Kamis, 18 September 2014

KINAN,, KUNYALAKAN PURNAMA BARU



Katanya, siang itu tubuhku terapung, mengambang dan hanyut oleh aliran sungai. Jauh dari negeri ku, jauh dari kampung halamanku, dan tentunya jauh dari orang tua yang hanya tahu memberi aku uang tanpa tahu apa yang aku butuhkan.

Bersama mereka, dunia tak pernah seindah saat kumelihat wajah teduhmu. Yaa... sudah 17 tahun aku bersama mereka. Seatap, sedinding rumah, sehalaman bermain. Tapi kami tak pernah semeja makan. Mata kami tak pernah saling tatap. Hanya kesibukan yang mereka pentingkan, dibanding aku, sang anak yang sedang mengemis perhatian. Salahkah jika saat itu aku jatuh hati kepadamu?

Hari itu, hari di saat tanganku bergetar menunggu uluran tanganmu untuk menerima suratku, adalah hari dimana aku merasakan kebebasan dari belenggu kebosanan. Wajah-wajah sibuk dan suram ayah ibu tergantikan sudah oleh wajah polosmu yang tak bisa aku jabarkan maknanya. Tapi tetap! Aku tetap merasakan kebebasan itu. Setelah menerima surat itu, kau memang berjalan membelakangiku tanpa ragu. 
Seperti biasa, kau berjalan dengan irama langkah yang seimbang. Tidak pelan, juga tidak tergesa-gesa. Tpi apa kau tahu apa yang aku rasakan? Aku seperti baru hidup, setelah sekian lama menjadi mayat hidup yang tak memiliki perasaan. Rumahku seperti kuburan yang tak sepi. Berapapun lampu rumah yang terpasang, namun tak dapat menerangi hati dan perasaanku. Kaulah nafas yang baru saja kuhirup. Kau, cahaya dalam labirin gelap yang tak berujung.

Di gubuk bambu yang dihuni oleh seorang kakek, hari itu aku terbaring lemes. Kakek itulah yang telah membawa tubuhkuku dari aliran sungai ke kamar kecil berdinding bambu ini. Kuharap, wajahmu yang pertama kali kulihat saat aku membuka mataku. Aku tak membutuhkan belaian tanganmu pada wajahku yang terlihat pusat pasi. Bagiku itu terlalu berlebih. Melihat kau ada di depan mataku saja saat ku terbangun saja, bagiku sudah cukup. Tapi,,, siang itu kau tidak ada. Dan aku tak tahu, hari itu dimana kau berada. Bahkan aku sendiri tidak tahu, dimana aku berada siang itu. Hanya bilik bambu dan seorang kakek yang aku lihat siang itu.

Kinan,,, kau tahu, sejak kakek itu membawaku ke gubuknya sampai saat ini, aku masih di sini. Entah telah berapa purnama aku lewati di gubuk ini. Setiap hari kakek mengajakku ke ladangnya. Merawat sayuran yang ia tanam. Menyiraminya, memberi pupuk, kadang kami membersihkan rerumputan yang turut tumbuh di sekitar tanaman sayur yang kakek tanam. Kakek itu hanya tinggal seorang diri di gubuk bambu kecilnya. Bahkan bukan di gubuk bambunya saja ia sendirian, tapi di tepi hutan yang jauh dari perkampungan lainnya. Yaa,,, kakek itu memutuskan untuk hidup sendiri di gubuk reotnya yang dibangun di  ujung hutan. Jauh dari keramaian, jauh dari kampung halamannya, jauh dari sanak saudaranya. Dia sendirian, Kinan. Selama hampir sepuluh tahun dia hanya hidup bersama ladang sayuran yang dia buat.

Kinan, ini aku, Dean, yang dulu sangat mencintaimu dan menjadikan kau cahaya dalam rumah dan ruang hatiku. Ini aku yang dulu sangat berharap akan selalu melihat senyumanmu setiap hari. Senyumu, adalah mantra penenang hatiku. Ini aku yang dahulu, saat kita sama-sama duduk di bangku SMA berjanji akan senantiasa mencintaimu. Saat seragam putih abu bersaksi betapa dadaku setiap hari berdebar sebelum melihat wajahmu. Kau tahu itu?

Tapi, di bawah purnama malam ini, aku meminta maafmu yang sebesar mungkin. Kau boleh sekali bilang aku seorang pembohong. Karena saat ini, maaf, penerang hatiku bukan lagi Kinan yang dahulu kucinta. Purnamaku bukan lagi senyum indahmu yang kau berikan saat betapa aku merindukanmu. Cintaku, sampai serpihannya pun tak bisa lagi ke berikan padamu. Kau tahu, Kinan? Aku,,, telah mencintai selain kamu. Aku kejamkah? Baiklah. Kau boleh membenciku.

Tapi, sebelum kau membenciku maukah kau mendengarkan siapa yang aku cintai ini? Aku ceritakan bukan untuk membuatmu sakit hati. Tapi, aku ceritakan ini, agar kau terlepas dari sakit hati juga.
Kau tahu siapa pencipta purnama yang malam ini sedang ku pandangi? Kau tahu saiapa yang telah menciptakan rasa cinta dan sayang dalam hati kita? tahu kah kau siapa yang telah membuat kau dan aku ada, bertemu, berkirim surat, lalu aku terjun ke sungai dan terdampar di gubuk bambu ini. Kau tahu siapa?
Ya, itulah matahariku saat ini. Itulah purnama dalam gelapku saat ini. Itulah lentera dalam jalan yang kutiti saat ini. Tenaga dalam lemahku, asa dalam harapku, tujuan dalam langkah hidupku. Kau tahu siapa itu?

Aku memang pernah memberimu cinta. Tapi cinta Dia tak sebesar cinta yang aku berikan padamu. Darimu, akupun pernah merasakan sayang, tapi tak sayang Dia tak bisa disaingi siapapun.

Kinan, aku telah memutuskan cintaku padamu, dan menolak cintamu padaku. Tapi setelah ini, aku akan mengajakmu pada cinta yang tiada akhir dan tak terukur. Kita satukan lagi langkah kita, walau tak lagi bersama. Kita satukan cinta kita pada sang pemilik cinta. Biarlah Dia yang mengatur akan dibawa kemana cinta kita ini.

Di bawah purnama malam ini, kau mereduk di mataku. Tapi bukan untuk memadamkan cintamu. Melainkan menyalakan cinta lain yang lebih abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar