Tindakan kekanak-kanakan,,,, seharusnya mulai aku hapus dalam diri. Mengingat takdir berawal dari karakter. Karakter dari kebiasaan. Kebiasaan dari tindakan. Tindakan dari pikiran. Pikiran dari perasaan. So, secara tidak langsung, secara sunnatullah takdir berakar dari perasaan, pikiran.
Kenapa harus merubah?
Karena pohon tempat aku bersandar selama ini akan dimiliki orang lain. Dan orang lain itu yang akan menjadi penjaganya, pemeliharanya dan pohon itu pun pada akhirnya harus berserah padanya.
Dewasa????? Aaaa,,,,, seperti apa itu dewasa? Tak terpikirkan, tapi usia, lingkungan menuntutku untuk menjalankannya.
Dewasa yang seperti apa?
Minimalnya dewasa secara pemahaman, secara akal, secara iman. Bagaimana diri bisa melangkah dan melewati berbagai peristiwa dengan kendaraan iman. Minimalnya, iman mampu menjadikan diri bersandar, berharap, memohon hanya pada Allah semata. Allah-lah tempat mengadu segala keluh, kesah, bimbang, duka dan bahagia. Allahush shomad. Sehingga, tanpa satu pun orang di sisi, diri tetap tegar, berdiri dan berjalan dengan keyakinan.
Memulaikah?????
Baiklah. Memulai dari bismillah. Lalu mencari pekerjaan. Luangkan waktu buat nulis. Pekerjaan tetap saya adalah menulis. Pekerjaan lainnya adalah sampingan. Ijazah???
Heuuu,,,, sebenarnya tak ada ijazah dalam pikiranku. Yang ada hanya menulis. Soal itu, baiklah lihat nanti saja. Kalau peruut sudah bisa diajak kompromi soal skripsi, baru aku kerjakan.
(Soal perut dan skripsi, perut aku suka perih kalau sudah menghadapi skripsi. Lambung saya Katanga sudah luka. Perut saya gak bisa Nathan beban pikiran. Pusing memikirkan sesuatu, mulai asam lambung naik. Perut sakit. Dan, stoppp,,, pekerjaan dihentikan sampai perut mau berkompromi. Nantilah saya bercerita tentang keunikan perut saya).
Yang pasti saat ini, aku harus mulai merubah haluan hati. Fokusku, hanya action, action dan action. Biarkan hati shaum dulu. Tugas hati hanya berjalan sesuai dengan ayat-ayat Allah.