Selasa, 09 September 2014

KISAH TENTANG HARI INI (home fun MdH part 1)



Bercerita soal hari ini adalah bercerita tentang kepengaturan Allah yang benar-benar di luar kuasa manusia (kuasaku maksudnya.. ;-) ). Juga bercerita tentang sehektar tanah yang Allah berikan atas permintaanku untuk sekuntum mawar. Dan benarlah adanya, bahwa Allah itu memiliki ke-Maha-an yang bisa berkehendak sesuai keinginan-Nya.

Berkenalan dengan kelas menulis ini adalah tentang satu pesan BBM yang masuk ke gedget saya dan nge-share bahwa ada kelas menulis "Menilis dengan Hati". (Ahh,,,, harusnya bukan dari BBM ini muqodimahnya). Muqodimah dari peristiwa hari ini adalah berawal dari cita-citaku untuk menjadi penulis novel. Kenapa ingin menjadi penulis novel? Bagian cerita ini biarlah menjadi kisah tersendiri di cerita dan tulisan lain. Yang saat ini disampaikan adalah tentang kisah hari ini! Ingat itu!!!

Well, setelah BBM masuk, saya pikir ini adalah satu jalan untuk bisa melancarkan usaha menulis saya. Saya akan punya relasi baru, saya punya komunitas yang bisa saling memotivasi dalam hal tulis menulis, bahkan mungkin saya akan dapat jalan untuk menuju pada cita-cita saya ini. So, daftarlah saya di kelas Menulis dengan Hati ini.

Exspektasi (gimana sih nulis ekspektasi???) awal saya masuk kelas menulis ini, saya akan diajarkan tentang tekhnik menulis, seperti yang dulu pernah saya lakukan di sebuah komunitas menulis. Mulanya saya berniat menyediakan buku khusus buat mencatat materi-materi yang akan disampaikan nanti. Biasa,,, salah satu kebiasaan saya dalam tulis menulis adalah suka menggunakan satu buku khusus untuk satu moment yang kira-kira lama dan membutuhkan banyak tulisan. Tapi entah mengapa, Allah Berkehendak buku itu tidak terbeli. Kesiangan, mencari buku yang kosong di kostan gak sempet, mau membeli buku di toko buku pinggiran jalan lupa terus, mau ke Rumah Buku pun masih tutup. Akhirnya, ya sudahlah pakai buku catatan yang sudah ada aja.

Perjalanan berikutnya adalah mencari lokasi. Heuu,,, dimana itu lokasinya. CP’nya tidak memberi alamat yang saya fahami betul. Katanya di Cihaurgeulis (masuk lewat pusda’i). ‘Masuk lewat pusda’i itu saya harus masuk ke kawasan pusda’i atau lewat jalan belakang pusda’i yang suka dijadikan pasar jum’at? Tapi saya pikir itu bukan jalan Cihaurgeulis. Ada lah nama jalan itu, tapi bukan Cihaurgeulis dan apa nama jalannya saya sendiri lupa. Hehee....

Alhasil, saya masuk aja ke kawasan pusda’i. Lalu nanya ke bapak-bapak  yang ada di pos mesjid pusda’i sebelah timur. Pertama nunjukkin arah yang salah, yaitu ke arah jalan surapati lalu nanti masuk gang. Katanya Pondok Almeera itu adalah kost-kostan yang biasa digunakan untuk tempat ngaji. Ada ustadznya dan yang ngekost di sana adalah orang-orangnya atau jama'ahnya. Uweeehhh,,,,????? serem juga!!!!! Biasanya kalau yang ditanyain itu lokasi pengajian, orang udah berpikir, orang ini pasti ikut pengajian itu. Dan memang, pertanyaan itu terlontar dari salah satu mulut si bapak yang ada di sana. Gak mau disebut ikutan ngaji, saya jawab, saya mah cuma mau ikutan pelatihan nulis. Karena katanya ada pelatihan nulis di tempat itu. Untuk meyakinkan ketiga bapak itu, saya tunjukkan deh sms reminder dari CP’nya. Dan setelah menunjukkan sms itu, seorang bapak yang baru nimbrung memberi tahu lokasi yang berbeda, yaitu pondok Almeera yang sebenarnya. Berjalankah aku ke pondok Almeera dengan semangat untuk menerima materi-materi yang nanti akan disampaikan. Kalau gak malu, aku ingin berlari ke pondok Almeera itu sambil berseru girang. Tapiii, sepertinya aku belum siap disebut aneh oleh orang yang belum aku kenal. So, berjalanlah aku dengan semangat dan rasa senang yang terpendam di belakang dada.

Aku yang memiliki otak yang hiperaktif (seneng membayangkan suatu kemungkinan yang akan terjadi/dijalani) telah membayangkn hal-hal yang seru dan semangat dalam kelas itu. Melangkah,,, otak membayangkan hal-hal yang mungkin nanti akan terjadi.

Sampailah aku di Pondok Almeera. Tempatnya nampak seperti rumah biasa. Maksudnya rumah biasa adalah rumah yang digunakan untuk dihuni, bukan rumah yang digunakan khusus untuk pertemuan seperti Aula. Itu adalah hal pertama yang meleset dari bayanganku. Oke,,, tak apa. Aku lanjutkan perjalanan ke lantai 2 sesuai yang ada di petunjuk arah yang ditempel di salah satu tiang rumah itu. 

Ruangan kelas menulis yang aku bayangkan ternyata ruangan kecil yang seukuran kamar kost-kostan. Meleset dari perkiraan lagi, tak apalah. Di ruangan itu, aku melihat dua orang peserta yang tengah duduk manis berdiam-diaman satu sama lain, membuat aku tak sabar ingin kenalan dengan mereka. Kenalan dan ngobrol dengan orang yang baru bagiku adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Dan berkenalanlah aku dengan mereka.

Teeeenggg,,,,!!!!! Waktu kematerian dimulai. Hal yang meleset selanjutnya adalah content kemateriannya. Tapi sebelum ke content, ada hal menarik yang terjadi sebelumnya. Aku diajarkan tentang empat kepribadian manusia. Koleris, sanguin, plegmatis dan melankolis. Pada sesi perkenalan, peserta harus bisa menyebutkan dirinya masuk ke kategori apa. Dulu aku pernah baca sekilas. Tapi hari ini dijelaskan lebih detail (walau gak detail-detail amat. Tpi lumayanlah, gambaran umumnya ada, hahaa).

Kembali ke content! Sebelum masuk pada kematerian, pematerinya terlebih dahulu bilang bahwa dia akan mematahkan ekspektasi-ekspektasi peserta. Oke, viksss, saya sudah siap dipatahkan. Intinya bahwa kelas menulis ini tidak akan mencetak penulis-penulis yang terkenal dan membuat buku bestseller. Bukan! Bukan untuk itu. Tapi dengan kelas menulis ini, beliau (pemateri) bilang bahwa goal dari kelas menulis ini adalah mencetak penulis-penulis yang menulis dengan hati. Dalam artian, penulis yang menulis bukan hanya mengejar bestseller, tapi mengejar keridhon Allah sampai pada akhirnya menulis itu bisa menjadi ibadah.
Terpatahkan?
Tidak!
Semu hal yang dibayangkan memang tidak ada yang terjadi satu pun, selain keakraban saya dengan para peserta lainnya. Tapi, inilah ‘ladang’ yang Allah berikan. Sekuntum mawar yang saya minta, tapi Dia memberikan puluhan pohon (kalau mawar apa sih namanya? Pohon apa batang?) plus dengan ladangnya. Allah memang selalu memiliki rencana lebih indah dari rencana yang kita buat. Dan Allah-lah satu-satunya pengatur hidup kita dan yang tahu hal terbaik untuk kita. 

Ekspektasi terpatahkan, tapi di kelas itu saya merasa diingatkan kembali akan niat saya menjadi seorang penulis. (Soal niat awal menjadi seorang penulis, itu ditulis di sesi/catatan yang lain). Saya bertemu dengan orang-orang baru yang artinya bertambah teman, pasangan saya soulmate kang Ayi padahal maunya teh Ilma, mendapat cerita tentang penulis-penulis yang niat awalnya tidak memiliki niat agar tulisannya dibukukan dan dijadikan film. Dan yang lebih penting adalah, saya yakin, hari ini, di tempat ini, di jam ini, adalah jalan yang Allah aturkan untuk saya menuju pencapaian cita-cita saya. Tak ada kejadian yang kebetulan dan sia-sia, bukan? Biar apa yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi, tapi apa yang didapat tidak terlakahkan oleh serunya kejadian yang sebelumnya dibayangkan.

Saya memang gak tahu efek apa yang akan terjadi nanti dari peristiwa hari ini. Sebelumnya saya mendapat masukan dari teman bahwa untuk mengembangkan kemampuan nulis saya, saya butuh seseorang yang bisa mengarahkan dan menentukan jalur tulisan saya. Saya gak tahu, hasil dari peristiwa hari ini di Pondok Almeera apakah akan  ada seseorang yang saya butuhkan itu? Saya tidak tahu. Tapi, apa yang saya dapatkan, yaitu soal niat menulis, itulah yang paling berharga yang didapatkan dari ruangan kira-kira seluas 3x3 m hari ini.

Ekspektasi terpatahkan, tapi Alhamdulillah saya bisa mersakan betapa Kepengeturan Allah itu lebih indah dan lebih baik. 

Satu kuntum mawar yang saya minta, tapi Dia Memberi saya ladang dan tanaman mawarnya...|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar