Jumat, 06 Mei 2016

Ujian Harta Tahta


Ujian harta dan tahta itu berasa dititup-tiup angin. Berhembus, seger, bahkan kadang berasa melayang-layang. Setiap saat berbunga-bunga, berasa mampu melakukan apa aja, berasa punya segala hal. Berasa diri udah jadi ‘waaah!’. Berasa jadi seleb. Berasa jadi orang penting. Pikiran terus mengingat kemampuan/kehebatan diri. Berasa ingin terus berpikir ‘wah, aku hebat’. Perasaan terus merasa jadi hebat. Dari mulai cara senyum dan berjalan udah beda aja.

Teringat tekad yang pernah terucap: harus jadi penulis hebat untuk berbagi kebaikan dan kaya harta dengan wirausaha.
Bagaimana aku akan mampu mencapai tekad itu kalau tulisan baru dimuat di majalah, cerpen yang baru lolos terbit dan gaji yang baru aja naik jadi sesuai UMR, tak mampu mengendalikan diri agar tetap membumi?
Bagaimana Allah akan Meridhoi aku jadi orang kaya dan sukses kalau dengan ujian secuil itu saja diri sudah melangit?

Teringat tekad menjadi kaya bukan untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk membantu orang tua, menyekolahkan adik, membantu saudara-saudara yang membutuhkan dan untuk beramal sholeh lainnya. Harta untuk diri cukuplah sejumlah biaya makan, bensin dan pulsa saja. Bagaimana bisa tekad aku terwujud kalau baru naik gaji aja gaya hidup udah melangit?

Baiklah. Jadikan bulan ini sebagai bulan latihan mengatur harta dan mengatur diri agar tetap membumi dengan prestasi kecil yang telah dititipkan-Nya. Memang, untuk bisa kaya tak bisa hanya dengan usaha sesaat. Untuk mampu memanaj keuangan yang sesuai dengan kehendak Allah dan menjaga diri agar tetap membumi tak bisa hanya dengan sekali dua latihan. Butuh waktu untuk mampu membuat diri mampu memanaj harta dan diri.

Ingat! Untuk menjadi kaya harus jelas tujuannya, mampu mengelola hartanya dan didapat dengan cara yang baik dan benar. Dengan begitu, semoga Allah percaya dan ridho untuk menitipkan harta yang lancar pada diri. amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar