Selasa, 16 September 2014

Paha Ayam untuk 5cm



Saat ini aku tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh empat orang. Di rumah itu kami ngontrak. Kami berempat telah saling mengenal lebih dari satu tahun, atau sebelum kami tinggal satu atap sebelas bulan terakhir ini.

Sebelas bulan bersama ketiga temanku, sediktinya aku telah mengenal mereka. Kebiasaan mereka, sifat mereka, watak mereka satu persatu telah ku kenali. Dua orang plegmatis, satu orang koleris dan aku,,, apapun lah. Tergantung orang yang sedang dihadapi. Si plegmatis selalu cerewet dengan kerapihan kostan. Ada kebiasaan dia marah-marah karena ada baju yang digantung di sembarang tempat. Oh,,, my lovely fren. Dari beliau saya belajar tentang kepekaan dan ketafahuman pada orang lain.

Dalam waktu sebelas bulan, aku mendekati satu persatu secara personal. Dari si plegmatis satu, lalu plegmatis dua dan yang terakhir adalah si koleris. Sebulan sebelum ramadhan kemarin aku mulai mendekati si koleris. Dekat dalam artian lebih sering berkomunikasi dan mengenali wataknya lebih dalam lagi. Tapi dibalik itu, aku juga gak suka pertemanan yang terlalu dekat. Sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak tetap saja ku jaga. Kenapa? Karena seorang teman pun bisa menjadi ilah bagi seseorang. Teman itu bisa menjadi saudara yang saling menggenggam tangan untuk bisa istiqomah dalam kebenaran, tapi ia juga bisa menjadi teman yang mengajak pada sebuah kemaksiatan. Oleh karena itu, sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak tetap dijaga, walaupun hanya 5 cm. Dengan si koleris, masuk bulan agustus, aku merasa terlalu dekat dengan dia. Kedekatan yang melebihi batas. Maka, aku berdo’a agar pertemanan kami sedikit diberi jarak atau sedikit dijauhkan. Sepertinya Allah pun Mengabulkan.

Singkat cerita masuk bulan juni aku dekat dengan si koleris. Dia senang bercerita. Kalau terus dilayani, dia bisa bercerita selama berjam-jam. Dari cerita soal cacing si makhluk kecil dan hidup di dalam tanah, hingga ke pembahasan matahari dengan ukuran dan kadar panasnya. Gak nyambung? Tapi oleh beliau bisa saja nyambung. Kemampuan berbicara memang menjadi satu potensinya.

Dalam kedekatan kami, dia telah kenal aku yang cablak. Apapun yang ada di pikiran, bisa keluar dengan bahasa yang kadang polos, kadang lucu atau kadang dengan bahasa yang gak dimengerti. Begitupun dengan dia. Yang aku kenali, dia orang yang blak-blakan, tegas dan sedang dalam proses belajar memahami dan bersabar menghadapi ketiga teman kostannya.

Maka, pada satu sore, aku dengan dia makan satu nasi bungkus bersama. Teman nasinya adalah satu potong paha ayam dan sayuran. Ceritanya kami berdua sedang ngirit pengeluaran. Dia yang rajin dan kerennya makannya juga cepat. Sore itu kami sedang ngumpul bertiga, aku, si koleris dan si plegmatis satu. Sambil makan, aku ngobrol dengan si plegmatis satu. Aku tertarik pada  cerita dia waktu di sekolahnya hari itu. Satu suap, dua suap nasi dengan sayur masuk ke mulutku. Aku lebih intensif mendengarkan cerita si plegmatis ketimbang makan nasi. Setelah si plegmatis satu selesai bercerita, aku melirik nasi. Dan mataku tercengang. Mulanya aku ragu untuk bilang pada sikoleris bawha aku gak kebagian ayam. Yang tersisa memang tinggal tulang ayam saja. Sedangkan aku belum makan daging ayam itu sedikitpun. Dengan nada bercanda akhirnya aku berkata, “Iiihhh,,, aku belum kebagian ayamnya. Kok udah habis?”

Si koleris menjawab, “Jadi maksudnya, ayamnya cuma aku yang makan? Ya sudah, aku berhenti makan. Aku mah mau pundung. Merasa jadi tertuduh ngabisin ayam.” Setelah itu, sahabatku si koleris menghentikan makannya lalu cuci tangan. Ku lirik nasi dan sayurnya tinggal sedikit sedangkan daging ayamnya sudah habis. Ku pikir dia bercanda saat dia bilang mau pundung. Biasanya juga dia gak mudah kesinggung. Tapi sepertinya sore itu suasana hatinya sedang berbeda. Keesokan harinya, dia tak seakrab seperti hari-hari sebelumnya.

Peristiwa paha ayam itu terjadi sekitar bulan kedua di bulan Agustus. Melihat dia dengan sikapnya yang cuek padaku, ku pikir aku akan bersikap sebiasa mungkin dengan dia, sambil berharap dia akan secepatnya kembali seperti biasanya. Bolehlah dia cuek padaku. Tapi bagiku dia tetap teman yang telah memberiku banyak pelajaran. Tiga hari kemudian, aku pikir dia akan mulai membaik. Tapi dia masih dengan sikap  cueknya. Ditanya, menjawab seperlunya. Kalau kebetulan sedang duduk bersama, tak ada lagi berondongan cerita dari dia. Tapi kalau sedang duduk dengan si plegmatis dua, dia bersikap biasa dengan berondongan ceritanya.

Huuuftt,,, ternyata dicuekkan teman itu nggak enak. Si nafsu, tentunya ingin bersikap lebih cuek lagi pada dia. Tapi, akal tak menghendaki itu. Akhirnya,,,, ya sudahlah, menunggu dia mau membuak suaranya lagi untukku.

Dan pagi tadi, setelah tiga setengah minggu dia bungkam padaku, dia mulai membuka suaranya untukku. Aaahhh,,,, senangnya!!! Rasanya ingin melayang sambil tersenyum sendirian. Lalu turun dan memeluk dia.
Haduh,,, di balik do’a yang terkabul, paha ayam telah memisahkan kami selama tiga setengah minggu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar