Berkisah tentang diri adalah berkisah tentang
seseorang yang memiliki sikap tidak tetap (seperti bunglon, tergantung orang
yang dihadapi). Seorang sanguin, dalam kondisi apapun mungkin dia akan
memunculkan watak heboh, periang dan penghiburnya. Kepribadian koleris, dalam
kondisi dan lingkungan apapun, mungkin dia akan bertindak sebagai pengatur. Plegmatis,
yang menyukai kedamaian, bisa saja ngikut suara terbanyak dan belum menentu apa
pilihan dia sendiri. Dan melankolis, seseorang yang penyayang dengan kesabaran
dan kelapangan hatinya mampu meluluhkan batu yang keras. Tapi aku? Sebenarnya waktu
di kelas itu, aku bingung, aku sendiri masuk ke jenis kepribadian yang mana. Atau
yang paling dominan yang mana. Karena memang, beda lingkungan, beda orang, beda
suasana, berbeda pula penyikapanku. Saat bersama orang sanguin, aku bisa saja
ikut sanguin atau jadi penonton dan pendengar saja. Saat berhadapan dengan
orang koleris, selama tindakannya tidak merugikan dan mengganggu privasiku,
okeee, aku ikuti. Menghadapinya bisa saja aku manut, atau kalau berbeda
pikiran, aku bikin aturan sendiri. Dengan orang plegmatis yang sukanya bilang ‘terserah’
atau manut-manut saja, aku bisa menjadi koleris di hadapan mereka. Dan saat
bersama dengan orang melankolis, aku bisa lebih melankolis dan sedikit agak
lebay.
Hahaa.... Jadi, manusia jenis apakah aku?
Aaahhh,,,, da aku mah apa atuh? Menentukan kepribadian
aja masih bingung. Jadi lebih baik makan aja.. (nah... Lohhh???). Tapi,
baiklah, aku pilih salah satu, PLEGMATIS, titik!
Berkisah tentang diri adalah berkisah tentang aku
yang kata teman dekatku ‘aneh’. Kadang normal, bersikap dan berpikir seperti
orang normal. Tapi tak jarang teman-temanku kaget melihat hal yang tidak biasa
dikerjakan orang. Misal, di kantor saat ada client, harusnya aku mencatat
pembicaraan penting client dan bos, tapi, dengan netbook membelakangi si bos,
dan posisi meja aku yang berada di depan meja di bos, aku nyuri-nyuri
kesempatan buat nonton film korea. Temanku yang meilhat tingkahku geleng-geleng
kepala, keget melihat tingkahku. Hahahaaa... karyawan yang tak sopan!
Maafkan boss, aku ngantuk waktu itu teh,,,
Saat seseorang melihat mobil, sebuah mobillah yang
mereka lihat. Tapi aku akan bertanya, apa merek mobil itu? Kondisinya masih
bagus atau tidak? Dalamnya, bisa muat berapa orang? Dan pemikiran yang katanya kudu jelas jentre ini tak jarang membuat
teman-temanku kesal dengan pertanyaanku. Seperti halnya home fun membuat tulisan yang berjudul ‘Kisah tentang Diri’. Sebenarnya
sebelum menulis, ada pertanyaan dalam pikiranku. Kisah tentang diri ini apanya
yang mesti dikisahkan? Diri dengan pengalamannya kah? Diri dengan kebiasaannya
kah? Diri dengan kepribadiannya kah? Atau diri tentang apanya? Atau semuanya
seutuhnya tentang diri yang dituliskan? Tapi pada akhirnya yang aku tuliskan di
sini adalah diri dengann,,,,, dengan apa yang ada di pikiran saja. Wajar kalau
tulisan ini tidak nyambung, karena pikirannya pun belum tersambungkan dengan
baik. Hahaaa... Tapi kata guru menulisku terdahulu, tulisan jelek hari ini
lebih baik daripada tidak menulis sama sekali!
Polos, yang membuat orang geli melihat kepolosanku,
mungkin kadang bikin gereget, atau kalau yang belum kenal dekat mah bisa jadi
tersinggung. Tapi, kondisi ini tak selamanya terjadi. Tapi yang pasti yaaa,,,
seperti inilah adanya kisahku. Kadang polos, kadang bijak, sesekali lebay,
melankolis. Kalau dalam kondisi yang aku sendiri bingung harus bersikap seperti
apa, maka bersikap seperti orang yang gak tahu apa-apa dengan keterbatasan
pengetahuannya (mungkin) yang aku lakukan. Tersesat itu akibat seseorang tidak
mau bertanya saat dia tidak tahu jalan yang harus dia tempuh. Tapi bertanya itu
kadang membutuhkan pemutusan urat malu untuk mendapatkan hasil dan jawaban yang
tepat.
Dan aku, berkisah tentang diri sendiri, pada intinya adalah berkisah tentang keanehan dan pola pikir yang harus jelas jentre. Da aku mah apa atuh??? Gak tahu apa-apa. Sarapan aja harus selalu di Braga... ;-)
Seperti apapun adanya diriku, aku tetap mencintai diriku apa adanya. Karena apapun yang ada dalam diri, itu adalah potensi yang Allah berikan sebagai modal agar diri -sebagai manusia cantik- bisa menjalankan ibadah/ketaatan kepada Allah selama hidupnya. MERDEKA!!!! (bendera, mana bendera??? ^_^" ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar