Kemarin-kemarin
aku sering berkata kepada teman-teman, bahwa orang yang beriman itu tidak
pernah galau, takut, resah, gelisah dan virus-virus lainnya yang membuat
ragu-ragu dalam hidup. Kenapa tidak pernah mengalami hambatan seperti itu? Karena
setiap permasalahan yang datang pada diri adalah karena Allah. Jalan keluar
pun, Allah yang mengetahuinya. Manusia hanya terbatas pada menjalani, berusaha
berdo’a dan sabar, serta tetap istiqomah pada ketaatan pada Allah.
Dalam
hal ini termasuk di dalamnya rizki, jodoh, musibah dan hal lainnya yang telah
ditentukan untuk setiap manusia sebelum manusia itu dilahirkan ke dunia. Dengan
ditentukannya kebutuhan manusia dari awal ini, tujuannya adalah manusia bisa
fokus menjalankan tugasnya sebagai manusia (ibadah), bukannya fokus memenuhi
kebutuhan hidupnya saja.
Tapi,
selalu saja, apa yang dikatakan tidak semudah menjalankannya. Keyakinan akan kepengurusan
Allah dalam mencukupi segala kebutuhan diri untuk melangsungkan kehidupan
selalu tergoncang. Seperti saat ini.
Selama
sebulan ini perusahaan tempat aku bekerja off
karena pemiliknya bermasalah dengan pihak Imigrasi. Selama sebulan ini tak ada
pikiran untuk mencari pekerjaan lain karena aku pikir mungkin di sana juga
masih jalan. Yang terpikirkan oleh ku adalah bagaimana caranya aku bisa
berwirausaha. Seandaipun aku harus keluar dari perusahaan tempat ku kerja ini,
untuk melamar pekerjaan yang baru rasanya tak terpikirkan sama sekali. Sekalipun
terpikirkan, terasa berat. Makanya aku memutuskan untuk berwirausaha saja.
Hari
terus berputar, uang di dompet semakin menipis, wirausaha yang dijalankan belum
memberikan keuntungan yang mencukupi. Hari ini,,, galau hampir menghampiri. Perasaan
udah di ambang keraguan, kegalauan karena uang di dompet semakin menipis. Memang
sih bisa saja aku minta uang pada orang tuaku, dan mereka pastinya akan
memberi. Tapi harus sampai kapan aku minta uang pada orang tua? Dan kapan aku
akan belajar untuk bertanggung jawab dan dewasa? Soo, aku harus belajar
menjemput rizki dengan tangan dan kakiku sendiri.
Kenapa
sampai galau?
Karena
yang dibayangkan adalah kehidupan besok, besok dan besok terus. Bagaimana besok
aku akan makan? Bagaimana besok akan hidup??? Hahaa... Makan-kan yang
dipikirkan? Padahal belum tentu besok aku masih hidup. Dan bahkan, belum ada
jaminan kalau satu atau dua jam kemudia aku masih hidup atau sehat.
Soal
makan, hari ini Allah menjawabnya. Untuk hari ini saja makan di pagi hari cukup
dengan biaya 4 ribu. Siang hari cukup dengan beli kerupuk seharga seribu. Sore hari,
padahal aku membayangkan akan makan di warung makan dengan ayam goreng, ehh
ditawari rizki makan gratis dari teman, walaupun cuma dengan sayur dan daging
ayam suwir. Hari ini,,, perut amankan??? Hahaa....
Dari
pengalaman soal makan ini, satu pelajaran yang aku dapatkan. Janji Allah untuk
memenuhi rizki manusia, dalam hal ini rizki untuk mengisi pertu, benar adanya. Soal
perut, walau uang di dompet semakin menipis, kadang cukup dengan teman nasi yang
sangat-sangat minim atau dapat makanan dari teman. Bukan soal makananya enak
gak enak. Tapi bahwa perut tetap terisi dan badan tetap sehat. Itulah salah
satu contoh rizki yang pasti dipenuhi. Kalau soal makan yang sederhana bahkan cuma
dengan kerupuk saja, yaaa... mungkin hari itu memang itulah rizki yang
didapatkan. Kala ada uang cukup bisa makan enak, kala uang semakin menipis, ya
tinggal ngirit aja. Tujuan makan saat uang menipis bukan soal enak atau nggak,
tapi perut terisi.
Rizki
itu tak selamanya berlebih dan membuat kebutuhan kita tercukupi dengan lebih,
tapi ada kalanya rizki yang didapat hanya sesuai dengan kebutuhan diri saja. Tapi
di balik banyak dan cukupnya rizki yang didapatkan, satu hal yang penting untuk
diambil hikmahnya, bahwa Allah telah menjamin rizki untuk setiap manusia.
Jadi,
apalagi yang digalaukan???
Hidup
kita telah ditentukan jalannya. Kebutuhan-kebutuhan dalam menjalankan
kehidupanpun telah tetapkan. Maka, TER-LA-LU, kalau kita malas atau bahkan tidak
mau ibadah.
Di atas jembatan keimanan, waktu
senantiasa memberikan ujian yang berbeda. Kadang ujian itu berulang, kadang
berbeda, tapi kadang ujian yang sama dengan tiupan angin yang semakin kencang. Hanya
satu makna dibalik semua ujian itu, mampukah langkah kaki bisa setapak dengan
pemahaman yang pada akhirnya melahirkan kesempurnaan iman.
Di atas jembatan keimanan, hanya
pengharapan pada Sang Pemilik diri dan jembatan yang bisa kita lakukan, lewat
hujan do’a yang tak pernah terputus dan harap yang tak bertepi.
Bandung,
27 Oktober 2014.