Alhamdulillah
dari satu kepedihan, berbuah rasa dan keyakinan betapa modal terpenting dalam
hidup ini adalah iman, islam dan saudara. Tak ada uang sepeser pun di tangan,
tapi dengan modal keyakinan bahwa Allah-lah Sang Pengurus dan Pengatur rizki
setiap makhluknya, islam yang menjadi motivasi untuk terus melakukan gerakan
dan saudara yang bisa menjadi salah satu jalan rizki, maka kehidupan masih bisa
berlanjut. Benarlah, yang menghidupkan dan mematikan seseorang adalah Allah. Yang
mengatur dapat apa hari ini saya, apakah dapat lapar, dapat irit atau dapat
makanan yang mewah itu pun Allah. Rasa takut akan kekurangan bisa menjadi salah
satu sikap yang membuat diri jauh dan tidak yakin akan adanya kepengaturan Allah.
Dan ini kisahku tentang satu hari yang membuat aku semakin yakin bahwa tidak
perlu terlalu khawatir soal rizki yang belum kita dapatkan, soal perut yang
belum terisi, atau soal berbagai masalah yang membutuhkan uang. Ada Allah,
semua beres!
Pada kesempatan
pulang hari itu, aku berpikir, mudah-mudahan kalau aku pulang ke rumah orang
tua, walaupun Cuma satu hari satu malam, nanti orang tua akan memberi uang saat
aku akan kembali ke Bandung. Tapi, perkiraan tinggallah perkiraan. Saat ku menyalakan
motor untuk berangkat ke Bandung, tak sepeserpu aku dikasih uang. Katanya orang
tua lagi gak ada uang. Bisa saja hari itu aku memutuskan untuk tidak ke
Bandung. Toh aman kan kalau tinggal di rumah dalam kondisi tidak punya uang
seperti itu? Tapi nyatanya, takdir berkehendak aku harus ke Bandung hari itu. Maka
perjalanan rumah sampai Kota Subang pun menjadi perjalanan berurai air mata. Ya,
aku nangis sejadi-jadinya. Nangis, kenapa orang tua ku sampai setega itu padaku
gak memberikan ku uang. Nangis, karena ingin meluapkan segala keusahan yang aku
alami sebelum-sebelumnya: keluar dari kerjaa, uang gaji belum dapet, mau kerja
belum minta, inginnya berwirausaha, tapi untuk awal-awal tentunya aku butuh
biaya juga untuk kelangsungan hidupku. Akhirnya satu kesimpulan yang ku dapat,
mencari uang itu susah! Perjalanan rumah-Kota Subang, menjadi perjalanan
pembebasan berbagai perasan yang memberatkan itu.
Lain perjalanan
rumah-Kota Subang, lain pula perjalanan Kota Subang-Bandung. Pas di sebuah
tanjakan rante motor putus. Kesal sih, tapi tak lama aku berpikir, “ya Allah, sudahlah terserah Engaku, mau Kau
apakan aku ini. Aku gak punya uang, Engkau-lah yang Maha Kaya.” Satu persatu
pertolongan pun datang. Perjalanan Subang-Bandung pun bisa dilanjutkan.
Cerita di
Bandung, jelas berbeda dengan cerita dari dua fase perjalanan sebelumnya. Di Bandung,
dengan modal uang 5000, aku titipkan saja masalah penghidupanku pada Sang
Pemilik kehidupan. Hanya sebuah keyakinan yang menjadi modal besar untuk ku
menetap di Bandung. Hanya dengan satu pengharapan akan Sang Pemelihara
kehidupan yang menjadi modalku hidup di kota orang. Dan hari ini, hari sabtu,
aku telah bisa melewati hari-hari kemarin. Hari minggu aku menginjak Bandung
dengan modal keyakinan dan pengharapan, hari ini aku masih bisa isi perut, bisa
bergerak, bisa bernafas dan bahkan bisa daftar menjadi member sebuah MLM.
Banyak pelajaran
yang aku dapatkan dari pengalaman itu. Aku ingin sebut perjalanan rumah-Kota
Subang-Bandung hari itu sebagai perjalanan 2 pedih 100 kesadaran. pedih karena gak dikash uang dan karena berharap pada orang. Dengan perjalanan
itu aku buang air mata sebanyak-banyaknya karena menyadari betapa mencari uang
itu susah. Menyadari betapa iman,islam dan saudara islam menjadi modal paling
penting dalam hidup. Dan juga menyadari, betapa pengharapan itu hanya milik
Allah. Pengharapan pada manusia bukan hanya soal kecewa atau bahagia, tapi
lebih pada penodaan kelurusa tauhid. Jelas dalam surat al-ikhlas bahwa
Allah-lah tempat meminta harap. Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Itulah
salah satu bentuk tauhid. Jadi, kenapa masih mengharap dan bergantung pada
makhluk yang lemah? Kenapa tidak berharap pada yang memiliki kuasa akan diri???
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang
senantiasa bersyukur dan mengabdi pada-Mu. Amin.