Sabtu, 28 Mei 2016

SESI KMO06


TUGAS 2 KMO

10 ide tulisan nonfiksi
1.  Pengaruh televisi bagi masyarakat
2.  Sumber masalah pelecehan seksual
3.  Positif negatif pengaruh internet
4.  Mendidik adik usia 6-12 tahun
5.  Pabrik: antara pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur masyarakat
6.  Untukmu yang ingin putus cinta
7.  Hidup itu seperti berkendara di jalan raya
8.  Untuk-Mu aku berbisnis
9.  Deadline
10.    Tumbuhan obat yang ada di sekitar kita

Selasa, 24 Mei 2016

Kenapa Nulis???


Tulisan adalah kawan karibku sejak aku duduk di SMP. Meski tulisan itu hanya sebuah catatan harian atau curhatan diri, tapi aku telah akrab dengan kegiatan tulis menulis. Pernah satu masa merasa kalau sebelum tidut belum nulis di buku harian, rasanya ada yang kurang. Tanpa memikirkan aturan dalam menulis, bagus atau tidaknya tulisanku, dengan polosnya pikiran dan tangan bisa gampang merangkai kata, hingga berlembar-lembar kertas, bahkan sampai berpuluh buku harian telah terkumpul. Ya... itulah masa-masa pertama aku kenalan dengan kegiatan MENULIS.

Alasan kenapa aku membuat buku harian adalah....

Pertama, terinspirasi dari sinetron. Dalam sebuah sinetron (entah apa judulnya, lupa), si tokoh utama curhat ke buku diary-nya. “Dear diary, hari ini aku....” Itulah adegan monolog si tokoh dengan buku hariannya. Melihat adegan itu, aku pun ingin ikutan membuat buku harian. Dalam imajinasiku, curhat ke buku diary menjadi sesuatu yang indah, menyenangkan, seolah punya teman yang sangat pengertian.

Alasan kedua aku suka nulis diary adalah.... karena aku memiliki teman yang belum sesuai dengan kriteriaku. Dalam berteman, aku ingin punya teman yang pengertian, bicara halus, ngerti agama dan saling memotivasi untuk berbuat baik. Tapi nyatanya, teman yang aku dapatkan malah kebalikannya. Akhirnya, daripada sendirian ya sudahlah,,, berteman iya berteman, tapi aku tak bisa seutuhnya menceritakan masalahku pada teman-teman. Alasannya adalah NGGAK SREG. Akhirnya, apa yang tidak bisa aku ceritakan pada teman-temanku, aku tumpah ruahkan ke buku harian.

Kenakalan di balik wajah polosku (polos waktu masih SMP yaa...) bisa jadi alasan ketigaku nulis diary. Kenakalan,,,, hmmm sungguh aku dulu orang yang munafik. Cita-cita menjadi anak sholeh, tapi pergaulan malah sebaliknya. Karena ayahku disebut ustadz, maka jika di rumah aku bersikap sebaik mungkin. Tapi di sekolah.....

Lain di rumah, lain di sekolah!!!

Karena aku tidak mau kenakalanku diketahui teman-teman (saat itu aku sering jadi juara kelas, jadi aku harus bisa jaga sikap sebagai anak berprestasi juga baik), akhirnya segala kenakalanku, cerita suka, duka, kesal, marah,,, semuanya tercurahkan pada buku harian. Berjam-jam bisa ku habiskan untuk bisa menuliskan semua beban perasaan dan pikiran. Ibuku sering menyuruhku tidur jika sudah jam 21.00. Jika tulisan belum beres, aku matikan lampu kamar, nyalakan lampu belajar, simpan di kasur lalu ditutup oleh selimut. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan cahaya yang cukup untuk menulis. Dalam kegelapan kamar, kadang aku senyam-senyum sendiri, kadang menangis sendiri, kadang catatan kubuat sejelek mungkin jika aku sedang merasa kesal. Tulisan yang diperindah pun tak luput aku lakukan jika sedang merasa berbunga-bunga.

Pengalaman menulis buku harian itu masih terus berlanjut hingga aku duduk di bangku kuliah. Semula, catatan harianku hanya berisi curahan hati saja. Namun sering perkembangan pola pikir, bentuk catatan harian berubah, bukan lagi sebatas curhatan, tapi hikmah yang didapatkan.

Ya,, catatan harianku mulai terarah menjadi catatah hikmah.

Suatu hari, aku pun mengenal istilah dakwah. Lalu muncullah ide untuk berbagi pengalaman dengan menggunakan tulisan. Aku pikir, pengalamanku dimasa lalu sangat berharga. Lebih berharga lagi karena pengalaman itu terekam dalam buku harian. Pengalaman tentang pacaran, melawan orang tua, kabur dari sekolah, jadi wanita yang menyebabkan perkelahian antara dua sekolah dan pengalaman lainnya, kupikir semua pengalaman itu sangat berharga. Tentunya dengan menggunakan kacamata agama.

Dari sejak itulah aku memiliki keinginan untuk jadi seorang penulis. Bahkan perlahan aku meyakinkan diri bahwa hobiku adalah nulis, meski baru nulis buku harian.

Kajian FLP pun aku ikuti. Dari sana keinginan menulis semakin besar. Seorang pemateri waktu itu bercerita tentang penulis-penulis yang mampu merubah pola pikir masyarakat, sebut saja Sayyid Quthb, Charles Darwin, para ilmuwan lainnya tentunya. Hanya dengan tulisan, mereka dapat merubah pemikiran masyarakat luas. Meski raga telah meninggal, namun catatannya tetap memiliki pengaruh.

Ahh,,,, semakin kuat saja niat untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi umat.

Masa-masa skripsi adalah saat pertamakalinya aku ikut lomba cerpen. Cerpen yang dibuat hanya satu malam dan merasa belum sempurna, tiba-tiba saja menjadi juara 1. Apa maksud Allah memberiku takdir seperti itu? Tapi setidaknya, dengan mendapat juara 1 dilangkah pertama dalam dunia fiksi ini lumayan memberikan motivasi untuk terus menulis.

Tiap kali ada lomba cerpen pun aku ikuti. Kalau statusku gak masuk kriteria lomba, maka aku pinjam nama teman yang cocok dengan kriteria lomba. Hasilnya tentu saja ada yang menang ada juga yang gak menang. Banyaknya yang gak menang. Tapi apapun hasilnya, sebut saja semua takdir itu adalah cara Allah mengarahkanku untuk tetap semangat MENULIS.

Kuliah pun beres. Do’aku waktu mencari pekerjaan adalah,,, “ya Allah, aku ingin pekerjaan yang kerjaannya menulis.” Empat bulan berusaha mencari kerjaan, masukin lamaran kesana-sini, intervieuw sana-sini, namun tidak ada yang lolos. Di bulan ramadhan, saat segala do’a yang baik bisa terwujud, seorang teman menawari aku kerja di DPU DT jadi seorang jurnalis. Ahh,,,, rasanya,,,, rasa senang yang digambarkan dalam iklan kopi good d*y pun rasanya tak bisa mendeskripsikan senangku saat itu.

Tapi dan tetapi,,, berita itu hanyalah berita awal yang pekerjaannya bukan menjadi miliku. Karena sebuah sebab, jurnalis di DPU DT aku tinggalkan.

Meninggalkan DPU DT, pekerjaan lain telah Allah siapkan. Aku ditawari kerja di sebuah perusahaan penerbit jurnal internasional. Singkat cerita, itulah pekerjaan yang akhirnya Allah berikan padaku.

Di tempat kerja itu, aku dilatih untuk menyusun jurnal. Sang bos pun selalu menyemangatiku untuk terus menulis. “Dengan memiliki kemampuan menulis, uang bisa menghampiri kita.” Itulah kalimat kesayangan si bos yang sering menyambangi telingaku.

Ahh,,,, apapun itu keuntungan materi dari menulis, yang pasti aku suka menulis.

Kenapa harus nulis?

Karena dengan nulis aku bisa membuat rekaman hidupku dari masa ke masa.
Dengan menulis juga aku bisa ber-amar ma’ruf nahi munkar. Seperti kata rasul, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Atau,,, Imam Al-Ghazali pun pernah berkata, “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!”

Sekali lagi, apa alasan aku nulis?

Jawabannya adalah,,,, aku ingin bisa ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dengan tulisan, dan mengikuti pesan rasul dan sang imam.


Bandung, 25 Mei 2016

Minggu, 08 Mei 2016

(Nulis Dalam Sesi) Malas Nulis


 Berkaitan dengan agenda satu hari satu tulisan yang diposting di grup WA komunitas Blog Aktif Menulis (BAM), inilah tulisan aku hari ini..


Tema tulisan hari ini adalah tulisan bebas. Bebas mau nulis apapun, yang penting nulis aja.


Jika dibebaskan seperti itu, aku sendiri malah suka bingung, mau nulis apa aku ini?


Jam 22.50 baru bisa mantengin leppi. Tangan udah siap menari-nari di atas keyboard. Tapi isi pikiran kosong. Mau nulis apa malam ini?


Nulisin aktivitas hari ini?
Ah,, tak ada yang istimewa. Rapat di Bandung, pergi ke Subang, janjian sama teman, pulang ke rumah.


Mau hal yang istimewa?


Sebenarnya ada hal yang istimewa. Tapi butuh waktu untuk merangkai kata agar tulisan bisa sesuai dengan isi pikiran. Alhasil virus yang melanda adalah... MALAS. Terlebih alokasi waktu nulisku dimalam hari hanya sampai jam 23.00. Jam 23.00 adalah agenda untuk membaca buku yang sedang aku targetkan dibaca bulan ini. So, dengan waktu yang sesingkat itu, apa yang mau aku tulisakan? Apa yang mau aku tuangkan? Melewatkan waktu membaca? Mengingat targetku bulan ini, aku harus pintar-pintar memanaj waktu dan disiplin dalam menjalankan rencana yang sudah aku buat.
Jadi intinya, malam ini aku sedang malas mikir untuk membuat artikel apapun. Meski naskah novel menunggu dengan sabarnya, tapi aku harus tetap belajar disiplin.
Seperti kata walinya Kota Bandung yang kece abis, ayah Emil,,, kesuksesan bisa diraih dengan disiplin. Kalau tidak disiplin, jangan harap bisa sukses. Dan kondisi itu sekarang mulai terasakan. Sering kali target bulanan diri tidak tercapai gara-gara kurang disiplin. Banyak mengulur waktu, banyak menunda pekerjaan, kurang mampu memanaj waktu dengan baik, mengacuhkan skala prioritas yang telah dibuat dan bla-bla-bla-bla lainnya yang membuat diri lalai dari perilaku disiplin. Kalau begitu terus, bagaimana Allah mau mempercayakan kesuksesan padaku?


#Mikir, tah, euyy! ------------ (b. Sunda).


Baiklah. Sudah jam 22.59, saatnya si aku berpisah dengan leppi.




Ini sebenarnya tulisan appa sih?
Gejee bener arahannya...



Ya,,, tulisan ini memang sengaja dibuat geje karena saat mau nulis, dalam pikiran tak ada ide apapun dan arah tulisan yang jelas.
Tulisan ini dibuat hanya untuk mempraktikkan apa yang tertulis dalam buku AA. LAKSANA, bahwa untuk memiliki kemampuan menulis, dekatkanlah otak dengan tangan. Artinya, apapun yang terlintas dalam pikiran sering-seringlah dituliskan.


Bagaimana kalau lagi gak ada ide atau malas mikir untuk mengutarakan isi pikiran?

Tulis aja ‘tak ada ide’ atau ‘lagi malas nulis’ dengan seabreg perasaan yang dirasakan atau pikiran yang melintas. Karena tulisan jelek hari ini lebih baik daripada tidak nulis sama sekali. Kertas berisi tulisan geje lebih baik daripada kertas yang tak diisi sama sekali.
Kecuali kalau yang di depan leppi iTu cinta kebersihan, sampai-sampai tak ingin mengotori file ms.word yang putih bersih dengan noda satu huruf pun.



#Lalu kapan kau akan jadi penulis sukses???



Dan,,, baiklah. Tulisan geje ini selesai!
STOP!!!!


Hasil akhir dari tulisan ini adalah.... tereeeeeenggg,,,, TULISAN INI.....!!!!!

Berawal ada ide tapi malas merangkaikan ide-ide ke dalam bentuk tulisan, terlebih waktu yang mepet, tapi tetap menghasilkan tulisan.

Dan inilah hasil dari berguru pada bukunya AA. LAKSANA... tulisan yang jelek hari ini lebih baik daripada tidak menulis sama sekali.
Kertas yang berisi tulisan ngawur lebih baik daripada kertas kosong tanpa isi.

Semangat menulis,,, semangat untuk terus memperbaiki kemampuan menulislah.


Tak usah mengomentari isi tulisan geje ini. Karena (mungkin) kurang manfaatnya.
#Siapa yang mau ngomentarin yah? Suka narsis sendiri deh..

Tapi, lihatlah hasil tulisan yang berawal dari malas atau gak ada ide, akhirnya tetap bisa membuat tulisan. Dalam file ms. word banyaknya halaman tulisan ini ada dua halaman dengan jumlah huruf sebanyak 563.
Lumayan, kan???
Daripada lumanyun.... #hmm.


Kamu ingin jadi penulis? Ya menulislah!
Kamu ingin jadi penulis hebat, yaa banyak-banyaklah membaca, lalu tuliskan!
Dengan membaca, kita akan mengenal dunia. Dengan menulis kita akan dikenal dunia.
Semangat membaca, semangat menulis,,, semangat menorehkan kata-kata yang mampu memberikan inspirasi pada orang untuk bisa hidup lebih baik lagi!


#STOP, hentikan tulisan ini sebelum mengigau kemana-mana!!!

Gut nait!