Minggu, 26 Oktober 2014

Dari Sini Jalan itu Berawal



------ bersih-bersih -----
--------------------------------
-----------------------------------
-------------------------
---------------------------

Huftt... capek nyooo,,, Rumah (blog) teh dibuat, lalu ditinggalkan. Dibersihkan, lalu ditinggalkan. Dibersihkan lagi, lalu ditinggalkan lagi. Hahaa,,,, terlihat banget belum kuat niatnya.
Tapi bagiku, tak masalah seberapa kali kita jatuh, yang penting adalah seberapa kali kita bangkit. Seribu kali jatuh dengan seribu kali bangkit, pasti orang tersebut telah kaya. Kaya akan pengetahuan dan lebih cerdas lagi dalam melangkah.

All right! Berhenti membicarakan soal bersih-bersih dan jatuh bangun. Biarkan itu menjadi satu rasa asam manis dalam kehidupan. Yang terpenting yang akan aku tulis saat ini adalah tentang suatu pengalaman yang benar-benar baru dan aku sama sekali belum pernah mengalami kondisi ini. Rasanya gelap. Kalimat yang paling kusukai dalam perjalanan ini adalah “aku tidak tahu apa-apa soal ini”.

Tentang apa pengalaman itu?

Tentang usaha furniture dan komunitas menulis yang akan aku bangun. Huuuftt....

Furniture. Berawal dari ide yang tiba-tiba muncul. Seiring bergantinya hari, satu persatu informasi dari teman-teman bermunculan. Ya bikin web lah, ya bikin fans page lah, ya bikin bisnis plan lah, yaaa,,,, berbagai saran dan masukan dari teman-teman yang mendengar ceritaku bermunculan. Berbagai saran dan masukan itu awalnya aku ttampung dulu. Tak ada rencana, tak ada tindak lanjut. Hanya berjalan mengikuti saran teman-temanku. Modal belum ada foto-foto belum ada, apapun belum ada. Saat itu rasanya ringan sekali. Mau usaha furniture, tapi gak ada rencana sama sekali. Gak ada motivasi, gak ada pemikiran-pemikiran awal seperti yang biasa ku lakukan. Ibaratnya berjalan aja. Apa yang akan terjadi nanti, yaa terjadilah.

Sampai akhirnya, Pak Wahyu (salah seorang imam mesjid Ukhuwah) menawarkan modal untuk membangun usaha. Dia menanyakan berapa modal yang aku butuhkan untuk memulai usaha itu. Modal, menjadi kata kunci yang seolah ingin mempertegas langkahku ini, “serius gak?”. Begitulah seolah si kata ‘modal’ berkata. Saat itulah aku mulai melangkah serius. Mengidentifikasi barang dan bahan, bertanya soal harga, motoin berbagai barang yang ada di rumah dan menganalisi modal awal yang dibutuhkan. Setelah data-data itu ada barulah aku berani berkata bahwa – aku akan menjual furniture milik orang tuaku di Kota Bandung ini-. Akulah enterprener penjual furniture. Titik.

Dan setelah kalimat itu terhujam, kini aku ternga-nga, apa yang pertama kali harus aku lakukan??? Bagaimana kondisi pasaran furniture??? Bagaimana kondisi persaingan usaha furniture??? Setelah ngeh dengan usaha furniture, aku pun baru ngeh akan toko-toko furniture yang ada di Bandung. Dan ternyata buwaaaanyak juga. WAAAaawww,,,, mantaaaaffff!!!!

Komunitas menulis. Ini adalah komunitas yang aku dan temanku bangun untuk memotivasiku dan memotivasi teman-teman lain yang ingin jadi penulis. Berawal dari ide yang bermotivasi tinggi, lalu dikukus beberapa minggu, dan hari ini adalah hari pertama aku dan ketiga temanku merapatkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam komunitas ini. Harapan besarnya dalam komunitas ini adalah merangkul teman-teman yang memiliki hobi nulis lalu bersama-sama nulis, akhirnya nanti bersama-sama dengan modal nekat memasukkan tulisannya ke penerbit.

Sekarang, malam ini, setelah tadi sore rapat pertama dengan ketiga temanku, aku merasakan gelap lagi. Apa yang akan aku lakukan? Dan mau dikemudikan bagaimana komunitas ini????
Wallahu ‘alam.

Baru kali ini aku berjalan tanpa perencanaan. Membiarkan Tangan dan pasukan-pasukan Allah yang memberikan petunjuk langsung tentang apa yang harus aku lakukan nanti.

Termenung di depan pondasi furniture dan komunitas menulis. Akan jadi apa pondasi ini nanti? Akal terasa gelap. Tak satu pun noktah yang tertera untuk membentuk kata dan kalimat dalam bangunan bernama ‘perencanaan’. Dari sinilah jalan itu berawal. Dari nol perencanaan dan hanya menggantungkan tali harapan pada Sang pemilik akal dan diri.

Bandung, 27 Oktober 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar