerja dan mendapat penghasilan. Selain ngurus keuangan, juga
jadi notulen kalau ada klien, jadi direktur PSDM yang waktu itu harus banyak
surat yang dibuat, dan juga membuat jurnal. Padahal tugas awal aku saat melamar
pekerjaan adalah membuat jurnal. Membuat jurnal saja kadang membuat kepala
kehilangan keseimbangan karena keras dan seriusnyanya berpikir. Setelah satu
bulan merasakan euforia pekerjaan baru, maka selanjutnya penat dan lelah mulai
terasa.
Lain di
kantor, lain pula persoalan di kostan. Di Agustus minggu kedua, salah satu
temanku menjauhiku, mencuekkanku. Dia tidak banyak bercerita padaku, bahkan
tidak bercerita sama sekali. Padahal sebelumnya, dimana kami bertemu, di sana
dia bercerita panjang lebar. Karena sepotong ayam, atau entah karena do’aku
untuk sedikit menjauhkan dia dariku, maka dia pun menjauhiku. Bukan selama tiga
hari, tapi entah sampai kapan. Kini sudah hampir tiga minggu berlalu, tapi dia
masih bungkam di hadapanku. Karena tidak mau terlalu memikirkan hal ini, maka
aku bersiakap sebiasa mungkin. Bertanya pada dia, ngajak ngobrol sesekali. Tapi
dia masih saja bersikap seperti itu. Semula, sikap dia tak terlalu kupikirkan. Tapi,,,
rasa kesal menguap bersamaan dengan lelahnya pekerjaan di kantor.
Mhq, itu
lain soal lagi. Dari tahun ke tahun, mhq selalu jadi momok yang menyeramkan. Tapi
seseram apapun itu, aku tetap harus menjalankannya. Kenapa merasa seram?? Entahlah.
Aku merasa itu proyek/penjualan yang besar yang aku sendiri gak tahu harus
begaimana menjalankannya.
Masih berpikir
ini dengan logika? TER-LA-LU!!!!!
Lain soal
pekerjaan, lain juga soal hobi dan cita-citaku. Hobi nulis dan cit-cita jadi
penulis membuatku mengagendakan nulis dan membaca dimalam harinya. Setelah siang
hari bekerja, sore bisnis bertemu orang ini itu, dan harinya aku nulis dan
baca-baca. Tidur diagendakan jam 00.00. kadang tidur jam 01.00. kegiatan nulis
dan baca ini kadang membebani juga, satu sisi aku ingin tidur, sisi lain aku
harus nulis dan baca setiap malamnya. Setelah seharian otak dan badan bekerja,
malam hari pun aku masih harus berpikir. Tapi bukankan wajar kalau otak manusia
digunakan untuk berpikir dan bekerja? Belum lagi, di sebuah pelatihan menulis,
minggu ini mengharuskan pesertanya menulis satu artike setiap harinya. Kadang itu
menjadi beban pikiran juga. Tapi beban pikiran yang dinikmati untuk
melakukannya.
Mungkin cuma
empat hal ini yang memberatkan pikiranku. Soal kantor yang mulai melelahkan,
soal teman kostan yang mulai bikin kesal karena sikap cueknya itu, dan soal
maju-ragu langkah dalam mhq, dan soal nulis. Maka aku ingat, di pagi itu, pagi
hari selasa tanggal 9 September 2014, sambil jalan di motor menuju tempat
kerja, aku berpikir, perasaan sudah lama
aku gak sakit. Melakukan istirahat di rumah untuk satu dua hari. Membebaskan pikiran
dari belenggu pikiran-pikiran. Dan menjauh dari semua hingar bingar suara
kehidupan yang menuntut untuk bekerja keras dan bersaing. Kostan yang dulu
hangat dan menentramkan, kini sepi dan membosankan.
Selasa malamnya,
saat aku janjian ketemu teman, tiba-tiba nafasku berat. Berat yang tak pernah
aku alami sebelumnya. Aku bicara seperti habis lari lima keliling lapangan
dengan kondisi badanku yang tak pernah dipake olah raga.
Esok paginya
aku pergi ke dokter. Beratnya/sesaknya nafas ini katanya masih dari maag. Omegot!!!
Dan hari itu, sepertinya Allah mengabulkan do’aku. Aku istirahat di kostan
selama dua hari. Jum’at aku masuk kerja. Tapi pulang kerja, si uluhati kembali
berteriak, membuat badanku lemes dan kepala pusing. Sabtu minggu kembali aku
rehatkan badan.
Karena kondisi
kostan yang sedang sepi (orang-orang kostan pada pulang. Tinggal aku berdua
sama teman yang masih saja mencuekkanku). Istirahat di kostan kadang menambah
kesal. Sakit ini itu, makanan gak ada, pagi siang malam harus makan on time,
pengennya ada yang nyediain makanan. Tapi ternyata...? Tak jarang harus menahan
sakit uluhati saat mencari makanan.
Dan sampailah
pada hari ini, rabu 17 Sept. 2014. Aku masih berlemes-lemes ria di rumah orang
tuaku. Kemarin si dokter memberi aku obat tidur. Semalam temanku komentar di FB
aku kebanyakan pikiran. Apa karena pikiran-pikiran itu?
Semula aku
berpikir untuk sakit karena aku ingin istirahat dari semua hingar bingar dan
semua tuntutannya. Sepertinya sekarang inilah saatnya, aku harus istirahat,
menata ulang niat dan menata ulang kegiatan yang harus ku jalani.
Dan mungkin
karena pikiran-pikiran ini sang dokter memberiku obat tidur. Lucunya hidup si
aku ini,,, ;-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar