Senin, 07 Maret 2016

RINDU (???)

Sepertinya ada sesuatu yang aku rindukan malam ini.
Ada hal yang hari ini terjadi dan mulanya ingin aku tuliskan. Ada cerita dihari ini yang ingin aku abadikan lewat tulisan. Tapi sepertinya sebuah rasa menghalangi pikiranku untuk menuliskan kejadian hari ini. Atau bahkan mungkin semua kejadian hari ini terhapus oleh rasa rindu.
Tapi rindu pada apa?
Rindu pada siapa?
Sebuah rasa yang membuatku ingin bertemu dengan...
Dengan sebuah ketenangan, kenyamanan dan keindahan dalam hidup.
Ada apa dengan si aku malam ini?
Kenapa rasa ini tetiba muncul saat aku ingin menuliskan apa yang aku dapatkan hari ini?
Padahal apa yang aku dapatkan hari ini adalah sebuah kemajuan yang baik untuk rencana usahaku. Tapi kenapa tetiba saja tersandung oleh sebuah rasa RINDU???
*****

Loading ------------  (Ngorek hati. Apa yang sebenarnya terjadi denganku???)

*****
Atau mungkin aku lupakan saja rasa apapun itu yang sedang aku rasakan malam ini. Nyatanya, saat aku korek-korek hati dan pikiran, belum ada jawaban yang tepat tentang rasa yang sedang aku rasakan malam ini. Seandainya berkata tentang rindu, tapi rindu pada apa?

Hanya sebuah ketenangan yang aku rindukan. Entah kenapa malam ini aku merasa aktivitas yang akhir-akhir ini aku lakukan hanyalah sebuah aktivitas, tanpa ruh, tanpa sesuatu yang membuat diri tenang. Semakin banyak mengorek apa yang sedang aku pikirkan, aku malah semakin pusing. Mungkin pikiranku sedang kusut.
Mungkin aku rindu akan suatu masa. Tapi masa apa itu, entahlah!
Kupejamkan mata untuk meyakinkan diri apa yang sebenarnya aku pikirkan. Yang kutemukan adalah beragam cerita dan ingatan yang berebut untuk ku ceritakan.
Ah,,,  entahlah, apa yang terjadi padaku malam ini. Semakin aku pikirkan, malah semakin pusing. Sedangkan detik dan waktu terus berlalu. Satu sisi, target pekerjaan dan target cita-cita terus bermain di depan kening.

Baiklah aku lupakan apa yang sedang penimpa rasaku ini. Rindu yang entah pada siapa, atau pada apa, entahlah, lupakan itu! Lebih baik kembali membuka buku, demi mencapai target usahaku untuk lima bulan mendatang.
*****
 AKU yang sedang..... *gak ngertilah kenapa si aku ini!


Bandung, 07 Maret 2016

Jumat, 04 Maret 2016

Borring dan Mood-nya Menulis


Lama kelamaan, seringkali kehilangan makna dan ide untuk menulis (it’s just me!). Kadang muncul rasa bosan. Apalagi kalau tidak ada tuntutan yang mengharuskan tulisan cepat dirampungkan. Rasanya menulis itu seperti melayang-layang tanpa arahan.

Beberapa orang sudah mengatakan bahwa aku seorang penulis. Satu sisi aku merasa senang. Setidaknya cita-cita untuk jadi seorang penulis telah tercapai. Nyatanya kerjaan aku sekarag emang nulis. Nulis jurnal penelitian. Tapi di sisi lain merasa malu juga, sebab belum punya karya yang bisa dinikmatin oleh orang lain. Baru sebatas FB dan blog yang masih belum konsisten mengisinya.
Katakan saja tahun kemarin aku pernah punya progresan bikin novel. Tapi sampai sekarang pun belum rampung. Ada satu hal penting yang aku belum lakukan mengenai pembuatan novel, mengenal latar novel dengan detail serta tokoh dalam novel. Ah,,, perlu waktu untuk bisa mengenali benar-benar kedua faktor ini. (Ilmu baru nih buat bikin novel: kenali dengan detail latar dan tokoh!).
Kerjaan dari kantor memang tidak setiap hari ada. Kadang seminggu itu satu atau dua naskah saja. Ada masa-masa luang yang bisa saja aku gunakan untuk menggarap novelku ini. Tapi nyatanya sekarang aku malah punya niatan bikin buku yang baru. Buku tentang  keistimewaan salah satu bulan yang ada di tahun hijriah. Target beres bulan Juli, sebab bulan Juli harapannya udah diserahin ke penerbit untuk bisa digunakan di bulan Oktober. Ini buku non-fiksi. Bagaimana kabarnya, entahlah! Setidaknya orang tua tahu kalau aku mau menggarap buku ini. Harusnya untuk mengurangi rasa malu pada orang tua, aku bisa menyelesaikan buku ini. (Harusnya!).
Waktu yang ada rasanya cukup sekali. Empat bulan dengan break down waktu: 1 bulan untuk cari data dan referensi (Maret), tiga bulan berikutnya untuk nyusun buku. Cukup lah yaa,,, dengan intensitas kerjaan dari kantor yang tidak terlalu padat. Atau harus berusaha sungguh-sungguh untuk membereskan buku ini.
Niatan aku bikin buku yang sekarang ini hanya ingin menjadi manusia yang punya karya. Aku tak ingin hidup yang sekedarnya saja. Aku ingin hidup aku bisa menghasilkan sebuah karya, walaupun kecil, walaupun tak bernilai jual, selain skripsi, aku ingin menghasilkan sebuah karya. Jika aku sudah kembali menghadap Allah, setidakanya ada sesuatu yang aku banggakan. Juga pada orang tua. Meskipun aku temasuk orang yang lambat dari sisi motorik/gerak, aku tetap ingin menghasilkan sebuah karya. Mau diapakan hasil karya ku kelak, ahh,,, entahlah, itu terserah Allah. Mau dibikin bernilai jual atau pun tidak, terserah. Yang pasti aku ingin bisa menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi orang banyak.

STOP  membicarakan angan!!

Buku yang mau aku bikin sekarang sebut saja klunya “Dzul”. Bahasannya tentang cinta dan pengorbanan. *Uhuuyyy....
Kayaknya gak sia-sia aku punya pengalaman pacaran di masa remaja. Setidaknya aku mengerti bagaimana sikap dan pikiran seorang yang punya kekasih. Meskipun sudah lama pensiun pacaran, tapi buku harian masa remaja benar-benar bermanfaat sekali.
Dulu, suatu hari aku pernah berpikir, buku harianku yang sekardus, yang ditulis dari mulai SMP sampai kuliah, suatu hari pasti berguna. Saat itu aku belum merasakan manfaat langsung dari buku harianku. Tapi sekarang, nyatanya buku harianku amat bermanfaat. Bahkan mungkin suatu hari nanti aku akan membuat cerita dari buku harianku itu. (So hope... ).
Kalau mengingat kebiasaan nulis buku harian dari mulai SMP sampai sekarang punya hobi nulis, sepertinya aku memang tercipta untuk jadi seorang penulis (*ehemm...). Kalau penulis saja sih udah kesampaian. Buktinya kerjaan aku nulis jurnal dan punya kebiasaan nulis. Tapi kalau jadi penulis yang menghasilkan karya dan menebar manfaat mah emang belum. Dan sepertinya tujuan itu harus mulai dimulai dari sekarang.

Well,,, semangat nulis udah muncul lagi. Padahal waktu bikin tulisan ini aku sedang bingung, apa yang akan aku tuliskan. Tapi sepertinya sekarang udah mulai gak bingung lagi. Semangat untuk nulis kembali muncul!!
Hahaa... konyolnya diriku yang kebingungan mau nulis apa. Padahal di layar NB udah ada sticky note yang berisi apa aja yang harus aku tuliskan. Haa.. konyol bener. Padahal ada lima pesanan cepen yang belum dibikin dari bulan februari kemarin. Ada rencana bikin cerpen untuk dikirim ke media. Ada satu artikel yang harus aku bikin untuk bahan hafalan adikku untuk tes masuk ke sebuah sekolah bulan April depan. Kok masiiiiih sempet kebingungan malam ini mau nulis apa.
Atau mungkin pikiran bingung itu sebagai salah satu gambaran bahwa aku pemalas? Haaa... cerdas tapi pemalas. Apa gunanya?
(Cerdas tapi pemalas adalah penilaian seorang teman terhadapku. Bukan aku sendiri yang ngaku-ngaku yaa....).
Dan nyatanyaa... aku emang pemalas, heuuu... :( 

“Setiap penulis yang baik tahu bagaimana menciptakan sendiri kondisi atau mood yang tepat untuk menulis” (Penerbit Diva Press).

Kalimat itu memang sangat sangat sangat benar adanya. Malam ini aku harus menciptakan mood menulis dengan membuat tulisan yang gak tentu arah ini. Tapi setidaknya dari tulisan yang tak tentu arah ini, aku mendapatkan pengalaman langsung mengenai kalimat yang dibikin oleh admin Penerbit Diva Press yang diposting di FB itu. Hoooopeeeee.... semoga suatu hari kelak aku bisa menghasilkan banyak buku yang bermanfaat bagi masyarakat. Amin...

Bandung, 04 Maret 2016

Rabu, 02 Maret 2016

Nyanian Pengemis Kasih


Malam-malamku, kini berisi nyanyian tentang seorang pengemis kasih pada Sang Penguasa Kasih. Melodinya adalah not-not bernada pengharapan tentang kemurnian cinta. Syairnya berisi kisah seorang perindu yang tengah terusik nafsu dan cinta lain.
Malamnya tak lagi berisi kesejukan kasih.
Siangnya hanya tentang keresahan antara harap dan putus asa.
Matanya tak lagi berbinar semangat kecintaan.
Tergopoh. Terseok. Bahkan sesekali merangkak demi bertemu Sang Penguasa Kasih.

Cerita alam tak lagi tentang kehebatan Sang Pujaan.
Tulisan alam hanya berisikan kata-kata yang bermakna menduakan cinta. Setiap kata tak lagi menjadi sahabat yang mengajarkan pikiran tentang cara memetik kesetiaan. Kata, cerita, sesekali menjadi duri yang dapat menusuk telapak kaki saat melangkah. Ia tak lagi menjadi kawan yang mengantarkanku pada sang Pujaan. Ia adalah duri untuk kaki kecilku!

Bagaimana aku akan menjadi kekasih sejati, jika tunas kesetiaan tak mampu tumbuh dalam ladang hatiku?
Bagaimana penantian akan berbuah manis, jika pupuk yang dipakai hanya menghasilkan rerumputan liar?
Dengan mata yang terhalangi keinginan diri, masih mampukah aku membaca cintanya?

Siangku,,, kini tentang lemahnya kaki dalam perjalanan menuju cintanya.
Nyanyianku, kini tentang ketundukan yang tergores nafsu.


Subang, 03 Maret 2016