Selasa, 11 November 2014

Jual Kue Basah



Hahahaaa,,,, ketahuan yaa motivasi menulisnya masih belum poooool. Tapi, selama masih bisa dilanjut, bukankah itu juga baik? Daripada nggak sama sekali??? So,, cerita kali ini bukan tentang beres-beres kamar blog lagi, melainkan pengalaman pertama jualan kue basah.

Setelah off dari tempat kerja, di-off-kan bukan karena pekerjaanku yang dinilai negatif, tapi karena tempat kerjanya yang bermasalah. Tapi, apapun alasannya aku berhenti dari tempat kerja, yang aku yakini bahwa Allah memiliki rencana lain. Jalan hidupku bukan di perusahaan tempat aku kerja itu. Jalan hidupku adalah di tempat lain. Di pekerjaan yang lain.

Jualan kue basah di pagi hari adalah ide sejak sebelum aku kerja dulu. Tapi dikukus aja. Setelah masuk kerja, ide itu gak kepikiran lagi. Setelah kerja off, pendapatan gak ada, maka ide jualan kue itu dibuka lagi. Tereeeeeenggg,,,, sekaranglah hasilnya.

Target mulainya hari senin 10 Nopember. Dari malam seninnya, pikiran udah tegang aja. Deg-degan. Malu pada orang-orang yang liat aku jualan nanti. Gak PD. Ada pikiran untuk gak jadi jualan, munduraja deeehh... beres perkarakan kalau gak jadi jualan??? Peralatan untuk jualan pun belum sepenuhnya ada. Aku udah minta tolong ke teman untuk nemenin hari pertamaku. Minimalnya nemenin belanja dan duduk di menit pertama saat buka lapak. Tapi, wassalam. Hari senin dengan berbagai rasa itu, akhirnya aku gak jualan. Bangun memang kesiangan. Tapi bukan karena itu intinya aku belum mulai jualan. Melainkan mentalku belum siap.

Hahaa,,,, lebay amet pikirannya. Atau memang pikiran pertama seorang yang akan jualana memang seperti itu???

Hari selasa, hari ini, setelah jatuh di hari target pertama, semangat mulai membara. Tidur diwaktu yang lebih awal. Bangun pun sebelum alarm berbunyi. Sebelum dingin merambahi tubuhku, maka langkah pertama setelah bangun tidur adalah kamar mandi. Yak, mandi terlebih dahulu. Dan memang berhasil, dingin jauh-jauh dari tubuhku walaupun mandi di jam 4 subuh.
Euforia pertama, aku jerit-jerit di motor. Gak percaya pada akhirnya aku akan jadi jualan. Segarnya udara Bandung di jam 5 subuh menambah semangat perjalanan menuju Buah Batu. Euforia kedua karena terlalu senang, pasar kue yang kutuju kelewat. Hahaa... kebanyakan jerit-jerit di motor, pasar kuenya kelewat. Hhmm,,, ;-)

Target jam 6 subuh udah stand by di lapak. Tapi,,, o-em-ji, ban motor pake bocor segala. Pagi-pagi udah mendorong. Dan parahnya, jam 6 pagi tukang tambal ban itu mana ada yang udah buka. Kuketuk pintu tukang tambal ban pertama, gak ada jawaban. Tuh kan, mana ada yang udah buka jam 6 subuh gini? Neng Hafsoh pun kembali ku dorong. Setelah berjalan beberapa meter, kutemukan juga tambal ban yang udah buka. Alhadulillah....

Akhirnya, persoalan rizki biarlah itu urusan Allah. Mau buka lapak siang dengan rizki yang didapatkan seadanya, ya seadanya itulah rizkiku dihari pertama jualan ini.
Melihat mang tambal ban yang sedang membetulkan ban motorku, satu pelajaran yang aku terima. Bahwa rizki setiap orang memang gak akan pernah ketukar. Rizki tukang tambal ban yang disyariatkan padaku, memang harusnya untuk tukang tambal ban bkedua yang aku temu, bukan  tukang tambal ban yang pertama. Pelajaran keduanya adalah bahwa semakin pagi kita berusaha, maka pintu rizki semakin terbuka dan dari arah yang tidak terduga. Makanya rasul bilang bawah setelah subuh malaikat Mikail menebarkan rizki dari Allah.

Ahh,,, semangat! Bocor ban pagi-pagi, keluar uang pagi-pagi, tak ada yang sia-sia. Tak ada yang lepas dari kepengaturan Allah, dan semua kejadian pastinya mengandung pelajaran.
Dan di hari pertama pun, penjualan kue dengan modal 63.000 terjual semua. Eh,, sisa satu biji. Dimakan aku 3 biji. Total jumlah kue yang terjual 53 biji. Alhamdulillah. Bonusnya, aku ditawari nyimpen kue di sebuah kantor atas rekomendasi teman yang kerja di sana. Woowww,,,,,

Bandung, 11 Nopember 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar