Selasa, 09 September 2014

KISAH TENTANG DIRI (Home Fun MdH Part 2)



Berkisah tentang diri adalah berkisah tentang seseorang yang memiliki sikap tidak tetap (seperti bunglon, tergantung orang yang dihadapi). Seorang sanguin, dalam kondisi apapun mungkin dia akan memunculkan watak heboh, periang dan penghiburnya. Kepribadian koleris, dalam kondisi dan lingkungan apapun, mungkin dia akan bertindak sebagai pengatur. Plegmatis, yang menyukai kedamaian, bisa saja ngikut suara terbanyak dan belum menentu apa pilihan dia sendiri. Dan melankolis, seseorang yang penyayang dengan kesabaran dan kelapangan hatinya mampu meluluhkan batu yang keras. Tapi aku? Sebenarnya waktu di kelas itu, aku bingung, aku sendiri masuk ke jenis kepribadian yang mana. Atau yang paling dominan yang mana. Karena memang, beda lingkungan, beda orang, beda suasana, berbeda pula penyikapanku. Saat bersama orang sanguin, aku bisa saja ikut sanguin atau jadi penonton dan pendengar saja. Saat berhadapan dengan orang koleris, selama tindakannya tidak merugikan dan mengganggu privasiku, okeee, aku ikuti. Menghadapinya bisa saja aku manut, atau kalau berbeda pikiran, aku bikin aturan sendiri. Dengan orang plegmatis yang sukanya bilang ‘terserah’ atau manut-manut saja, aku bisa menjadi koleris di hadapan mereka. Dan saat bersama dengan orang melankolis, aku bisa lebih melankolis dan sedikit agak lebay. 

Hahaa.... Jadi, manusia jenis apakah aku?

Aaahhh,,,, da aku mah apa atuh? Menentukan kepribadian aja masih bingung. Jadi lebih baik makan aja.. (nah... Lohhh???). Tapi, baiklah, aku pilih salah satu, PLEGMATIS, titik!

Berkisah tentang diri adalah berkisah tentang aku yang kata teman dekatku ‘aneh’. Kadang normal, bersikap dan berpikir seperti orang normal. Tapi tak jarang teman-temanku kaget melihat hal yang tidak biasa dikerjakan orang. Misal, di kantor saat ada client, harusnya aku mencatat pembicaraan penting client dan bos, tapi, dengan netbook membelakangi si bos, dan posisi meja aku yang berada di depan meja di bos, aku nyuri-nyuri kesempatan buat nonton film korea. Temanku yang meilhat tingkahku geleng-geleng kepala, keget melihat tingkahku. Hahahaaa... karyawan yang tak sopan!

Maafkan boss, aku ngantuk waktu itu teh,,,

Saat seseorang melihat mobil, sebuah mobillah yang mereka lihat. Tapi aku akan bertanya, apa merek mobil itu? Kondisinya masih bagus atau tidak? Dalamnya, bisa muat berapa orang? Dan pemikiran yang katanya kudu jelas jentre ini tak jarang membuat teman-temanku kesal dengan pertanyaanku. Seperti halnya home fun membuat tulisan yang berjudul ‘Kisah tentang Diri’. Sebenarnya sebelum menulis, ada pertanyaan dalam pikiranku. Kisah tentang diri ini apanya yang mesti dikisahkan? Diri dengan pengalamannya kah? Diri dengan kebiasaannya kah? Diri dengan kepribadiannya kah? Atau diri tentang apanya? Atau semuanya seutuhnya tentang diri yang dituliskan? Tapi pada akhirnya yang aku tuliskan di sini adalah diri dengann,,,,, dengan apa yang ada di pikiran saja. Wajar kalau tulisan ini tidak nyambung, karena pikirannya pun belum tersambungkan dengan baik. Hahaaa... Tapi kata guru menulisku terdahulu, tulisan jelek hari ini lebih baik daripada tidak menulis sama sekali!

Polos, yang membuat orang geli melihat kepolosanku, mungkin kadang bikin gereget, atau kalau yang belum kenal dekat mah bisa jadi tersinggung. Tapi, kondisi ini tak selamanya terjadi. Tapi yang pasti yaaa,,, seperti inilah adanya kisahku. Kadang  polos, kadang bijak, sesekali lebay, melankolis. Kalau dalam kondisi yang aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa, maka bersikap seperti orang yang gak tahu apa-apa dengan keterbatasan pengetahuannya (mungkin) yang aku lakukan. Tersesat itu akibat seseorang tidak mau bertanya saat dia tidak tahu jalan yang harus dia tempuh. Tapi bertanya itu kadang membutuhkan pemutusan urat malu untuk mendapatkan hasil dan jawaban yang tepat.
 
Dan aku, berkisah tentang diri sendiri, pada intinya adalah berkisah tentang keanehan dan pola pikir yang harus jelas jentre. Da aku mah apa atuh??? Gak tahu apa-apa. Sarapan aja harus selalu di Braga... ;-)

Seperti apapun adanya diriku, aku tetap mencintai diriku apa adanya. Karena apapun yang ada dalam diri, itu adalah potensi yang Allah berikan sebagai modal agar diri -sebagai manusia cantik- bisa menjalankan ibadah/ketaatan kepada Allah selama hidupnya. MERDEKA!!!! (bendera, mana bendera??? ^_^" ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar