Minggu, 26 April 2015

Welcome,,, matahari perubahan



Selamat datang di dunia baru. Dunia yang penuh dengan tuntutan pekerjaan dan evaluasi.
Selamat datang di pengalaman baru. Pengalaman yang bisa melatih diri untuk lebih sabar atau tidak sabar. Pengalaman yang bisa membuat diri bersikap bijak atau tetap menjadi anak-anak yang sering merengek saat keinginannya tidak terpenuhi.
Selamat datang di kantor baru dengan bos baru yang sungguh sangat berbeda dengan bos yang sebelumnya.
Selamat datang...

***

Senangnya hari ini masih bisa melihat matahari. Satu kesempatan hidup yang masih diberikan oleh Allah. Senangnya hari pagi ini masih bisa menggunakan pakaian yang aku sukai. Dengan cardigan hitam dan rok lebar yang terlihat casual. Senangnya saat aku berdiri di depan cermin. Menatap sosok diri dari atas sampai ke bawah. Melihat keindahan-keindahan yang telah Allah berikan padaku, sambil terselip do’a, ya Allah, baguskanlah akhlakku seperti Engkau membaguskan rupaku.

Senangnya melihat perubahan yang terjadi hari ini. Perubahan hari, perubahan waktu, perubahan musim, perubahan cuaca. Segala perubahan ini bisa aku lihat dan aku rasakan berkat kemurahan Allah yang masih memberiku kesempatan hidup, bukan begitu???

Rasa senang juga terasa saat sebuah perubahan sedang menggelinding menghampiriku. Yaa... beragam tugas telah menanti di depan mata. Satu persatu target berdatangan. Setiap jam menjadi begitu berarti, setiap detik terasa menjadi perisai yang siap mencelakakan diri kapanpun dan dimana pun. Sebuah kekhawatiran kadang muncul, menakuti pikiran agar tidak terlalu serius dalam menajalankan pekerjaan, karena keseriusan seringkali memberikan efek pusing pada kepala. Heuu... sekarang ini, bisakah kekhawatiran itu diterima dan dibenarkan???

Sepertinya, pohon dan rerumputan di halaman rumah tak lagi akan sering-sering aku sapa. Lampu dan dinding di dalam rumah tak lagi bisa bermain dengan pikiranku. Halaman belakang rumah, bagaimana aku akan main lagi di sana kalau waktu ku akan kuhabiskan berkeliling di luar rumah???

Ahh,,, tapi aku tetap tidak ingin kehilangan senyum termanisku (lebayON).. dan pikiran imajinerku. Bagaimanapun keadaanku, aku akan tetap menjadi imajiner dan menghayal beragam peristiwa. Otak kiri tak boleh lebih dominan dari otak kanan. Bagaimana pun,aku tetap cinta seni, kreativitas, keindahan dan khayalan, hahaa....

Let’s keep smile... apapun yang terjadi imajier harus tetap imajiner. Bagaimana pun keadaannya, mengkhayal harus tetap mengkhayal, karena dari sanalah mimpi-mimpi akan bermunculan dan memberikan semangat untuk bisa mewujudkannya..

Bandung, 27 April 2015

Kamis, 23 April 2015

Tentang Pohon...



Lihatlah pohon yang menjulang tinggi ke langtit!

Apa yang membuat dia bisa memiliki kekuatan untuk terus meninggi? Padahal semakin ia tumbuh tinggi angin yang meniupnya akan semakin kencang. Semakin meninggi, resiko untuk tumbang karena tertiup angin semakin tinggi. Tapi bagaimana ia bisa tumbuh menjulang ke langit? Melewati berbagai tiupan angin yang menerpanya. Menjadi tempat berteduh bagi sebagian orang. Bahkan mungkin menjadi tempat penghidupan untuk orang-orang tertentu. Apa yang membuatnya bisa bertahan untuk terus meninggi????
Berkaitan dengan ilmu pengetahuan, yang membuat pohon bisa kuat untuk semakin meninggi adalah karena akarnya yang kuat. Semakin kuat akar, maka ia bisa tumbuh semakin tinggi. Bisa juga semakin berkembang. Pohon yang kuat dan meninggi selalu memiliki akar yang kuat menancap ke bumi. Batang akarnya pun besar-besar. Bahkan bisa jadi sebesar bagian-bagian tubuh manusia. Akar pohon beringin yang sudah meninggi berbeda sekali dengan akar alang-alang. Atau akar pohon pisang.

Maka, begitu pula halnya dengan kekuatan sebagian manusia dalam bertahan memperjuangkan kehidupannya. Semakin dewasa seseorang, maka masalah akan semakin tinggi. Semakin tinggi jabatan seseorang maka persoalan hidup semakin kompleks. Semakin besar seseorang masalah pun akan semakin besar. Dan semakin kuat iman seseorang, masalah pun akan semakin senang mengujinya.

Jika melihat sejarah, apa yang membuat seseorang bisa kuat mempertahankan perjuangannya? Tak peduli seberapa kuat masalah yang ia hadapi. Tak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus dia lakukan. Tak peduli seberapa besar rasa sakit yang harus ia terima. Nazi mampu memperkirakan seberapa besar masalah yang akan ia hadapi. Tapi dengan berpegang pada cita-cita dia, dia mampu melewati semua permasalahannya itu.  

Atau,,, mari berkaca pada kegigihan dan kekuatan mental para sahabat rasul dan orang-orang yang memperjuangkan risalah rasul...

Seberapa berat ujian yang harus diterima Bilal bin Rabbah, ia tetap gigih mempertahankan keyakinannya. Atau seberapa kurangnya materi/penghidupan Mush’aib bin Umair setelah diusir oleh ibunya, ia tetap kuat membela keyakinannya. Atau katakan saja, seberapa besar pengorbanan yang harus dilakukan oleh AbuBakar, ia tak pernah mempedulikannya dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang ia yakini serta kokoh berdiri di atas jalan yang ia yakini.

Apa yang membuat mereka bisa seperti itu???

Belajar dari pohon, bahwa yang membuat pohon bisa kuat dan menjulang tinggi adalah kekuatan akarnya menancap ke bumi atau tanah. Batang bisa saja besar. Daun bisa saja lebat. Buah bisa saja banyak dan segar. Tapi semua itu tidak menjadi kekuatan untuk menjaga pohon terus menjulang tinggi. Batang besar yang berada tepat di atas tanah, bukan menjadi kekuatan utama dalam menyangga pertumbuhan pohon yang semakin meninggi. Yang membuatnya kuat adalah akar yang menancap ke bumi yang terus membesar, menguat dan mengeras. Tak peduli bagian yang berada di atas tanah bertumbuh semakin besar atau sekencang apa angin meniupnya. Yang menjadi kekuatan terbesar adalah akarnya. Jika akar memiliki mata, mungkin ia tak bisa melihat sekeras apa angin meniup bagian atas pohon. Ia tak bisa melihat sebanyak apa daun dan buah yang beresiko jatuh ketika angin meniupnya. Yang ia lihat adalah seberapa dalam tanah yang harus ia gali untuk memperkuat batang dan buahnya.  

Dan seperti itu juga hidup dengan semua permasalahannya...

Dulu, aku sering berpikir, bagaimana seseorang bisa kuat dalam menjalani hidup. Bagaimana para sahabat rasul bisa mempetahankan keyakinannya di tengah intimidasi orang-orang jahiliah. Bagaimana ia bisa tidak mempedulikan rasa sakit dari siksaan demi siksaan yang mereka dapatkan. Bagaimana para nabi bisa memiliki kekuatan menghadapi para pemimpn dzalim dan bertahan dengan semua ujian yang sampai kepada mereka. Intinya bagaimana seseorang bisa menjadi besar dengan segala permsalahan, kesakitan dan pengorbanan yang mereka alami.

Sekarang aku tahu jawabannya...

Kekuatan itu berasal dari kekuatan mereka berpegang teguh pada keyakinan/keimanan mereka. Mereka tak pernah melihat/peduli seberapa besar permasalahan yang harus mereka hadapi. Mereka tak pernah gentar menghadapi segala dinamika yang datang pada mereka. Bisa dikatakan, mereka tak memilikirasa takut dan gentar.

Yah... mereka seperti  itu. Bahkan Allah pun melarang seseorang bermental lemah dengan seberapa besar pun ujian yang para mukmin hadapi. Kenapa harus seperti itu????
Karena kekuatan itu berasal dari Allah...

Semakin tinggi seseorang, yang harus semakin kuat adalah keyakinan mereka pada Allah. Semakin banyak tugas yang didapatkan, akan membuat permasalahan semakin kompleks. Tapi keimananlah yang bisa membuatnya semakin kuat dan kokoh menjali segala dinamika yang menimpanya.

Allah pemilik segala kekuatan. Allah sekuat-kuat tempat berlindung. Da aku mah apa atuh. Tanpa kekuatan untuk bergantung pada Allah, kekuatan manusia itu sangat rapuh. Tak peduli seberapa kuat ia, seberapa hebat mereka, tetap saja jika Allah telah menghendaki kehancuran mereka, merek atak mampu mempertahankan kekuatan mereka. Sekuat apapun Fir’aun dengan kekuasaannya, jika Allah telah Menghendaki ia jatuh dan meninggal, tak ada satu kekuatan pun yang bisa melindunginya dari kehancuran dan kematian.

Merasa kuat pada kekuatan diri, pada akhirnya akan menimbulkan sikap angkuh atau tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Berpegang kuat pada kekuatan orang lain, tak bisa menjamin ia tetap kuat saat orang yang ia jadikan sumber kekkuatan tak bersamanya lagi. Jadi, pegangan yang kuat, hanya pegangan pada Allah saja, bukan?

Semakin tinggi pohon, akar pun harus semakin kuat.

Semakin tinggi usia/kedewasaan, maka kekuatan keyakinan pada Allah-lah yang seharusnya diperkuat. Bukan kekuatan pada diri sendiri atau kekuatan dari orang lain.

***

Ya Allah,,, tanpa-Mu aku bukanlah butiran debu, tapi aku tidak ada dan bukan apa-apa...

Bandung, 24 April 2015

Disfungsi Telinga



Alhamdulillah... merasakan salah satu organ tubuh yang tida berfungis, yaitu telinga. Dari sejak hari rabu kemarin telingaku terasa sakit, berdengung dan terkadang tidak bisa mendengar dengan jelas. Efek lainnya adalah kepala sakit, hidung meler dan sakit menelan. Alhamdulillah,,, dengan disfungsi salah satu telinga ini kembali diingatkan bahwa betapa nikmat Allah pada setiap diri manusia sangat besar. Telinga yang seolah organ kecil, tapi fungsinya tidak kalah penting dari jantung atau paru-paru.  

Sangatlah tidak mengherankan kalau Allah berkali-kali bertanya, maka nikmat-Ku yang mana lagi yang akan kamu dustakan? Iya, karena memang banyak nikmat Allah yang telah Allah berikan pada manusia, dari mulai hal terkecil sampai hal yang paling besar. Dari kenikmatan mencium sampai kenikmatan cahaya matahari yang sangat berharga. Namun banyak manusia menggunakan kenikmatan itu untuk mendustakan Allah. Mendustakan dalam artian tidak mau menjalankan perintah Allah. Padahal Allah Memberikan berbagai kenikmatan itu agar manusia bisa menjalankan semua Perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Seorang bos memberikan bergam fasilitas hidup pada karyawannya tentu dengan harapan agar karyawannya bisa fokus dalam menjalankan tugasnya. Bukan fokus menggunakan beragam fasilitas yang diberikan padanya. Apalagi menggunakan beragam fasilitas itu untuk menjatuhkan atau menghina bosnya.

Subhanallah... sakit memang terasa sakit telinga ini. Tapi dibalik rasa sakit itu juga ada pelajaran yang sangat berharga. Satu pelajaran lagi, bahwa ternyata organ-organ tubuh ini telah menjadi satu kesatuan yang saling berpengaruh. Terjadinya disfungsi pada salah satu organ, akibatnya mengganggu fungsi organ lainnya. Semua organ dirancang agar saling berkaitan satu sama lainnya. Saling menguatkan atau saling melemahkan. Siapa yang bisa menciptakan sistem kerja dalam tubuh manusia secanggih ini? Atau katakan saja sistem dalam tubuh ini tak ada yang menciptakan, terjadi begitu saja. Tapi kenapa bisa sampai secanggih itu, bisa sedetail itu, bisa sehebat itu hasinya? Apakah seorang anak yang cerdas tiba-tiba saja ada tanpa dilahirkan oleh ibunya???

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMAN-NYA..

Kamis, 23 April 2015

Selasa, 21 April 2015

Hai...



Hai Jamalku (novelku), dari awal April ini aku belum lagi mengurusmu. Sampai sekarang sudah tanggal 21 April, kau belum juga aku buka. Kenapa? Ada apa dengan aku?

Kau tahu? Awal April selama hampir 2 minggu aku harus ngurus ibu aku yang sakit. Masak, bersih-bersih rumah, ngurus ibu yang sakit, ngurus makan adik. Makan kalau untuk keluarga saja masih mending. Tapi aku harus menyediakan makan untuk para pekerja juga. Dua pekerja sih. Tapi belaja walau dua pekerja, tetap aja harus menyediakan makan. Apalagi porsi makan mereka banyak. Maafkan aku, Jamal. Entah kenapa bulan ini gelombang malas semakin membesar. Padahal aku masih mencintaimu.

Hai rumahku (blog). Akhh,,, setelah pelatihan menulis dahulu, bagaimana aku bisa membuatmu kesepian setiap hari? Sungguh, aku tuan rumah yang pemalas. Padahal jika aku rajin membersihkanmu, jelas itu sebuah keberuntungan buatku. Tapi, sepertinya malasku mulai akut. Tapi maret kemarin aku membiarkanmu kesepian karena aku sering nulis novel. Fokus di sana, kau jadi terlupakan. Ah,, tetaplah maafkan kemalasanku. Apapun alasannya tetap aja aku yang mendengar, dan aku muak mendengar alasan orang yang malas.

Hai disiplin... kamu itu setinggi apa? Kenapa susah sekali kau kudaki? Bagaimana agar aku terbiasa dengan pendakian dirimu?  Memilih jalan senang sering kali kulakukan yang akhirnya membuatku mengeluh lagi mendakimu. Bagaimana aku bisa berprestasi? Bagaimana cita-citaku akan cepat kugapai jika aku masih mengenakan pakaian kemalasanku. Oh disiplin, maafkan aku juga yang masih malas mengejarmu. 

Hai aku... kenapa kau malas sekali? Kapan kau akan mulai disiplin? Jika begini terus, kapan kau akan sampai pada garis finish dari cita-citamu?

Aku: Hei pikiran yang bertanya... aku sedang belajar. Bersabarlah sedikit. Walau malas, tapi aku belum gagal dan mati. Karena gagal dan mati terjadi ketika kaki dan tangan telah berhenti berusaha. Berasabar saja menikmati proses ini. Pastinya tak ada yang sia-sia dengan semua yang telah terjadi!!!