Senin, 27 Oktober 2014

Di Atas Jembatan Keimanan



Kemarin-kemarin aku sering berkata kepada teman-teman, bahwa orang yang beriman itu tidak pernah galau, takut, resah, gelisah dan virus-virus lainnya yang membuat ragu-ragu dalam hidup. Kenapa tidak pernah mengalami hambatan seperti itu? Karena setiap permasalahan yang datang pada diri adalah karena Allah. Jalan keluar pun, Allah yang mengetahuinya. Manusia hanya terbatas pada menjalani, berusaha berdo’a dan sabar, serta tetap istiqomah pada ketaatan pada Allah.

Dalam hal ini termasuk di dalamnya rizki, jodoh, musibah dan hal lainnya yang telah ditentukan untuk setiap manusia sebelum manusia itu dilahirkan ke dunia. Dengan ditentukannya kebutuhan manusia dari awal ini, tujuannya adalah manusia bisa fokus menjalankan tugasnya sebagai manusia (ibadah), bukannya fokus memenuhi kebutuhan hidupnya saja.

Tapi, selalu saja, apa yang dikatakan tidak semudah menjalankannya. Keyakinan akan kepengurusan Allah dalam mencukupi segala kebutuhan diri untuk melangsungkan kehidupan selalu tergoncang. Seperti saat ini.

Selama sebulan ini perusahaan tempat aku bekerja off karena pemiliknya bermasalah dengan pihak Imigrasi. Selama sebulan ini tak ada pikiran untuk mencari pekerjaan lain karena aku pikir mungkin di sana juga masih jalan. Yang terpikirkan oleh ku adalah bagaimana caranya aku bisa berwirausaha. Seandaipun aku harus keluar dari perusahaan tempat ku kerja ini, untuk melamar pekerjaan yang baru rasanya tak terpikirkan sama sekali. Sekalipun terpikirkan, terasa berat. Makanya aku memutuskan untuk berwirausaha saja.

Hari terus berputar, uang di dompet semakin menipis, wirausaha yang dijalankan belum memberikan keuntungan yang mencukupi. Hari ini,,, galau hampir menghampiri. Perasaan udah di ambang keraguan, kegalauan karena uang di dompet semakin menipis. Memang sih bisa saja aku minta uang pada orang tuaku, dan mereka pastinya akan memberi. Tapi harus sampai kapan aku minta uang pada orang tua? Dan kapan aku akan belajar untuk bertanggung jawab dan dewasa? Soo, aku harus belajar menjemput rizki dengan tangan dan kakiku sendiri.
Kenapa sampai galau?

Karena yang dibayangkan adalah kehidupan besok, besok dan besok terus. Bagaimana besok aku akan makan? Bagaimana besok akan hidup??? Hahaa... Makan-kan yang dipikirkan? Padahal belum tentu besok aku masih hidup. Dan bahkan, belum ada jaminan kalau satu atau dua jam kemudia aku masih hidup atau sehat.

Soal makan, hari ini Allah menjawabnya. Untuk hari ini saja makan di pagi hari cukup dengan biaya 4 ribu. Siang hari cukup dengan beli kerupuk seharga seribu. Sore hari, padahal aku membayangkan akan makan di warung makan dengan ayam goreng, ehh ditawari rizki makan gratis dari teman, walaupun cuma dengan sayur dan daging ayam suwir. Hari ini,,, perut amankan??? Hahaa....

Dari pengalaman soal makan ini, satu pelajaran yang aku dapatkan. Janji Allah untuk memenuhi rizki manusia, dalam hal ini rizki untuk mengisi pertu, benar adanya. Soal perut, walau uang di dompet semakin menipis, kadang cukup dengan teman nasi yang sangat-sangat minim atau dapat makanan dari teman. Bukan soal makananya enak gak enak. Tapi bahwa perut tetap terisi dan badan tetap sehat. Itulah salah satu contoh rizki yang pasti dipenuhi. Kalau soal makan yang sederhana bahkan cuma dengan kerupuk saja, yaaa... mungkin hari itu memang itulah rizki yang didapatkan. Kala ada uang cukup bisa makan enak, kala uang semakin menipis, ya tinggal ngirit aja. Tujuan makan saat uang menipis bukan soal enak atau nggak, tapi perut terisi.

Rizki itu tak selamanya berlebih dan membuat kebutuhan kita tercukupi dengan lebih, tapi ada kalanya rizki yang didapat hanya sesuai dengan kebutuhan diri saja. Tapi di balik banyak dan cukupnya rizki yang didapatkan, satu hal yang penting untuk diambil hikmahnya, bahwa Allah telah menjamin rizki untuk setiap manusia.

Jadi, apalagi yang digalaukan???

Hidup kita telah ditentukan jalannya. Kebutuhan-kebutuhan dalam menjalankan kehidupanpun telah tetapkan. Maka, TER-LA-LU, kalau kita malas atau bahkan tidak mau ibadah.

Di atas jembatan keimanan, waktu senantiasa memberikan ujian yang berbeda. Kadang ujian itu berulang, kadang berbeda, tapi kadang ujian yang sama dengan tiupan angin yang semakin kencang. Hanya satu makna dibalik semua ujian itu, mampukah langkah kaki bisa setapak dengan pemahaman yang pada akhirnya melahirkan kesempurnaan iman.

Di atas jembatan keimanan, hanya pengharapan pada Sang Pemilik diri dan jembatan yang bisa kita lakukan, lewat hujan do’a yang tak pernah terputus dan harap yang tak bertepi.

Bandung, 27 Oktober 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar