Ujian
harta dan tahta itu berasa dititup-tiup angin. Berhembus, seger, bahkan kadang berasa
melayang-layang. Setiap saat berbunga-bunga, berasa mampu melakukan apa aja,
berasa punya segala hal. Berasa diri udah jadi ‘waaah!’. Berasa jadi seleb. Berasa
jadi orang penting. Pikiran terus mengingat kemampuan/kehebatan diri. Berasa ingin
terus berpikir ‘wah, aku hebat’. Perasaan terus merasa jadi hebat. Dari mulai
cara senyum dan berjalan udah beda aja.
Teringat
tekad yang pernah terucap: harus jadi penulis hebat untuk berbagi kebaikan dan
kaya harta dengan wirausaha.
Bagaimana
aku akan mampu mencapai tekad itu kalau tulisan baru dimuat di majalah, cerpen
yang baru lolos terbit dan gaji yang baru aja naik jadi sesuai UMR, tak mampu
mengendalikan diri agar tetap membumi?
Bagaimana
Allah akan Meridhoi aku jadi orang kaya dan sukses kalau dengan ujian secuil
itu saja diri sudah melangit?
Teringat
tekad menjadi kaya bukan untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk membantu
orang tua, menyekolahkan adik, membantu saudara-saudara yang membutuhkan dan
untuk beramal sholeh lainnya. Harta untuk diri cukuplah sejumlah biaya makan,
bensin dan pulsa saja. Bagaimana bisa tekad aku terwujud kalau baru naik gaji
aja gaya hidup udah melangit?
Baiklah.
Jadikan bulan ini sebagai bulan latihan mengatur harta dan mengatur diri agar
tetap membumi dengan prestasi kecil yang telah dititipkan-Nya. Memang, untuk
bisa kaya tak bisa hanya dengan usaha sesaat. Untuk mampu memanaj keuangan yang
sesuai dengan kehendak Allah dan menjaga diri agar tetap membumi tak bisa hanya
dengan sekali dua latihan. Butuh waktu untuk mampu membuat diri mampu memanaj
harta dan diri.
Ingat!
Untuk menjadi kaya harus jelas tujuannya, mampu mengelola hartanya dan didapat
dengan cara yang baik dan benar. Dengan begitu, semoga Allah percaya dan ridho
untuk menitipkan harta yang lancar pada diri. amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar