Lama
kelamaan, seringkali kehilangan makna dan ide untuk menulis (it’s just me!).
Kadang muncul rasa bosan. Apalagi kalau tidak ada tuntutan yang mengharuskan
tulisan cepat dirampungkan. Rasanya menulis itu seperti melayang-layang tanpa
arahan.
Beberapa
orang sudah mengatakan bahwa aku seorang penulis. Satu sisi aku merasa senang. Setidaknya
cita-cita untuk jadi seorang penulis telah tercapai. Nyatanya kerjaan aku
sekarag emang nulis. Nulis jurnal penelitian. Tapi di sisi lain merasa malu
juga, sebab belum punya karya yang bisa dinikmatin oleh orang lain. Baru sebatas
FB dan blog yang masih belum konsisten mengisinya.
Katakan
saja tahun kemarin aku pernah punya progresan bikin novel. Tapi sampai sekarang
pun belum rampung. Ada satu hal penting yang aku belum lakukan mengenai
pembuatan novel, mengenal latar novel dengan detail serta tokoh dalam novel. Ah,,,
perlu waktu untuk bisa mengenali benar-benar kedua faktor ini. (Ilmu baru
nih buat bikin novel: kenali dengan detail latar dan tokoh!).
Kerjaan
dari kantor memang tidak setiap hari ada. Kadang seminggu itu satu atau dua
naskah saja. Ada masa-masa luang yang bisa saja aku gunakan untuk menggarap
novelku ini. Tapi nyatanya sekarang aku malah punya niatan bikin buku yang
baru. Buku tentang keistimewaan salah
satu bulan yang ada di tahun hijriah. Target beres bulan Juli, sebab bulan Juli
harapannya udah diserahin ke penerbit untuk bisa digunakan di bulan Oktober. Ini
buku non-fiksi. Bagaimana kabarnya, entahlah! Setidaknya orang tua tahu kalau
aku mau menggarap buku ini. Harusnya untuk mengurangi rasa malu pada orang tua,
aku bisa menyelesaikan buku ini. (Harusnya!).
Waktu
yang ada rasanya cukup sekali. Empat bulan dengan break down waktu: 1
bulan untuk cari data dan referensi (Maret), tiga bulan berikutnya untuk nyusun
buku. Cukup lah yaa,,, dengan intensitas kerjaan dari kantor yang tidak terlalu
padat. Atau harus berusaha sungguh-sungguh untuk membereskan buku ini.
Niatan
aku bikin buku yang sekarang ini hanya ingin menjadi manusia yang punya karya. Aku
tak ingin hidup yang sekedarnya saja. Aku ingin hidup aku bisa menghasilkan
sebuah karya, walaupun kecil, walaupun tak bernilai jual, selain skripsi, aku
ingin menghasilkan sebuah karya. Jika aku sudah kembali menghadap Allah,
setidakanya ada sesuatu yang aku banggakan. Juga pada orang tua. Meskipun aku
temasuk orang yang lambat dari sisi motorik/gerak, aku tetap ingin menghasilkan
sebuah karya. Mau diapakan hasil karya ku kelak, ahh,,, entahlah, itu terserah
Allah. Mau dibikin bernilai jual atau pun tidak, terserah. Yang pasti aku ingin
bisa menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi orang banyak.
STOP membicarakan angan!!
Buku
yang mau aku bikin sekarang sebut saja klunya “Dzul”. Bahasannya tentang cinta
dan pengorbanan. *Uhuuyyy....
Kayaknya
gak sia-sia aku punya pengalaman pacaran di masa remaja. Setidaknya aku
mengerti bagaimana sikap dan pikiran seorang yang punya kekasih. Meskipun sudah
lama pensiun pacaran, tapi buku harian masa remaja benar-benar bermanfaat sekali.
Dulu,
suatu hari aku pernah berpikir, buku harianku yang sekardus, yang ditulis dari
mulai SMP sampai kuliah, suatu hari pasti berguna. Saat itu aku belum merasakan
manfaat langsung dari buku harianku. Tapi sekarang, nyatanya buku harianku amat
bermanfaat. Bahkan mungkin suatu hari nanti aku akan membuat cerita dari buku
harianku itu. (So hope... ).
Kalau
mengingat kebiasaan nulis buku harian dari mulai SMP sampai sekarang punya hobi
nulis, sepertinya aku memang tercipta untuk jadi seorang penulis (*ehemm...).
Kalau penulis saja sih udah kesampaian. Buktinya kerjaan aku nulis jurnal dan
punya kebiasaan nulis. Tapi kalau jadi penulis yang menghasilkan karya dan
menebar manfaat mah emang belum. Dan sepertinya tujuan itu harus mulai
dimulai dari sekarang.
Well,,, semangat nulis udah muncul lagi. Padahal
waktu bikin tulisan ini aku sedang bingung, apa yang akan aku tuliskan. Tapi sepertinya
sekarang udah mulai gak bingung lagi. Semangat untuk nulis kembali muncul!!
Hahaa...
konyolnya diriku yang kebingungan mau nulis apa. Padahal di layar NB udah ada sticky
note yang berisi apa aja yang harus aku tuliskan. Haa.. konyol bener. Padahal
ada lima pesanan cepen yang belum dibikin dari bulan februari kemarin. Ada rencana
bikin cerpen untuk dikirim ke media. Ada satu artikel yang harus aku bikin
untuk bahan hafalan adikku untuk tes masuk ke sebuah sekolah bulan April depan.
Kok masiiiiih sempet kebingungan malam ini mau nulis apa.
Atau
mungkin pikiran bingung itu sebagai salah satu gambaran bahwa aku pemalas? Haaa...
cerdas tapi pemalas. Apa gunanya?
(Cerdas
tapi pemalas adalah penilaian seorang teman terhadapku. Bukan aku sendiri yang
ngaku-ngaku yaa....).
Dan
nyatanyaa... aku emang pemalas, heuuu... :(
“Setiap penulis yang baik tahu
bagaimana menciptakan sendiri kondisi atau mood yang tepat untuk menulis”
(Penerbit Diva Press).
Kalimat
itu memang sangat sangat sangat benar adanya. Malam ini aku harus menciptakan
mood menulis dengan membuat tulisan yang gak tentu arah ini. Tapi setidaknya
dari tulisan yang tak tentu arah ini, aku mendapatkan pengalaman langsung
mengenai kalimat yang dibikin oleh admin Penerbit Diva Press yang diposting di
FB itu. Hoooopeeeee.... semoga suatu hari kelak aku bisa menghasilkan banyak
buku yang bermanfaat bagi masyarakat. Amin...
Bandung, 04 Maret 2016