------ bersih-bersih
-----
--------------------------------
-----------------------------------
-------------------------
---------------------------
Huftt...
capek nyooo,,, Rumah (blog) teh
dibuat, lalu ditinggalkan. Dibersihkan, lalu ditinggalkan. Dibersihkan lagi,
lalu ditinggalkan lagi. Hahaa,,,, terlihat banget belum kuat niatnya.
Tapi
bagiku, tak masalah seberapa kali kita jatuh, yang penting adalah seberapa kali
kita bangkit. Seribu kali jatuh dengan seribu kali bangkit, pasti orang tersebut
telah kaya. Kaya akan pengetahuan dan lebih cerdas lagi dalam melangkah.
All right!
Berhenti membicarakan soal bersih-bersih dan jatuh bangun. Biarkan itu menjadi
satu rasa asam manis dalam kehidupan. Yang terpenting yang akan aku tulis saat
ini adalah tentang suatu pengalaman yang benar-benar baru dan aku sama sekali
belum pernah mengalami kondisi ini. Rasanya gelap. Kalimat yang paling kusukai
dalam perjalanan ini adalah “aku tidak tahu apa-apa soal ini”.
Tentang
apa pengalaman itu?
Tentang
usaha furniture dan komunitas menulis yang akan aku bangun. Huuuftt....
Furniture.
Berawal dari ide yang tiba-tiba muncul. Seiring bergantinya hari, satu persatu
informasi dari teman-teman bermunculan. Ya bikin web lah, ya bikin fans page
lah, ya bikin bisnis plan lah, yaaa,,,, berbagai saran dan masukan dari
teman-teman yang mendengar ceritaku bermunculan. Berbagai saran dan masukan itu
awalnya aku ttampung dulu. Tak ada rencana, tak ada tindak lanjut. Hanya
berjalan mengikuti saran teman-temanku. Modal belum ada foto-foto belum ada,
apapun belum ada. Saat itu rasanya ringan sekali. Mau usaha furniture, tapi gak
ada rencana sama sekali. Gak ada motivasi, gak ada pemikiran-pemikiran awal
seperti yang biasa ku lakukan. Ibaratnya berjalan aja. Apa yang akan terjadi nanti,
yaa terjadilah.
Sampai
akhirnya, Pak Wahyu (salah seorang imam mesjid Ukhuwah) menawarkan modal untuk
membangun usaha. Dia menanyakan berapa modal yang aku butuhkan untuk memulai
usaha itu. Modal, menjadi kata kunci yang seolah ingin mempertegas langkahku
ini, “serius gak?”. Begitulah seolah si kata ‘modal’ berkata. Saat itulah aku
mulai melangkah serius. Mengidentifikasi barang dan bahan, bertanya soal harga,
motoin berbagai barang yang ada di rumah dan menganalisi modal awal yang
dibutuhkan. Setelah data-data itu ada barulah aku berani berkata bahwa – aku
akan menjual furniture milik orang tuaku di Kota Bandung ini-. Akulah
enterprener penjual furniture. Titik.
Dan
setelah kalimat itu terhujam, kini aku ternga-nga, apa yang pertama kali harus
aku lakukan??? Bagaimana kondisi pasaran furniture??? Bagaimana kondisi
persaingan usaha furniture??? Setelah ngeh dengan usaha furniture, aku pun baru
ngeh akan toko-toko furniture yang ada di Bandung. Dan ternyata buwaaaanyak
juga. WAAAaawww,,,, mantaaaaffff!!!!
Komunitas
menulis. Ini adalah komunitas yang aku dan temanku bangun untuk memotivasiku
dan memotivasi teman-teman lain yang ingin jadi penulis. Berawal dari ide yang
bermotivasi tinggi, lalu dikukus beberapa minggu, dan hari ini adalah hari
pertama aku dan ketiga temanku merapatkan langkah-langkah yang akan dilakukan
dalam komunitas ini. Harapan besarnya dalam komunitas ini adalah merangkul
teman-teman yang memiliki hobi nulis lalu bersama-sama nulis, akhirnya nanti
bersama-sama dengan modal nekat memasukkan tulisannya ke penerbit.
Sekarang,
malam ini, setelah tadi sore rapat pertama dengan ketiga temanku, aku merasakan
gelap lagi. Apa yang akan aku lakukan? Dan mau dikemudikan bagaimana komunitas
ini????
Wallahu
‘alam.
Baru
kali ini aku berjalan tanpa perencanaan. Membiarkan Tangan dan pasukan-pasukan
Allah yang memberikan petunjuk langsung tentang apa yang harus aku lakukan
nanti.
Termenung
di depan pondasi furniture dan komunitas menulis. Akan jadi apa pondasi ini
nanti? Akal terasa gelap. Tak satu pun noktah yang tertera untuk membentuk kata
dan kalimat dalam bangunan bernama ‘perencanaan’. Dari sinilah jalan itu berawal. Dari nol perencanaan dan hanya menggantungkan tali harapan pada Sang
pemilik akal dan diri.
Bandung, 27 Oktober 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar