Adis Irfan Muntaha, adalah salah
satu teman sekelasku ketika aku duduk di bangku SMA. Meskipun gayanya agak
kemayu, tapi banyak teman yang menyukainya. Dia juga pandai bergaul. Dengan orang
tipe seperti apapun sepertinya dia bisa beradaptasi. Dengan dia, aku cukup
dekat. Bahkan dia pernah mau menjodohkan aku dengan kawan dekatnya yang
sekampung denganku.
Bulan lalu, januari, aku
berpapasan dengannya, meskipun hanya dengan klakson motor. Tapi kita sudah
saling tersenyum. Rumah kami memang beda kampung, tapi aku sama sekali gak
pernah main ke rumahnya. Apalagi setelah aku mengenal Bandung. Tapi yang aku
tahu, sebelum-sebelumnya dia pun berkelana, bekerja ke sana kemari. Bahkan pernah
kerja di Jakarta. Sepertinya dimana pun dia menetap, dia selalu memiliki banyak
teman. Aku menilai seperti ini karena lihat status dan gambar-gambar di FB-nya.
Teman sebaya,,, meskipun
bertahun-tahun belum pernah bertemu lagi, tapi tetap saja secara usia merasa
dekat. Kini usia kami masih 20an. Masih di bawah 20-lah, meskipun di atas 23,
heheee...
Setelah bertahun gak pernah
ketemu, lalu bulan kemarin sempat berpapasan, tiba-tiba minggu kemarin aku
dengar kabar bahwa dia meninggal. Innalillaahi wa innailaihi rooji’un. Penyebabnya
adalah penyakit DBD. Usut punya usut, dia terkena penyakit DBD lalu dirawat di
bidan. Setelah beberapa hari diinfus, panasnya pun turun. Karena panasnya mulai
turun dan kondisinya mulai normal, maka selang infusan pun dicabut. Tapi siapa
sangka setelah selang infusan dicabut bukannya kembali sehat malah dia
menghembuskan nafas terakhri. Begitulah berita kronologis yang aku dengar dari
temanku mengenai kematian Adis.
Mendengar kabar duka ini, aku
sempat sedikit tercengang. Satu kata yang paling memuatku tercengang: KEMATIAN.
Meskipun tak berasa tua, meskipun
masih usia 20 tahunan, tapi mendengar kematian Adis membuatku menyadari bahwa
kematian tidak bersyarat tua, tidak melihat usia, tidak melihat karakteristik
orang, tidak melihat orang itu sedang apa, tidak permisi dulu, tidak ada
pemberitahuan dari awal. Kematian, seolah berupa surprise untuk setiap orang
yang tidak bisa ditolak atau ditangguhkan.
Berkaca pada diri sendiri. Karena
usia masih muda, aku masih seringkali lalai pada kematian. Aku masih saja
menyibukkan diri mengejar cita-cita dunia. Padalah dari sisi lain kematian
semakin pendekat. Kapan ia akan datang? Entahlah! Siapa orang yang tahu. Bahkan
para nabi dan rasul pun tak ada yang tahu perihal kematian seseorang. Kematian,
adalah surprise untuk setiap orang. Siap tida siap, punya perbekalan atau
belum, jika ia datang, siapa orang yang bisa menolak atau menagguhkan?
Semua harta benda, tahta dan
apapun yang diusahakan semaktu hidup, dengan kematian, semuanya telah berakhir.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan dan juga tak bisa memutar kembali waktu pada
masa yang telah berlalu.
Peristiwa ini membuatku merenung:
apa yang sudah aku persiapkan untuk menghadapi kematian? Sudah banyakkah amal
sholehku sebagai bekal di alam kubur kelak? Seberapa sering aku mengingat
kematian selama ini?
****
Selamat jalan kawan... semoga
amal ibadah dan kehidupanmu mendapat keridhoan dari Allah.
Bandung, 07 Februari
2016