Bercerita
soal hari ini adalah bercerita tentang kepengaturan Allah yang benar-benar di
luar kuasa manusia (kuasaku maksudnya.. ;-) ). Juga bercerita tentang sehektar tanah yang Allah berikan atas permintaanku untuk sekuntum mawar. Dan benarlah adanya, bahwa Allah itu
memiliki ke-Maha-an yang bisa berkehendak sesuai keinginan-Nya.
Berkenalan
dengan kelas menulis ini adalah tentang satu pesan BBM yang masuk ke gedget
saya dan nge-share bahwa ada kelas
menulis "Menilis dengan Hati". (Ahh,,,, harusnya bukan dari BBM ini muqodimahnya). Muqodimah dari peristiwa
hari ini adalah berawal dari cita-citaku untuk menjadi penulis novel. Kenapa ingin
menjadi penulis novel? Bagian cerita ini biarlah menjadi kisah tersendiri di
cerita dan tulisan lain. Yang saat ini disampaikan adalah tentang kisah hari ini! Ingat itu!!!
Well,
setelah BBM masuk, saya pikir ini adalah satu jalan untuk bisa melancarkan
usaha menulis saya. Saya akan punya relasi baru, saya punya komunitas yang bisa
saling memotivasi dalam hal tulis menulis, bahkan mungkin saya akan dapat jalan
untuk menuju pada cita-cita saya ini. So, daftarlah saya di kelas Menulis
dengan Hati ini.
Exspektasi
(gimana sih nulis ekspektasi???) awal
saya masuk kelas menulis ini, saya akan diajarkan tentang tekhnik menulis,
seperti yang dulu pernah saya lakukan di sebuah komunitas menulis. Mulanya saya
berniat menyediakan buku khusus buat mencatat materi-materi yang akan
disampaikan nanti. Biasa,,, salah satu kebiasaan saya dalam tulis menulis
adalah suka menggunakan satu buku khusus untuk satu moment yang kira-kira lama dan
membutuhkan banyak tulisan. Tapi entah mengapa, Allah Berkehendak buku itu
tidak terbeli. Kesiangan, mencari buku yang kosong di kostan gak sempet, mau
membeli buku di toko buku pinggiran jalan lupa terus, mau ke Rumah Buku pun
masih tutup. Akhirnya, ya sudahlah pakai buku catatan yang sudah ada aja.
Perjalanan
berikutnya adalah mencari lokasi. Heuu,,, dimana itu lokasinya. CP’nya tidak
memberi alamat yang saya fahami betul. Katanya di Cihaurgeulis (masuk lewat
pusda’i). ‘Masuk lewat pusda’i itu saya harus masuk ke kawasan pusda’i atau
lewat jalan belakang pusda’i yang suka dijadikan pasar jum’at? Tapi saya pikir
itu bukan jalan Cihaurgeulis. Ada lah
nama jalan itu, tapi bukan Cihaurgeulis dan apa nama jalannya saya sendiri
lupa. Hehee....
Alhasil,
saya masuk aja ke kawasan pusda’i. Lalu nanya ke bapak-bapak yang ada di pos mesjid pusda’i sebelah timur.
Pertama nunjukkin arah yang salah, yaitu ke arah jalan surapati lalu nanti
masuk gang. Katanya Pondok Almeera itu adalah kost-kostan yang biasa digunakan
untuk tempat ngaji. Ada ustadznya dan yang ngekost di sana adalah
orang-orangnya atau jama'ahnya. Uweeehhh,,,,????? serem juga!!!!! Biasanya kalau yang ditanyain itu
lokasi pengajian, orang udah berpikir, orang
ini pasti ikut pengajian itu. Dan memang, pertanyaan itu terlontar dari
salah satu mulut si bapak yang ada di sana. Gak mau disebut ikutan ngaji, saya
jawab, saya mah cuma mau ikutan pelatihan
nulis. Karena katanya ada pelatihan nulis di tempat itu. Untuk meyakinkan
ketiga bapak itu, saya tunjukkan deh sms reminder
dari CP’nya. Dan setelah menunjukkan sms itu, seorang bapak yang baru nimbrung
memberi tahu lokasi yang berbeda, yaitu pondok Almeera yang sebenarnya.
Berjalankah aku ke pondok Almeera dengan semangat untuk menerima materi-materi
yang nanti akan disampaikan. Kalau gak malu, aku ingin berlari ke pondok Almeera itu sambil berseru girang. Tapiii, sepertinya aku belum siap disebut aneh oleh orang yang belum aku kenal. So, berjalanlah aku dengan semangat dan rasa senang yang terpendam di belakang dada.
Aku
yang memiliki otak yang hiperaktif (seneng membayangkan suatu kemungkinan yang
akan terjadi/dijalani) telah membayangkn hal-hal yang seru dan semangat dalam
kelas itu. Melangkah,,, otak membayangkan hal-hal yang mungkin nanti akan
terjadi.
Sampailah
aku di Pondok Almeera. Tempatnya nampak seperti rumah biasa. Maksudnya rumah biasa adalah rumah
yang digunakan untuk dihuni, bukan rumah yang digunakan khusus untuk pertemuan
seperti Aula. Itu adalah hal pertama yang meleset dari bayanganku. Oke,,, tak
apa. Aku lanjutkan perjalanan ke lantai 2 sesuai yang ada di petunjuk arah yang
ditempel di salah satu tiang rumah itu.
Ruangan kelas menulis yang aku bayangkan ternyata ruangan kecil yang seukuran kamar
kost-kostan. Meleset dari perkiraan lagi, tak apalah. Di ruangan itu, aku melihat dua orang peserta yang
tengah duduk manis berdiam-diaman satu sama lain, membuat aku tak sabar ingin
kenalan dengan mereka. Kenalan dan ngobrol dengan orang yang baru bagiku adalah
satu hal yang sangat menyenangkan. Dan berkenalanlah aku dengan mereka.
Teeeenggg,,,,!!!!! Waktu kematerian dimulai. Hal yang meleset selanjutnya adalah content kemateriannya. Tapi sebelum ke content, ada hal menarik yang terjadi
sebelumnya. Aku diajarkan tentang empat kepribadian manusia. Koleris, sanguin,
plegmatis dan melankolis. Pada sesi perkenalan, peserta harus bisa menyebutkan
dirinya masuk ke kategori apa. Dulu aku pernah baca sekilas. Tapi hari ini
dijelaskan lebih detail (walau gak detail-detail amat. Tpi lumayanlah, gambaran
umumnya ada, hahaa).
Kembali
ke content! Sebelum masuk pada
kematerian, pematerinya terlebih dahulu bilang bahwa dia akan mematahkan
ekspektasi-ekspektasi peserta. Oke, viksss, saya sudah siap dipatahkan. Intinya
bahwa kelas menulis ini tidak akan mencetak penulis-penulis yang terkenal dan
membuat buku bestseller. Bukan! Bukan untuk itu. Tapi dengan kelas menulis ini,
beliau (pemateri) bilang bahwa goal
dari kelas menulis ini adalah mencetak penulis-penulis yang menulis dengan
hati. Dalam artian, penulis yang menulis bukan hanya mengejar bestseller, tapi mengejar keridhon Allah
sampai pada akhirnya menulis itu bisa menjadi ibadah.
Terpatahkan?
Tidak!
Semu
hal yang dibayangkan memang tidak ada yang terjadi satu pun, selain keakraban
saya dengan para peserta lainnya. Tapi, inilah ‘ladang’ yang Allah berikan.
Sekuntum mawar yang saya minta, tapi Dia memberikan puluhan pohon (kalau mawar
apa sih namanya? Pohon apa batang?) plus
dengan ladangnya. Allah memang selalu memiliki rencana lebih indah dari rencana
yang kita buat. Dan Allah-lah satu-satunya pengatur hidup kita dan yang tahu
hal terbaik untuk kita.
Ekspektasi
terpatahkan, tapi di kelas itu saya merasa diingatkan kembali akan niat saya
menjadi seorang penulis. (Soal niat awal
menjadi seorang penulis, itu ditulis di sesi/catatan yang lain). Saya
bertemu dengan orang-orang baru yang artinya bertambah teman, pasangan saya soulmate
kang Ayi padahal maunya teh Ilma, mendapat cerita tentang penulis-penulis yang
niat awalnya tidak memiliki niat agar tulisannya dibukukan dan dijadikan film.
Dan yang lebih penting adalah, saya yakin, hari ini, di tempat ini, di jam ini, adalah
jalan yang Allah aturkan untuk saya menuju pencapaian cita-cita saya. Tak
ada kejadian yang kebetulan dan sia-sia, bukan? Biar apa yang terjadi tidak
sesuai dengan ekspektasi, tapi apa yang didapat tidak terlakahkan oleh serunya
kejadian yang sebelumnya dibayangkan.
Saya
memang gak tahu efek apa yang akan terjadi nanti dari peristiwa hari ini.
Sebelumnya saya mendapat masukan dari teman bahwa untuk mengembangkan kemampuan
nulis saya, saya butuh seseorang yang bisa mengarahkan dan menentukan jalur
tulisan saya. Saya gak tahu, hasil
dari peristiwa hari ini di Pondok Almeera apakah akan ada seseorang yang saya butuhkan itu? Saya
tidak tahu. Tapi, apa yang saya dapatkan, yaitu soal niat menulis, itulah yang
paling berharga yang didapatkan dari ruangan kira-kira seluas 3x3 m hari ini.
Ekspektasi
terpatahkan, tapi Alhamdulillah saya bisa mersakan betapa Kepengeturan Allah
itu lebih indah dan lebih baik.
Satu
kuntum mawar yang saya minta, tapi Dia Memberi saya ladang dan tanaman
mawarnya...|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar