Senin, 15 Februari 2016

KEMATIAN SEORANG KAWAN


Adis Irfan Muntaha, adalah salah satu teman sekelasku ketika aku duduk di bangku SMA. Meskipun gayanya agak kemayu, tapi banyak teman yang menyukainya. Dia juga pandai bergaul. Dengan orang tipe seperti apapun sepertinya dia bisa beradaptasi. Dengan dia, aku cukup dekat. Bahkan dia pernah mau menjodohkan aku dengan kawan dekatnya yang sekampung denganku.

Bulan lalu, januari, aku berpapasan dengannya, meskipun hanya dengan klakson motor. Tapi kita sudah saling tersenyum. Rumah kami memang beda kampung, tapi aku sama sekali gak pernah main ke rumahnya. Apalagi setelah aku mengenal Bandung. Tapi yang aku tahu, sebelum-sebelumnya dia pun berkelana, bekerja ke sana kemari. Bahkan pernah kerja di Jakarta. Sepertinya dimana pun dia menetap, dia selalu memiliki banyak teman. Aku menilai seperti ini karena lihat status dan gambar-gambar di FB-nya.

Teman sebaya,,, meskipun bertahun-tahun belum pernah bertemu lagi, tapi tetap saja secara usia merasa dekat. Kini usia kami masih 20an. Masih di bawah 20-lah, meskipun di atas 23, heheee...

Setelah bertahun gak pernah ketemu, lalu bulan kemarin sempat berpapasan, tiba-tiba minggu kemarin aku dengar kabar bahwa dia meninggal. Innalillaahi wa innailaihi rooji’un. Penyebabnya adalah penyakit DBD. Usut punya usut, dia terkena penyakit DBD lalu dirawat di bidan. Setelah beberapa hari diinfus, panasnya pun turun. Karena panasnya mulai turun dan kondisinya mulai normal, maka selang infusan pun dicabut. Tapi siapa sangka setelah selang infusan dicabut bukannya kembali sehat malah dia menghembuskan nafas terakhri. Begitulah berita kronologis yang aku dengar dari temanku mengenai kematian Adis.

Mendengar kabar duka ini, aku sempat sedikit tercengang. Satu kata yang paling memuatku tercengang: KEMATIAN.

Meskipun tak berasa tua, meskipun masih usia 20 tahunan, tapi mendengar kematian Adis membuatku menyadari bahwa kematian tidak bersyarat tua, tidak melihat usia, tidak melihat karakteristik orang, tidak melihat orang itu sedang apa, tidak permisi dulu, tidak ada pemberitahuan dari awal. Kematian, seolah berupa surprise untuk setiap orang yang tidak bisa ditolak atau ditangguhkan.

Berkaca pada diri sendiri. Karena usia masih muda, aku masih seringkali lalai pada kematian. Aku masih saja menyibukkan diri mengejar cita-cita dunia. Padalah dari sisi lain kematian semakin pendekat. Kapan ia akan datang? Entahlah! Siapa orang yang tahu. Bahkan para nabi dan rasul pun tak ada yang tahu perihal kematian seseorang. Kematian, adalah surprise untuk setiap orang. Siap tida siap, punya perbekalan atau belum, jika ia datang, siapa orang yang bisa menolak atau menagguhkan?

Semua harta benda, tahta dan apapun yang diusahakan semaktu hidup, dengan kematian, semuanya telah berakhir. Tak ada lagi yang bisa dilakukan dan juga tak bisa memutar kembali waktu pada masa yang telah berlalu.

Peristiwa ini membuatku merenung: apa yang sudah aku persiapkan untuk menghadapi kematian? Sudah banyakkah amal sholehku sebagai bekal di alam kubur kelak? Seberapa sering aku mengingat kematian selama ini?
****
Selamat jalan kawan... semoga amal ibadah dan kehidupanmu mendapat keridhoan dari Allah.
Bandung, 07 Februari 2016

Jika beragam ide bermunculan lalu berloncatan di dalam pikiran saat aku sedang melakukan sebuah aktivitas, aduh,,,, pusing juga jadinya. Bikin gagal fokus. Misalkan sedang kerja, lalu muncullah ide-ide baru. Maka kerja pun gak bisa fokus. Kesel juga jadinya!
Tapi yang paling bikin kesal jika mata udah di depan layar laptop, jari udah siap jadi perantara ide untuk keluar dari otak, tiba-tiba semua ide membuncah. Puuuusssshhhhh...!!!! Lalu habis semuanya. #Berasa pengen nyubit parade ide itu, datang dan pergi sesuka hatinya aja..!!!

Satu sisi kondisi tersebut aku syukuri. Setidaknya bibit-bibit ide yang mengganggu pikiran akhirnya keluar. Pikiranku jadi save kembali. Tapi di sisi lain sedih juga, hmm... (wajah cemberut). Ide bagiku saat ini adalah hal yang berharga. Pelajaran yang bisa aku ambil dari apa yang aku liat di sekitarku adalah: SESUATU bisa menjadi LEBIH BERHARGA jika memiliki nilai KREATIFITAS. Kreatifitas itu berawal dari IDE. Pisang misalnya. Yang semula harga satuan lima ratus rupiah, tapi jika jadi pisang keju harganya bisa jadi Rp 5.000. Harga pisang bisa meningkat itu karena nilai kreatifitasnya, kan??? So, ide dan kreatifitas merupakan hal yang mahal bagiku. Meskipun saat ini ide-ide itu belum jadi sesuatu yang bernilai uang, tapi dia tetap bernilai bagiku.
Well, kembali ke ide-ide yang bermunculan di otakku. Jadi, jika diuraikan, ide-ide yang muncul itu adalah.... jeng jeenggg......!!!!!

Satu, ide menjadikan instragram sebagai cuhatanku atau tulisan hikmah hasil olahan otakku. Kadang aku membutuhkan media untuk sekedar mengeluarkan isi pikiran yang sesaat. Media ini menjadi begitu urgent jika aku sedang kesal atau merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Ngungkapin pikiran gak mungkin di FB, karen FB aku khususkan untuk motivasi teman-teman dan tulisan hikmah. Curhat di BBM, itu juga gak mungki. BBM aku gunakan untuk memotivasi teman-teman juga. #berasa jadi motivator aja deh, cyiinnn!!!!
Akhirnya, saat sedang shalat terpikirlah sebuah media yang aku butuhkan. INSTAGRAM!!!! (huuuu... tanda shalatnya gak fokus, hhiiiii....).

Dua, cara berkomunikasi dengan lawan jenis. Sering kali aku bingung, bagamimana berkomunikasi dengan lawan jenis. Saat sedang mengerjakan kerjaan di Pusda, seorang laki dan perempuan sedang ngobrol akrab di sebrang meja tempat aku kerja. Sebenarnya hal biasa sih kalau liat laki dan perempuan ngobrol, tapi rasanya melihat dua orang yang di sebrang mejaku itu berbda dengan lainnya. Bedanya adalah si perempuan berkerudung rapi, si laki terlihat berpengetahuan. Suara mereka sih samar-samar terdengar. Tapi dari suara samar-samar itu aku dapat menangkap nada akrab dari pembicaraan mereka. Sebuah ide yang muncul adalah.... bisa aja aku ngobrol dengan lawan jenis itu dengan pendekatan yang akrab. Mungkin menghargai si laki-laki, atau mendengarkan curhatan si laki-laki. Gampang, kan? Tapi kapan yah aku bisa ngobrol dengan laki-lakinya??? #curcoran jomblo, hohohoo....


--- mikir!---loading....---  Tuh, kan, kalau udah di depan NB luppa deh ide-ide itu. Hmm....---
--- setelah berusaha mengingat sambil memejamkan mata, #sok berpikir keras, akhirnya ketemu juga. Tereeeeenggg,,,,---


Tiga, hikmah-hikmah tentang apa yang aku dapatkan hari ini, aku ingin segera menuliskannya ke NB. Tapi masalahnya tadi itu aku sedang fokus mengerjakan pekerjaanku. So, sekarang saat menyempatkan menuliskan ide-ide tulisan itu, semuanya.... HILANG!!! Menyedihkan banget sih.... (manyunin bibir, kesal).

Sebenarnya aku punya kebiasaan untuk mencatat ide apapun yang tiba-tiba muncul kapanpun. Tapi masalahnya kalau sedang nulis atau sedang kerja, jika dipotong nyatet ide yang tiba-tiba muncul bisa bikin ide tulisan yang sedang dikerjakan hilang. Jika kondisi itu terjadi rasanya lebih menyebalkan lagi. Tulisan yang sedang dalam progres sih jelas-jelas sedang dalam proses atau sedang dikerjakan. Saat mengerjakannya, ide sangat dibutuhkan. Seperti halnya senjata saat sedang perang. Kalau sampai ide tulisan yang sedang dalam progres itu hilang juga, itu bikin ngenes banget. Tapi kalau ide yang muncul tiba-tiba dan bukan dalam progres penulisan itu hilang, hal itu bikin ngenes juga. Jadi dua-duanya hilang,  bikin ngenesnya jadi berlipat. Hahaa,,,, berasa jadi orang rakus.

Ide tetaplah ide. Dia berharga dan berharga. Datangnya tiba-tiba dan tanpa permisi, pergi pun tiba-tiba dan tanpa pamit. Ah,,, ide,,, kau itu seperti jaelangkung saja. Ide apapun yang tak tercatat dan menghilang dari pikiranku, semoga kau kembali lagi, Nak!


Bandung, 06 Februari 2016

Privatisasi Oksigen di Alam


Ke BEC? Itu sudah hal yang biasa. Walaupun BEC memiliki gedung baru dan koord bisnis yang baru tapi tetap saja aku sudah pernah memasuki semua hal yang baru itu. Jadi kalau berbicara BEC, seharusnya tak ada yang baru. BEC hanya sebuah mall yang di dalamnya banyak penjual gadget, cafe, resto juga beberapa super market. Betulkan???

Tapi, selalu tak ada kejadian yang tak memiliki maksud apapun. Setiap kejadian pasti mengandung tujuan dan hikmah. Walau kita sebatas bangun tidur pun, ada hikmah di balik itu. Apa yang kawan rasakan saat bangun tidur? Semangat baru? Badan segar? Semangat loyo? Atau badan pegal-pegal??? Padahal tujuan awal Allah membuat kita tertidur adalah agar kita bida beristirahat dari segala rutinitas kehidupan sehari-hari. Betapa tidak? Saat tidur malam, beberapa organ dalam tubuh kita beristirahat saat kita beristirahat. Bukankah itu sebuah kenikmatan? Sehingga saat bangun tidur, setidaknya tubuh terasa sedikit segar. Apakah kekawan pernah merasakan itu?

Balik lagi ke BEC. Ceritanya hari ini aku akan nulis tentang hikmah yang aku dapatkan ketika masuk BEC.
Sepeti yang kawan-kawan ketahui tentang perubahan yang terjadi pada gedung dan bisnis BEC (bagi kekawan yang udah ke BEC lagi yaa... J ), maka tempat parkir pun diubah. Yang dulu hanya satu lantai ke bawah, sekarang mungkin berlantai-lantai (pake kata ‘mungkin’ karena aku parkir di lantai B2). Pas masuk sih gak apa-apa, gak ada masalah yang aku rasakan. Hanya saja aku seram mendengar suara mesin yang bergemuruh di tempat parkir itu. Termasuk tempat parkir bawah lantai yang lain yang ada suara gemuruh mesin. Berasa di film menegangkan macam di film Titanic yang sesi kapalnya mulai bermasalah, hahahaaa... efek imajinasi berlebih ini mah... Hmm... masih mending disuruh melawan hujan deras, petir dan kilat yang menyambar-nyambar deh..

Baiklah, kembali ke BEC! Banyak iklan banget sih, yah?!!

Sesuatu yang berbeda yang mulai aku rasakan adalah ketika akan keluar dari parkiran. Saat masuk parkiran kondisi di B2 masih mending karena gak banyak motor yang lewat. Tapi pas akan keluar dari parkiran, kondisi B2 penuh motor yang mau masuk dan keluar. Yang mau masuk harus ngantri panjang, yang keluar huga harus ngantri panjang. Ada jalur yang posisinya berbelok dan itu membuat jalur yang masuk memotong jalur yang akan keluar. Yang akan keluar juga kalau tidak berbaris dengan rapi bisa memotong jalur yang mau masuk. Karena harus ngantri, aku harus sedikit agak lama di B2.

Untuk semenit dua menit pertama, it’s ok, aku rapopo. Tapi beberapa menit kemudian mulai terasa panas, nafas gak bisa lancar, pusing juga dengan suara gemuruh mesin. Yang paling bikin menyiksa adalah sudah bernafas dengan lancar. Ada sedikit sesak dan nafas yang pendek yang terasa. Karena tak bisa berbuat banyak hal, orang lain juga kemungkinan merasakan hal yang sama, so jalan keluar yang bisa aku lakukan saat itu adalah bersabar untuk mengantri keluar.

Pas keluar dari parkiran,,, oooooohhh,,,, berasa baru dapat udara. Sesak nafas, kondisi panas, telah berubah jadi udara yang segar dan nafas yang lega.   

Keluar dari parkiran satu hal yang terpikirkan: oksigen itu benar-benar penting!!!

Okelah memang selama ini tahu bahwa bernafas membutuhkan oksigen. Oksigen juga dibutuhkan untuk pembakaran. Tapi,,, sadar akan pentingnya oksigen baru kali ini. Tanpa oksigen, betapa sulitnya benafas. Meski berniat menarik nafas yang panjang, tapi tetap saja gak bisa. Meskipun aku tak tahu seberapa penting oksigen bagi sel-sel yang ada di paru-paru, tapi aku tahu dan merasakan betapa pentingnya oksigen untuk bisa benafas dengan lega.

Hal yang lebih mencengangkan adalah.... manusia bisa menghirup oksigen yang ada di alam ini dengan BEBAS. GRATIS. Bayangkan kalau manusia harus membayar oksigen yang ada di alam, berapa banyak uang yang harus dibayarkan?  #silahkan hitung sendiri, yaa...

Lebih hebat lagi, OKSIGEN DI ALAM TIDAK BISA DIPRIVATISASI!!! Minyak bumi, air, mineral, atau apapun yang ada di dalam perut bumi bisa aja di privatisasi oleh segelintir pengusaha. Tapi oksigen di alam... no way! Sepertinya belum ada cara yang bisa digunakan untuk memprivatisasi oksigen.

Pelajaran yang lebih besar lagi:
saking besarnya kasih sayang Allah pada manusia, Allah berikan kebutuhan pokok manusia (oksigen) yang tidak akan habis (kecuali karena kerusakan ekosistem lingkungan) dan tidak bisa dimiliki oleh orang perorang. Oksigen ini juga penting untuk hewan dan tumbuhan. Tapi, hewan dan tumbuhan ini tetap saja Allah ciptakan untuk manusia.  

Bayangkan kalau oksigen bisa dikendalikan penggunaannya oleh segelintir orang seperti halnya emas, mineral dan kandungan bumi lainnya!
Bayangkan kalau manusia harus membayar oksigen yang ada di alam pada piha-pihak tertentu!
Bayangkan kalau oksigen di alam bisa dimasukkan ke dalam tabung-tabung seperti yang ada di rumah sakit atau di pabrik oksigen!
Bayangkan kalau di alam ini tidak ada oksigen yang bisa manusia hirup dengan leluasa!
Mau jadi apa kita????

Maka benar apa kata Allah: Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. An-Nahl:18).
So, masihkah mencari sosok yang baik, perhatian dan penuh kasih sayang melebihi apa yang Allah Berikan???
Masihka diri ini sulit untuk sujud dan berbakti pada Allah???
*****
Robbana, masukanlah kami pada golongan orang-orang yang berbakti kepada-Mu hingga akhri hayat kami. Amin..

Bandung, 05 Februari 2016