Katanya, siang itu tubuhku terapung, mengambang dan
hanyut oleh aliran sungai. Jauh dari negeri ku, jauh dari kampung halamanku,
dan tentunya jauh dari orang tua yang hanya tahu memberi aku uang tanpa tahu
apa yang aku butuhkan.
Bersama mereka, dunia tak pernah seindah saat
kumelihat wajah teduhmu. Yaa... sudah 17 tahun aku bersama mereka. Seatap,
sedinding rumah, sehalaman bermain. Tapi kami tak pernah semeja makan. Mata kami
tak pernah saling tatap. Hanya kesibukan yang mereka pentingkan, dibanding aku,
sang anak yang sedang mengemis perhatian. Salahkah jika saat itu aku jatuh hati
kepadamu?
Hari itu, hari di saat tanganku bergetar menunggu
uluran tanganmu untuk menerima suratku, adalah hari dimana aku merasakan
kebebasan dari belenggu kebosanan. Wajah-wajah sibuk dan suram ayah ibu
tergantikan sudah oleh wajah polosmu yang tak bisa aku jabarkan maknanya. Tapi tetap!
Aku tetap merasakan kebebasan itu. Setelah menerima surat itu, kau memang
berjalan membelakangiku tanpa ragu.
Seperti biasa, kau berjalan dengan irama
langkah yang seimbang. Tidak pelan, juga tidak tergesa-gesa. Tpi apa kau tahu
apa yang aku rasakan? Aku seperti baru hidup, setelah sekian lama menjadi mayat
hidup yang tak memiliki perasaan. Rumahku seperti kuburan yang tak sepi. Berapapun
lampu rumah yang terpasang, namun tak dapat menerangi hati dan perasaanku. Kaulah
nafas yang baru saja kuhirup. Kau, cahaya dalam labirin gelap yang tak
berujung.
Di gubuk bambu yang dihuni oleh seorang kakek, hari
itu aku terbaring lemes. Kakek itulah yang telah membawa tubuhkuku dari aliran
sungai ke kamar kecil berdinding bambu ini. Kuharap, wajahmu yang pertama kali
kulihat saat aku membuka mataku. Aku tak membutuhkan belaian tanganmu pada
wajahku yang terlihat pusat pasi. Bagiku itu terlalu berlebih. Melihat kau ada
di depan mataku saja saat ku terbangun saja, bagiku sudah cukup. Tapi,,, siang
itu kau tidak ada. Dan aku tak tahu, hari itu dimana kau berada. Bahkan aku
sendiri tidak tahu, dimana aku berada siang itu. Hanya bilik bambu dan seorang
kakek yang aku lihat siang itu.
Kinan,,, kau tahu, sejak kakek itu membawaku ke
gubuknya sampai saat ini, aku masih di sini. Entah telah berapa purnama aku
lewati di gubuk ini. Setiap hari kakek mengajakku ke ladangnya. Merawat sayuran
yang ia tanam. Menyiraminya, memberi pupuk, kadang kami membersihkan rerumputan
yang turut tumbuh di sekitar tanaman sayur yang kakek tanam. Kakek itu hanya
tinggal seorang diri di gubuk bambu kecilnya. Bahkan bukan di gubuk bambunya
saja ia sendirian, tapi di tepi hutan yang jauh dari perkampungan lainnya. Yaa,,,
kakek itu memutuskan untuk hidup sendiri di gubuk reotnya yang dibangun di ujung hutan. Jauh dari keramaian, jauh dari
kampung halamannya, jauh dari sanak saudaranya. Dia sendirian, Kinan. Selama hampir
sepuluh tahun dia hanya hidup bersama ladang sayuran yang dia buat.
Kinan, ini aku, Dean, yang dulu sangat mencintaimu
dan menjadikan kau cahaya dalam rumah dan ruang hatiku. Ini aku yang dulu
sangat berharap akan selalu melihat senyumanmu setiap hari. Senyumu, adalah
mantra penenang hatiku. Ini aku yang dahulu, saat kita sama-sama duduk di
bangku SMA berjanji akan senantiasa mencintaimu. Saat seragam putih abu
bersaksi betapa dadaku setiap hari berdebar sebelum melihat wajahmu. Kau tahu
itu?
Tapi, di bawah purnama malam ini, aku meminta maafmu
yang sebesar mungkin. Kau boleh sekali bilang aku seorang pembohong. Karena
saat ini, maaf, penerang hatiku bukan lagi Kinan yang dahulu kucinta. Purnamaku
bukan lagi senyum indahmu yang kau berikan saat betapa aku merindukanmu. Cintaku,
sampai serpihannya pun tak bisa lagi ke berikan padamu. Kau tahu, Kinan? Aku,,,
telah mencintai selain kamu. Aku kejamkah? Baiklah. Kau boleh membenciku.
Tapi, sebelum kau membenciku maukah kau mendengarkan
siapa yang aku cintai ini? Aku ceritakan bukan untuk membuatmu sakit hati. Tapi,
aku ceritakan ini, agar kau terlepas dari sakit hati juga.
Kau tahu siapa pencipta purnama yang malam ini
sedang ku pandangi? Kau tahu saiapa yang telah menciptakan rasa cinta dan
sayang dalam hati kita? tahu kah kau siapa yang telah membuat kau dan aku ada,
bertemu, berkirim surat, lalu aku terjun ke sungai dan terdampar di gubuk bambu
ini. Kau tahu siapa?
Ya, itulah matahariku saat ini. Itulah purnama dalam
gelapku saat ini. Itulah lentera dalam jalan yang kutiti saat ini. Tenaga dalam
lemahku, asa dalam harapku, tujuan dalam langkah hidupku. Kau tahu siapa itu?
Aku memang pernah memberimu cinta. Tapi cinta Dia
tak sebesar cinta yang aku berikan padamu. Darimu, akupun pernah merasakan
sayang, tapi tak sayang Dia tak bisa disaingi siapapun.
Kinan, aku telah memutuskan cintaku padamu, dan
menolak cintamu padaku. Tapi setelah ini, aku akan mengajakmu pada cinta yang
tiada akhir dan tak terukur. Kita satukan lagi langkah kita, walau tak lagi
bersama. Kita satukan cinta kita pada sang pemilik cinta. Biarlah Dia yang
mengatur akan dibawa kemana cinta kita ini.
Di bawah purnama malam ini, kau mereduk di mataku. Tapi
bukan untuk memadamkan cintamu. Melainkan menyalakan cinta lain yang lebih
abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar