Tulisan adalah kawan karibku
sejak aku duduk di SMP. Meski tulisan itu hanya sebuah catatan harian atau
curhatan diri, tapi aku telah akrab dengan kegiatan tulis menulis. Pernah satu
masa merasa kalau sebelum tidut belum nulis di buku harian, rasanya ada yang
kurang. Tanpa memikirkan aturan dalam menulis, bagus atau tidaknya tulisanku,
dengan polosnya pikiran dan tangan bisa gampang merangkai kata, hingga
berlembar-lembar kertas, bahkan sampai berpuluh buku harian telah terkumpul. Ya...
itulah masa-masa pertama aku kenalan dengan kegiatan MENULIS.
Alasan kenapa aku membuat buku
harian adalah....
Pertama, terinspirasi dari
sinetron. Dalam sebuah sinetron (entah apa judulnya, lupa), si tokoh utama
curhat ke buku diary-nya. “Dear diary, hari ini aku....” Itulah
adegan monolog si tokoh dengan buku hariannya. Melihat adegan itu, aku pun
ingin ikutan membuat buku harian. Dalam imajinasiku, curhat ke buku diary
menjadi sesuatu yang indah, menyenangkan, seolah punya teman yang sangat
pengertian.
Alasan kedua aku suka nulis diary
adalah.... karena aku memiliki teman yang belum sesuai dengan kriteriaku. Dalam
berteman, aku ingin punya teman yang pengertian, bicara halus, ngerti agama dan
saling memotivasi untuk berbuat baik. Tapi nyatanya, teman yang aku dapatkan
malah kebalikannya. Akhirnya, daripada sendirian ya sudahlah,,, berteman iya
berteman, tapi aku tak bisa seutuhnya menceritakan masalahku pada teman-teman. Alasannya
adalah NGGAK SREG. Akhirnya, apa yang tidak bisa aku ceritakan pada
teman-temanku, aku tumpah ruahkan ke buku harian.
Kenakalan di balik wajah polosku (polos
waktu masih SMP yaa...) bisa jadi alasan ketigaku nulis diary. Kenakalan,,,,
hmmm sungguh aku dulu orang yang munafik. Cita-cita menjadi anak sholeh, tapi
pergaulan malah sebaliknya. Karena ayahku disebut ustadz, maka jika di rumah
aku bersikap sebaik mungkin. Tapi di sekolah.....
Lain di rumah, lain di sekolah!!!
Karena aku tidak mau kenakalanku
diketahui teman-teman (saat itu aku sering jadi juara kelas, jadi aku harus
bisa jaga sikap sebagai anak berprestasi juga baik), akhirnya segala
kenakalanku, cerita suka, duka, kesal, marah,,, semuanya tercurahkan pada buku
harian. Berjam-jam bisa ku habiskan untuk bisa menuliskan semua beban perasaan
dan pikiran. Ibuku sering menyuruhku tidur jika sudah jam 21.00. Jika tulisan
belum beres, aku matikan lampu kamar, nyalakan lampu belajar, simpan di kasur
lalu ditutup oleh selimut. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan cahaya yang
cukup untuk menulis. Dalam kegelapan kamar, kadang aku senyam-senyum sendiri,
kadang menangis sendiri, kadang catatan kubuat sejelek mungkin jika aku sedang
merasa kesal. Tulisan yang diperindah pun tak luput aku lakukan jika sedang
merasa berbunga-bunga.
Pengalaman menulis buku harian
itu masih terus berlanjut hingga aku duduk di bangku kuliah. Semula, catatan
harianku hanya berisi curahan hati saja. Namun sering perkembangan pola pikir,
bentuk catatan harian berubah, bukan lagi sebatas curhatan, tapi hikmah yang
didapatkan.
Ya,, catatan harianku mulai
terarah menjadi catatah hikmah.
Suatu hari, aku pun mengenal
istilah dakwah. Lalu muncullah ide untuk berbagi pengalaman dengan menggunakan tulisan.
Aku pikir, pengalamanku dimasa lalu sangat berharga. Lebih berharga lagi karena
pengalaman itu terekam dalam buku harian. Pengalaman tentang pacaran, melawan
orang tua, kabur dari sekolah, jadi wanita yang menyebabkan perkelahian antara
dua sekolah dan pengalaman lainnya, kupikir semua pengalaman itu sangat
berharga. Tentunya dengan menggunakan kacamata agama.
Dari sejak itulah aku memiliki
keinginan untuk jadi seorang penulis. Bahkan perlahan aku meyakinkan diri bahwa
hobiku adalah nulis, meski baru nulis buku harian.
Kajian FLP pun aku ikuti. Dari sana
keinginan menulis semakin besar. Seorang pemateri waktu itu bercerita tentang
penulis-penulis yang mampu merubah pola pikir masyarakat, sebut saja Sayyid
Quthb, Charles Darwin, para ilmuwan lainnya tentunya. Hanya dengan tulisan,
mereka dapat merubah pemikiran masyarakat luas. Meski raga telah meninggal,
namun catatannya tetap memiliki pengaruh.
Ahh,,,, semakin kuat saja niat
untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi umat.
Masa-masa skripsi adalah saat
pertamakalinya aku ikut lomba cerpen. Cerpen yang dibuat hanya satu malam dan
merasa belum sempurna, tiba-tiba saja menjadi juara 1. Apa maksud Allah
memberiku takdir seperti itu? Tapi setidaknya, dengan mendapat juara 1 dilangkah
pertama dalam dunia fiksi ini lumayan memberikan motivasi untuk terus menulis.
Tiap kali ada lomba cerpen pun
aku ikuti. Kalau statusku gak masuk kriteria lomba, maka aku pinjam nama teman
yang cocok dengan kriteria lomba. Hasilnya tentu saja ada yang menang ada juga
yang gak menang. Banyaknya yang gak menang. Tapi apapun hasilnya, sebut saja
semua takdir itu adalah cara Allah mengarahkanku untuk tetap semangat MENULIS.
Kuliah pun beres. Do’aku waktu
mencari pekerjaan adalah,,, “ya Allah, aku ingin pekerjaan yang kerjaannya
menulis.” Empat bulan berusaha mencari kerjaan, masukin lamaran kesana-sini,
intervieuw sana-sini, namun tidak ada yang lolos. Di bulan ramadhan, saat
segala do’a yang baik bisa terwujud, seorang teman menawari aku kerja di DPU DT
jadi seorang jurnalis. Ahh,,,, rasanya,,,, rasa senang yang digambarkan dalam
iklan kopi good d*y pun rasanya tak bisa mendeskripsikan senangku saat itu.
Tapi dan tetapi,,, berita itu
hanyalah berita awal yang pekerjaannya bukan menjadi miliku. Karena sebuah
sebab, jurnalis di DPU DT aku tinggalkan.
Meninggalkan DPU DT, pekerjaan
lain telah Allah siapkan. Aku ditawari kerja di sebuah perusahaan penerbit
jurnal internasional. Singkat cerita, itulah pekerjaan yang akhirnya Allah
berikan padaku.
Di tempat kerja itu, aku dilatih
untuk menyusun jurnal. Sang bos pun selalu menyemangatiku untuk terus menulis. “Dengan
memiliki kemampuan menulis, uang bisa menghampiri kita.” Itulah kalimat
kesayangan si bos yang sering menyambangi telingaku.
Ahh,,,, apapun itu keuntungan
materi dari menulis, yang pasti aku suka menulis.
Kenapa harus nulis?
Karena dengan nulis aku bisa
membuat rekaman hidupku dari masa ke masa.
Dengan menulis juga aku bisa ber-amar
ma’ruf nahi munkar. Seperti kata rasul, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Atau,,, Imam Al-Ghazali pun
pernah berkata, “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka
menulislah!”
Sekali lagi, apa alasan aku
nulis?
Jawabannya adalah,,,, aku ingin
bisa ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dengan tulisan, dan
mengikuti pesan rasul dan sang imam.
Bandung, 25 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar