Kamis, 18 September 2014

KINAN,, KUNYALAKAN PURNAMA BARU



Katanya, siang itu tubuhku terapung, mengambang dan hanyut oleh aliran sungai. Jauh dari negeri ku, jauh dari kampung halamanku, dan tentunya jauh dari orang tua yang hanya tahu memberi aku uang tanpa tahu apa yang aku butuhkan.

Bersama mereka, dunia tak pernah seindah saat kumelihat wajah teduhmu. Yaa... sudah 17 tahun aku bersama mereka. Seatap, sedinding rumah, sehalaman bermain. Tapi kami tak pernah semeja makan. Mata kami tak pernah saling tatap. Hanya kesibukan yang mereka pentingkan, dibanding aku, sang anak yang sedang mengemis perhatian. Salahkah jika saat itu aku jatuh hati kepadamu?

Hari itu, hari di saat tanganku bergetar menunggu uluran tanganmu untuk menerima suratku, adalah hari dimana aku merasakan kebebasan dari belenggu kebosanan. Wajah-wajah sibuk dan suram ayah ibu tergantikan sudah oleh wajah polosmu yang tak bisa aku jabarkan maknanya. Tapi tetap! Aku tetap merasakan kebebasan itu. Setelah menerima surat itu, kau memang berjalan membelakangiku tanpa ragu. 
Seperti biasa, kau berjalan dengan irama langkah yang seimbang. Tidak pelan, juga tidak tergesa-gesa. Tpi apa kau tahu apa yang aku rasakan? Aku seperti baru hidup, setelah sekian lama menjadi mayat hidup yang tak memiliki perasaan. Rumahku seperti kuburan yang tak sepi. Berapapun lampu rumah yang terpasang, namun tak dapat menerangi hati dan perasaanku. Kaulah nafas yang baru saja kuhirup. Kau, cahaya dalam labirin gelap yang tak berujung.

Di gubuk bambu yang dihuni oleh seorang kakek, hari itu aku terbaring lemes. Kakek itulah yang telah membawa tubuhkuku dari aliran sungai ke kamar kecil berdinding bambu ini. Kuharap, wajahmu yang pertama kali kulihat saat aku membuka mataku. Aku tak membutuhkan belaian tanganmu pada wajahku yang terlihat pusat pasi. Bagiku itu terlalu berlebih. Melihat kau ada di depan mataku saja saat ku terbangun saja, bagiku sudah cukup. Tapi,,, siang itu kau tidak ada. Dan aku tak tahu, hari itu dimana kau berada. Bahkan aku sendiri tidak tahu, dimana aku berada siang itu. Hanya bilik bambu dan seorang kakek yang aku lihat siang itu.

Kinan,,, kau tahu, sejak kakek itu membawaku ke gubuknya sampai saat ini, aku masih di sini. Entah telah berapa purnama aku lewati di gubuk ini. Setiap hari kakek mengajakku ke ladangnya. Merawat sayuran yang ia tanam. Menyiraminya, memberi pupuk, kadang kami membersihkan rerumputan yang turut tumbuh di sekitar tanaman sayur yang kakek tanam. Kakek itu hanya tinggal seorang diri di gubuk bambu kecilnya. Bahkan bukan di gubuk bambunya saja ia sendirian, tapi di tepi hutan yang jauh dari perkampungan lainnya. Yaa,,, kakek itu memutuskan untuk hidup sendiri di gubuk reotnya yang dibangun di  ujung hutan. Jauh dari keramaian, jauh dari kampung halamannya, jauh dari sanak saudaranya. Dia sendirian, Kinan. Selama hampir sepuluh tahun dia hanya hidup bersama ladang sayuran yang dia buat.

Kinan, ini aku, Dean, yang dulu sangat mencintaimu dan menjadikan kau cahaya dalam rumah dan ruang hatiku. Ini aku yang dulu sangat berharap akan selalu melihat senyumanmu setiap hari. Senyumu, adalah mantra penenang hatiku. Ini aku yang dahulu, saat kita sama-sama duduk di bangku SMA berjanji akan senantiasa mencintaimu. Saat seragam putih abu bersaksi betapa dadaku setiap hari berdebar sebelum melihat wajahmu. Kau tahu itu?

Tapi, di bawah purnama malam ini, aku meminta maafmu yang sebesar mungkin. Kau boleh sekali bilang aku seorang pembohong. Karena saat ini, maaf, penerang hatiku bukan lagi Kinan yang dahulu kucinta. Purnamaku bukan lagi senyum indahmu yang kau berikan saat betapa aku merindukanmu. Cintaku, sampai serpihannya pun tak bisa lagi ke berikan padamu. Kau tahu, Kinan? Aku,,, telah mencintai selain kamu. Aku kejamkah? Baiklah. Kau boleh membenciku.

Tapi, sebelum kau membenciku maukah kau mendengarkan siapa yang aku cintai ini? Aku ceritakan bukan untuk membuatmu sakit hati. Tapi, aku ceritakan ini, agar kau terlepas dari sakit hati juga.
Kau tahu siapa pencipta purnama yang malam ini sedang ku pandangi? Kau tahu saiapa yang telah menciptakan rasa cinta dan sayang dalam hati kita? tahu kah kau siapa yang telah membuat kau dan aku ada, bertemu, berkirim surat, lalu aku terjun ke sungai dan terdampar di gubuk bambu ini. Kau tahu siapa?
Ya, itulah matahariku saat ini. Itulah purnama dalam gelapku saat ini. Itulah lentera dalam jalan yang kutiti saat ini. Tenaga dalam lemahku, asa dalam harapku, tujuan dalam langkah hidupku. Kau tahu siapa itu?

Aku memang pernah memberimu cinta. Tapi cinta Dia tak sebesar cinta yang aku berikan padamu. Darimu, akupun pernah merasakan sayang, tapi tak sayang Dia tak bisa disaingi siapapun.

Kinan, aku telah memutuskan cintaku padamu, dan menolak cintamu padaku. Tapi setelah ini, aku akan mengajakmu pada cinta yang tiada akhir dan tak terukur. Kita satukan lagi langkah kita, walau tak lagi bersama. Kita satukan cinta kita pada sang pemilik cinta. Biarlah Dia yang mengatur akan dibawa kemana cinta kita ini.

Di bawah purnama malam ini, kau mereduk di mataku. Tapi bukan untuk memadamkan cintamu. Melainkan menyalakan cinta lain yang lebih abadi.

Rabu, 17 September 2014

Saat Gelap Menuju Terang

(Sesekali nulisnya rata kanan, untuk melatih keseimbangan otak).

Dulu pernah ada seorang ustadz bilang, "Segala sesuatu yang terjadi, dari hal yang terkecil hingga hal besar, semua telah tertulis dalam kitab lauhful mahfudz." Itu artinya sudah dalam kepengaturan Allah.
Ada salah satu jema'ah yang bertannya, "Termasuk kalau kita marah, apa itu sudah diatur oleh Allah?"
"Betul." Kata Ustadznya.
"Lalu kenapa kita seolah dipersalahkan jika kita marah? Kalau kita bohong, dan itu sudah dalam kepengaturan Allah, kenapa kita dianggap berdosa saat kita marah?" Lanjut si penanya tadi.
"Yah, kemarahan dan kebohongan yang pernah kita lakukan memang sudah dalam kepengaturan Allah. Dan bagi Allah itulah yang terbaik bagi kita. Itulah model pendidik dari Allah. Salah dan benar hanyalah penilaian otak manusia saja." Jawab sang ustadz tenang.

***

Itulah sepenggal pelajaran yang baru saya mengerti setelah melewati perenungan dan peng-iqra-an lingkungan dan diri. Kesalahan yang pernah kita lakukan memang diperkenankan oleh Allah, bukan untuk memberikan cap buruk pada kita, tapi sebagai pendidikan bagi kita untuk mengetahui jalan yang salah dan benar.

Saat kita marah, saat itulah kita tahu marah itu seperti apa. Bila kita mampu merenunginya dengan hati dan akal yang ikhlas (karena Allah), maka kita akan menyadari bagaimana pengaruh rasa marah pada pikiran kita, pada hati kita dan pada semangat hidup kita. Terganggukan? Itulah pendidikan dari Allah kenapa Allah melarang kita marah-marah, karena hal itu mampu mengganggu kemurnian hati dan keimanan kita.

Saat kita berbohong, maka otak akan berputar memikirkan berbagai cara agar kebohongan kita tidak terungkap. Dengan berbohong juga seolah kita tidak menerima kenyataan yang terjadi. Menyangkal kenyataan, bukankah sama artinya menyangkal Kehendak dan hal yang terbaik menurut Allah bagi kita? Setidaknya, begitulah Allah mendidik kita melalui kebohongan yang pernah kita lakukan, untuk mengetahui bahwa berbohong sama artinya menolak Kehendak Allah yangterbaik.

Maka, untuk semua kejadian yang menimpa kita, kejadian yang kecil sampai kejadian besar sekalipun, itulah yang terbaik berdasarkan Kacamata Allah.Tak ada yang salah dengan masa lalu kita yang terlihat 'buruk'. Tak ada yang salah dengan perilaku kita yang seolah 'salah'. Semuanya baik. 'Benar' atau 'salah' hanyalah penilaian otak. Yang jahat hanyalah persepsi kita. Dan yang salah (lagi) hanyalah provokasi dari syetan pada akal kita tentang takdir yang telah terjadi.

Jika kita mampu mengiqra dengan lurus (karena Allah), maka dari kesalahan itulah kita akan mendapat sebuah pelajaran. Kenapa Allah menciptakan gelap (malam), karena Allah Mau menunjukkan apa itu bulan, bintang dan menciptakan waktu yang tepat untuk berkhalwat dengan-NYA (waktu qiyamul lail).
Juga mengajarkan tentang apa itu cahaya. Kenapa Allah Menghendaki sebuah kesalahan untuk kita lakukan? Karena Allah ingin menujukkan mana yang benar dan mana yang salah. Jika kita tak pernah salah, darimana kita akan tahu mana yang benar?

Seperti itulah Allah Memberikan gelap agar kita mampu menemukan dan menuju pada cahaya-NYa.

*bagi yang baca catatan ini, kalo ada yang salah mohon disilaturahimkan agar saya bisa memperbaiki kekurangan dari pemahaman saya. Terima kasih. Semoga bermanfaat, tapi tidak memuaskan,,, :-)

Selasa, 16 September 2014

Penulisnya tak mau memberi judul.



Aku sakit maag lagi. Seseorang ngasih komen di FB. Katanya karena aku banyak pikiran. Apa? Aku mikirin apa?

Sebulan merasakan bebas dari larangan makanan apapun. Bisa makan kopi, walau dengan prasyarat tertentu, bisa makan mi rebus dengan prasyarat tertentu, kecuali makanan dan minuman yang berasaasam. Sebulan juga merasakan senang dan semangat dalam bekerja, euforia pekerjaan barunya masih terasa. Sebulan waktu itu bagiku adalah sebulan kemerdekaan yang membahagiakan.

Setelah sebulan berlalu, pekerjaan bertambah banyak. Perang pikiran mulai terjadi. Antara gak mau melakukan tugas ini itu dengan perintah si bos untuk melaksanakan ini itu. Hmm,,,, masih ada perasaan terpendam? Sempat juga kesal dengan sistem penggajian. Sang istri bos yang kerjaan di kantor ngerjain skripsi atau ngasuh anaknya tetep dapet gaji yang sama denganku. Sedangkan kerjaanku, harus mengadministrasikan keuangan (padahal ini kerjaan si istri bos). Akad awalnya aku diminta bantuan administrasi keuangan. Tapi nyatanya aku semua yang mengerjakan, kecuali pegang uang dan atmnya saja. Padahal seharusnya pikiran itu tidak masuk dalam daftar pikiranku. Yang masuk dalam daftar pikiranku adalah aku haurs kerja dan mendapat penghasilan. Selain ngurus keuangan, juga jadi notulen kalau ada klien, jadi direktur PSDM yang waktu itu harus banyak surat yang dibuat, dan juga membuat jurnal. Padahal tugas awal aku saat melamar pekerjaan adalah membuat jurnal. Membuat jurnal saja kadang membuat kepala kehilangan keseimbangan karena keras dan seriusnyanya berpikir. Setelah satu bulan merasakan euforia pekerjaan baru, maka selanjutnya penat dan lelah mulai terasa.

Lain di kantor, lain pula persoalan di kostan. Di Agustus minggu kedua, salah satu temanku menjauhiku, mencuekkanku. Dia tidak banyak bercerita padaku, bahkan tidak bercerita sama sekali. Padahal sebelumnya, dimana kami bertemu, di sana dia bercerita panjang lebar. Karena sepotong ayam, atau entah karena do’aku untuk sedikit menjauhkan dia dariku, maka dia pun menjauhiku. Bukan selama tiga hari, tapi entah sampai kapan. Kini sudah hampir tiga minggu berlalu, tapi dia masih bungkam di hadapanku. Karena tidak mau terlalu memikirkan hal ini, maka aku bersiakap sebiasa mungkin. Bertanya pada dia, ngajak ngobrol sesekali. Tapi dia masih saja bersikap seperti itu. Semula, sikap dia tak terlalu kupikirkan. Tapi,,, rasa kesal menguap bersamaan dengan lelahnya pekerjaan di kantor.

Mhq, itu lain soal lagi. Dari tahun ke tahun, mhq selalu jadi momok yang menyeramkan. Tapi seseram apapun itu, aku tetap harus menjalankannya. Kenapa merasa seram?? Entahlah. Aku merasa itu proyek/penjualan yang besar yang aku sendiri gak tahu harus begaimana menjalankannya.

Masih berpikir ini dengan logika? TER-LA-LU!!!!!

Lain soal pekerjaan, lain juga soal hobi dan cita-citaku. Hobi nulis dan cit-cita jadi penulis membuatku mengagendakan nulis dan membaca dimalam harinya. Setelah siang hari bekerja, sore bisnis bertemu orang ini itu, dan harinya aku nulis dan baca-baca. Tidur diagendakan jam 00.00. kadang tidur jam 01.00. kegiatan nulis dan baca ini kadang membebani juga, satu sisi aku ingin tidur, sisi lain aku harus nulis dan baca setiap malamnya. Setelah seharian otak dan badan bekerja, malam hari pun aku masih harus berpikir. Tapi bukankan wajar kalau otak manusia digunakan untuk berpikir dan bekerja? Belum lagi, di sebuah pelatihan menulis, minggu ini mengharuskan pesertanya menulis satu artike setiap harinya. Kadang itu menjadi beban pikiran juga. Tapi beban pikiran yang dinikmati untuk melakukannya.

Mungkin cuma empat hal ini yang memberatkan pikiranku. Soal kantor yang mulai melelahkan, soal teman kostan yang mulai bikin kesal karena sikap cueknya itu, dan soal maju-ragu langkah dalam mhq, dan soal nulis. Maka aku ingat, di pagi itu, pagi hari selasa tanggal 9 September 2014, sambil jalan di motor menuju tempat kerja, aku berpikir, perasaan sudah lama aku gak sakit. Melakukan istirahat di rumah untuk satu dua hari. Membebaskan pikiran dari belenggu pikiran-pikiran. Dan menjauh dari semua hingar bingar suara kehidupan yang menuntut untuk bekerja keras dan bersaing. Kostan yang dulu hangat dan menentramkan, kini sepi dan membosankan.

Selasa malamnya, saat aku janjian ketemu teman, tiba-tiba nafasku berat. Berat yang tak pernah aku alami sebelumnya. Aku bicara seperti habis lari lima keliling lapangan dengan kondisi badanku yang tak pernah dipake olah raga.

Esok paginya aku pergi ke dokter. Beratnya/sesaknya nafas ini katanya masih dari maag. Omegot!!! Dan hari itu, sepertinya Allah mengabulkan do’aku. Aku istirahat di kostan selama dua hari. Jum’at aku masuk kerja. Tapi pulang kerja, si uluhati kembali berteriak, membuat badanku lemes dan kepala pusing. Sabtu minggu kembali aku rehatkan badan.

Karena kondisi kostan yang sedang sepi (orang-orang kostan pada pulang. Tinggal aku berdua sama teman yang masih saja mencuekkanku). Istirahat di kostan kadang menambah kesal. Sakit ini itu, makanan gak ada, pagi siang malam harus makan on time, pengennya ada yang nyediain makanan. Tapi ternyata...? Tak jarang harus menahan sakit uluhati saat mencari makanan.

Dan sampailah pada hari ini, rabu 17 Sept. 2014. Aku masih berlemes-lemes ria di rumah orang tuaku. Kemarin si dokter memberi aku obat tidur. Semalam temanku komentar di FB aku kebanyakan pikiran. Apa karena pikiran-pikiran itu?

Semula aku berpikir untuk sakit karena aku ingin istirahat dari semua hingar bingar dan semua tuntutannya. Sepertinya sekarang inilah saatnya, aku harus istirahat, menata ulang niat dan menata ulang kegiatan yang harus ku jalani.

Dan mungkin karena pikiran-pikiran ini sang dokter memberiku obat tidur. Lucunya hidup si aku ini,,, ;-)

Sudah Dulu, Titik!

Satu minggu lamanya kembali bergelut dengan si maag. Makan mual, uluhati sakit, badan lemes, ditambah lagi dengan nafas yang berat. Setelah sebelumnya merasa merdeka dari larangan makan ini itu, kini aku reuni lagi dengan si maag. omegooootttt,,,, padahal baru sebulan aku berpisah dengannya. Kini harus bertemu lagi.

Duh gustiii,,,, jari masih ingin ngetik, tapi mata sudah gak kuat. Otak udah slowres. Mungkin ini efek obt tidur yang tuan dokter berikan tadi pagi. Pliissss,,,, aku masih ingin menikmati malam dengan rangkaian kata yang sudah ada di ujung jari.... tapiiiiiiiiiiiii,,,,,

Sepertinya wassalam....

Sudah dulu, titik (.).

Paha Ayam untuk 5cm



Saat ini aku tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh empat orang. Di rumah itu kami ngontrak. Kami berempat telah saling mengenal lebih dari satu tahun, atau sebelum kami tinggal satu atap sebelas bulan terakhir ini.

Sebelas bulan bersama ketiga temanku, sediktinya aku telah mengenal mereka. Kebiasaan mereka, sifat mereka, watak mereka satu persatu telah ku kenali. Dua orang plegmatis, satu orang koleris dan aku,,, apapun lah. Tergantung orang yang sedang dihadapi. Si plegmatis selalu cerewet dengan kerapihan kostan. Ada kebiasaan dia marah-marah karena ada baju yang digantung di sembarang tempat. Oh,,, my lovely fren. Dari beliau saya belajar tentang kepekaan dan ketafahuman pada orang lain.

Dalam waktu sebelas bulan, aku mendekati satu persatu secara personal. Dari si plegmatis satu, lalu plegmatis dua dan yang terakhir adalah si koleris. Sebulan sebelum ramadhan kemarin aku mulai mendekati si koleris. Dekat dalam artian lebih sering berkomunikasi dan mengenali wataknya lebih dalam lagi. Tapi dibalik itu, aku juga gak suka pertemanan yang terlalu dekat. Sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak tetap saja ku jaga. Kenapa? Karena seorang teman pun bisa menjadi ilah bagi seseorang. Teman itu bisa menjadi saudara yang saling menggenggam tangan untuk bisa istiqomah dalam kebenaran, tapi ia juga bisa menjadi teman yang mengajak pada sebuah kemaksiatan. Oleh karena itu, sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak tetap dijaga, walaupun hanya 5 cm. Dengan si koleris, masuk bulan agustus, aku merasa terlalu dekat dengan dia. Kedekatan yang melebihi batas. Maka, aku berdo’a agar pertemanan kami sedikit diberi jarak atau sedikit dijauhkan. Sepertinya Allah pun Mengabulkan.

Singkat cerita masuk bulan juni aku dekat dengan si koleris. Dia senang bercerita. Kalau terus dilayani, dia bisa bercerita selama berjam-jam. Dari cerita soal cacing si makhluk kecil dan hidup di dalam tanah, hingga ke pembahasan matahari dengan ukuran dan kadar panasnya. Gak nyambung? Tapi oleh beliau bisa saja nyambung. Kemampuan berbicara memang menjadi satu potensinya.

Dalam kedekatan kami, dia telah kenal aku yang cablak. Apapun yang ada di pikiran, bisa keluar dengan bahasa yang kadang polos, kadang lucu atau kadang dengan bahasa yang gak dimengerti. Begitupun dengan dia. Yang aku kenali, dia orang yang blak-blakan, tegas dan sedang dalam proses belajar memahami dan bersabar menghadapi ketiga teman kostannya.

Maka, pada satu sore, aku dengan dia makan satu nasi bungkus bersama. Teman nasinya adalah satu potong paha ayam dan sayuran. Ceritanya kami berdua sedang ngirit pengeluaran. Dia yang rajin dan kerennya makannya juga cepat. Sore itu kami sedang ngumpul bertiga, aku, si koleris dan si plegmatis satu. Sambil makan, aku ngobrol dengan si plegmatis satu. Aku tertarik pada  cerita dia waktu di sekolahnya hari itu. Satu suap, dua suap nasi dengan sayur masuk ke mulutku. Aku lebih intensif mendengarkan cerita si plegmatis ketimbang makan nasi. Setelah si plegmatis satu selesai bercerita, aku melirik nasi. Dan mataku tercengang. Mulanya aku ragu untuk bilang pada sikoleris bawha aku gak kebagian ayam. Yang tersisa memang tinggal tulang ayam saja. Sedangkan aku belum makan daging ayam itu sedikitpun. Dengan nada bercanda akhirnya aku berkata, “Iiihhh,,, aku belum kebagian ayamnya. Kok udah habis?”

Si koleris menjawab, “Jadi maksudnya, ayamnya cuma aku yang makan? Ya sudah, aku berhenti makan. Aku mah mau pundung. Merasa jadi tertuduh ngabisin ayam.” Setelah itu, sahabatku si koleris menghentikan makannya lalu cuci tangan. Ku lirik nasi dan sayurnya tinggal sedikit sedangkan daging ayamnya sudah habis. Ku pikir dia bercanda saat dia bilang mau pundung. Biasanya juga dia gak mudah kesinggung. Tapi sepertinya sore itu suasana hatinya sedang berbeda. Keesokan harinya, dia tak seakrab seperti hari-hari sebelumnya.

Peristiwa paha ayam itu terjadi sekitar bulan kedua di bulan Agustus. Melihat dia dengan sikapnya yang cuek padaku, ku pikir aku akan bersikap sebiasa mungkin dengan dia, sambil berharap dia akan secepatnya kembali seperti biasanya. Bolehlah dia cuek padaku. Tapi bagiku dia tetap teman yang telah memberiku banyak pelajaran. Tiga hari kemudian, aku pikir dia akan mulai membaik. Tapi dia masih dengan sikap  cueknya. Ditanya, menjawab seperlunya. Kalau kebetulan sedang duduk bersama, tak ada lagi berondongan cerita dari dia. Tapi kalau sedang duduk dengan si plegmatis dua, dia bersikap biasa dengan berondongan ceritanya.

Huuuftt,,, ternyata dicuekkan teman itu nggak enak. Si nafsu, tentunya ingin bersikap lebih cuek lagi pada dia. Tapi, akal tak menghendaki itu. Akhirnya,,,, ya sudahlah, menunggu dia mau membuak suaranya lagi untukku.

Dan pagi tadi, setelah tiga setengah minggu dia bungkam padaku, dia mulai membuka suaranya untukku. Aaahhh,,,, senangnya!!! Rasanya ingin melayang sambil tersenyum sendirian. Lalu turun dan memeluk dia.
Haduh,,, di balik do’a yang terkabul, paha ayam telah memisahkan kami selama tiga setengah minggu.  

Senin, 15 September 2014

Sepiring Gado-Gado



Hari ini. Yah, hari ini. Hari ini adalah hari senin tanggal 15 September 2014. Dan pertama kali saya nulis tugas One Day One Article dari pelatihan menulis dengan hati. Harusnya aku mengumpulkan tugas ini pada jam 21.00. Udah nawar ke pak Ketu, tapi belum ada balasan. Ya sudahlah. Nyampe kostan jam 21.30, Hp udah bergetar-getar ria (gak mau membukanya karena pasti dari peserta MdH), tapi otak belum tahu harus menuliskan apa.

Dari latihan one day one article ini, sebelum memuntahkan isi otak ke dalam tulisan,  saya dapat sesuatu pelajaran. Bahwa, setiap hari adalah hari baru, setiap hari menjadi kertas putih dan manusia memiliki hak untuk mengisi kertas itu walau ia tidak tahu sampai kapan akan diberi kesempatan menulis di kertas kehidupan itu. Setiap hari yang Allah berikan pada manusia pasti dengan satu harapan, bahwa manusia itu bisa hidup lebih baik dari hari kemarin dan menuliskan kisah yang lebih baik dari waktu sebelumnya. Karena memang kesempatan waktu yang Allah berikan adalah wujud kasih sayang Allah agar manusia bisa berbuat lebih banyak kebaikan. So, bagaimana dengan hari ini yang telah aku lalui?

Pagi ini diawali oleh kemesraanku dengan kamar mandi. Omegot,,, makan apa aku malam kemarin, sampai pagi harinya harus bolak-balik kamar mandi. Tapi untunglah tidak lama. Setelah minum satu gelas teh manis panas (kata orang tua, teh dapat mengurangi frekuensi buang air ketika sakit perut) dan sepiring nasi, maka sang perut sudah tidak berorasi lagi. Lappper kali yaa si perut??? Setelah beres dengan ritual pagi (prepare sebelum berangkat kerja), maka sampailah aku di kantor.

Di kantor, rasanya masih seperti hari jum’at kemarin. Bosnya keluar, di kantor tinggalaku dan sang istri bos beserta anaknya yang berusia 1 tahun. Bolehlah aku bercanda dengan anaknya yang lagi lucu-lucunya, tapi kalau sang istri bos sudah bercerita tentang anaknya yang katanya dianiaya oleh pembantunya maka aku merasa jadi si pembantu yang menganiaya anaknya. Okelah beliau curhat tentang kekesalannya pada si pembantu karena telah membuat kaki anaknya luka kena setrika.  Tapi kalau beliau curhat sambil marah-marah,,,,,, aku merasa jadi pembantunya yang sedang dimarahin sang majikan. Pengen tutup telinga, gak sopan. Ngalihin pembicaraan, beliau malah balik lagi curhat. Kalau sudah masuk moment curhat sambil marah-marah seperti itu, jalan keluarnya hanya satu, “Bu, saya izin ke air dulu!” Maka, bereslah sudah curhatan sang istri bos (untuk sementara waktu)... heuuuu,,,, :,(

Masuk jam 14.00. Klien yang akan konsultasi jurnal datang. Seorang dosen Psikologi Unpad yang juga sedang sekolah S3. Waahhh,,,, kalau ibu ini datang ke kantor, bahkan mau berjam-jam beliau bercerita hayu-lah aku jabanin. Kenapa? Karena apa yang beliau bicarakan selalu memberikan pengetahuan baru. Pertama kali beliau konsultasi, beliau bercerita tentang ‘agama-agama’ baru yang bermuculan karena memenuhi syarat sebuah agama. Beliau berkata, “Bahkan di zaman sekarang, pertandingan sepak bola pun bisa menjadi agama.” Hwaaaauuuu,,,, berharap ibu dosen bisa di kantor sampai jam malam. Gak akan bosen deh aku dengerin beliau. Dan hari ini, di sela-sela konsultasi beliau tentang jurnalnya, beliau bercerita soal negara-negara sumber ilmu psikologi dan perbedaannya. Aku gak bakalan bosen deh mau disuruh jadi notulen sampai 24 jam juga. Heheee..... trus emang ibu dosennya gak ada pekerjaan lain? Hahaaa....

Dari beliau saya mendapat inspirasi. Pokoknya saya harus banyak membaca dan menulis. Karena, pengetahuan dan ilmu itu lebih mahal dibanding segunung harta yang dimiliki.
Jam 16.00 pulang kerja. Niatnya aku mau menyempatkan nulis. Tapi, ohh,,, teman aku yang mau nginep minta dijemput. Huuuftt.... udah semangat megang senjata (buku dan balpoin) walau belum ada ide mau nulis apa, terpaksa harus menyimpan kembali senjata ke dalam tas.
Sudah masuk maghrib, maka pekerjaan selanjutnya sudah menanti. Seorang sales dari salah satu penerbit di Bandung ngajak aku kerja sama untuk ngisi web penjualan mereka. Hmm,,,, ngobrol dengan orang yang satu ini (sales, cewek) pasti saja pembicaraan diwarnai dengan cita-cita keliling dunia, sarapan pagi di Braga, jadi haji backpacker, tawaran jalan-jalan ke Thailand yang ongkosnya cuma 1.300.000,,, dan cita-cita lain yang berbau petualangan. Bersama beliau selalu muncul satu kata, SERU! Dari beliau, aku belajar semangat dan marketing. Dari jam 19.00 pekerjaan baru beres jam 21.30. Aduh ibuuuuu,,,, tab aku udah nguk-ngek dan tak tahulah apakah tugas one day one article ini akan diterima atau tidak.

Tapi, terlapas dari diterima atau tidaknya, setelah menuliskan tulisan ini (walaupun sepertinya gak jelas alurnya), aku teringat ilmu-ilmu yang aku terima tentang menulis dari teman-temanku yang sudah sukses menjadi penulis. Dia seorang reporter dan penulis puisi aktif berkata, menulis itu harus tulus dan hati merasa senang ketika menulis. Dia, seorang dislexia yang berhasil menjadi penulis novel dan kini sedang berbadan dua berkata, untuk membiasakan menulis, tuliskanlah apapun yang ada di otak kamu. Dan, tulisan yang jelek saat ini adalah lebih bagus daripada tidak menulis sama sekali.

Maka, diujung tulisanku saat ini, terlepas apakah tugas ini kan diterima atau tidak, saya tetap bahagia karena hari ini telah menulis. Inilah gado-gado cerita yang akan terasa nikmat kalau diri mau berpikir positif atas semua kehendak Allah.