Welcome 2016...
(Seneng pake titik-titik di
akhir kalimat sebagai tanda keriangan dari ungkapan yang kutulis, heheee...)
Kerja
atau Wirausaha????
Huuufttt.... Buang nafas yang
dalam, mengingat jarangnya aku mengisi blog sendiri. Tapi meskipun jarang isi
blog, aku masih rajin bikin jurnal harian, walau baru merajinkan diri di akhir
tahun 2015, hhee...
Sepertinya keintrovertanku
benar-benar mengganggu langkah hidupku (meski kadang ada teman yang gak
percaya aku introvert). Iya lah dia gak akan percaya aku introvert. Kan dia
seorang yang jadi tempat sampah dari cerita-ceritaku. Hmm...#melotot kecewa. Pernah
kubaca dari sebuah artikel, bahwa seorang introvert itu akan tetap dengan satu
teman jika dia telah nyaman dengan teman tersebut. Dan memang seperti itulah
kenyataan yang terjadi pada diriku. Hidup tujuh tahun terakhir ini hanya pada
dia aku bisa bercerita soal masalah pribadiku.
#Perhatian: pembahasan introvert
sebagai alasan aku nulis jurnal harian tanpa diposting ke blog. Kebiasaan buruk
itu jika nulis tak tentu arah yaa...
Tanya: lalu apa artinya
tulisan yang aku bikin dari tahun-tahun kemarin?
Jawab: entahlah. Tapi yang aku rasakan
aku seorang introvert. Titik!
Baiklah, berhenti berbicara aku
introvert atau tidak, karena sekarang bukan soal itu yang akan aku tuliskan. Aku
mau menulis tentang si aku dan jalan hidup yang akan aku lalui. Tentunya dengan
sebuah hikmah yang harapannya bisa menjadi buah pelajaran bagi semua orang.
Daaannn,,, SELAMAT DATANG di
2016...!!!!!!
Meski terdengar telat, tapi tak
apalah. Untuk memotivasi diri sendiri selalu tidak ada kata telat. Semua selalu
tepat pada waktunya, seperti kata pepatah: semua akan indah pada waktunya.
Dan semangat 2016-ku di awal Februari ini adalah masa yang tepat bagi semangat
awal tahunku. Lagian Febuari juga masih termasuk bulan awal, kan??? #haa_maksa.
So, awal Februari ini menjadi
awal semangat juga untuk mengisi kembali ruang tulisanku (blog). Bukan hanya
membuat jurnal harian diri sendiri, tapi semangat ngeblog aku jadikan media
untuk belajar berlepas diri dari medan introvert. Bercerita masalah pribadi
bukan hal yang mudah bagi lisanku. Tapi dengan niat ingin belajar ekstrovert,
semoga blog ini dapat menjadi salah satu media bagiku belajar lebih terbuka
lagi. Selain itu, moga bisa istiqomah dalam mengisi ruangan ini, karena
cita-citaku untuk menjadi penulis belum juga pudar dari tahun kemarin. Blog ini,
semoga menjadi salah satu media bagiku untuk menggapai mimpiku itu. Amin.
Awal Februari ini juga jadi awal
pemikiran yang baru tentang jalan hidupku: jadi WIRAUSAHAWAN. Berasa mengulang
awal tahun 2015 kemarin. Awal tahun 2015 kemarin aku melewatinya dengan
semangat wirausaha. Usahanya adalah jualan produk MLM dan mulai menata manajemen usaha meubel orang
tuaku. Namun semangat itu pudar ketika aku kembali pada status pekerja di
tempat aku bekerja sebelumnya karena senang dengan jenis pekerjaannya (bikin
jurnal ilmiah) dan juga senang karena dapat gaji bulanan. Jadi wirausaha
gak kepikiran lagi. Sampai akhir tahun 2015 si aku pun kerja dengan beragam
keluhan yang hanya tersimpan dalam hati.
Masuk Januari 2016, penyakit berontakku
kambuh. Mulai muncul pikiran gak mau diperinta-perintah. Pekerjaan terakhir di
Januari kemarin adalah nyusun buku. Hadoohhh itu nyusun buku bikin aku sakit
perut (sakit perut efek gangguan lambung kalau pikiran dalam keadaan
tertekan). Bukan karena nyusun bukunya yang bikin aku sakit perut, tapi karena
deadline yang tidak manusiawi. Si bos ingin aku nyusun buku minimal 200 halaman
dalam 3 hari.
Memang sih bahannya udah ada,
dari disertasi. Aku tinggal mindahin aja. Tapi gak semua materi yang dibutuhkan
ada di dalam disertasi. Dalam buku itu ada sedikit pola pikirku yang sumbernya
gak ada dari disertasinya. Jadi aku harus bikin karangan sendiri. Deadline itu,
bikin aku gak enak makan, gak tidur nyenyak, juga bikin gampang kesal kalau ada
orang yang bikin keganggu. Sungguh, kehidupan dengan deadline saat itu bukanlah
kehidupanku yang sebenarnya.
Maka setelah pekerjaan menyusun
buku itu beres, pikiran mulai merasa sebal kerja di sana lalu menjalar ke arah
wirausaha. (Berasa mengulang kejadian tahun lalu). Usaha yang terbayang
dalam pikiranku adalah penulis dan mengembangkan usaha meubel orang tuaku.
Usaha meubel ini benar-benar rajin
mengunjungi pikiranku. Bagaimana gak kepikiran? Usaha meubel orang tuaku sudah
berdiri sejak tahun 1995. Sayang kan kalau gak dikembangin? Meski aku gak tahu
langkah kedua yang harus aku lakukan apa, tapi setidaknya niat yang kuat cukup
menjadi langkah awal memulai usaha ini.
Dan...
wirausaha selalu menjadi hantu dalam pikiranku!
Kata wirausaha,
dari mulai lulus kuliah tak pernah hilang dalam pikiranku. Beda dengan jadi
guru atau jadi PNS. Kedua profesi itu tak pernah melekat lama dalam pikiranku. Tapi
wirausaha, dari tahun 2012 tak pernah lepas dari pikiranku. Ya, memang sesekali
hilang, jika sedang merasa lelah dengan wirausaha. Tapi setelah itu, kepikiran
lagi. Terlebih aku memiliki sikap yang beda dengan kebanyakan orang jika aku
harus kerja di orang lain atau di perusahaan. Susah bersosialisasi dengan baik
dan sering kesal kalau disuruh-suruh. Jangankan untuk pekerjaan yang tak aku
sukai, pekerjaan yang aku sukai aja bikin aku geram jika udah disuruh-suruh. Pernah
dulu aku kerja di sebuah perusahaan di Bandung, nyatanya,,, dua minggu kerja
sudah bikin vertigo kambuh. Lalu akhir bulan aku putuskan mengundurkan diri. Kerja
di sana hanya bertahan sebulan dengan pekerjaan admin yang belum terbiasa diotakku,
juga dengan lingkungan yang tak bisa membuatku bebas berekspresi. ‘Gagal sosialisai’,
aku katakan saja begitu. Bukan karena orang-orang yang ada di tempat kerja itu
yang salah, tapi karena aku tak biasa dengan lingkungan yang ramai karena
banyak orang (tuh, benerkan aku introvert? Hee).
Lalu, pikiran
pun kembali bersandar pada kata ‘wirausaha’.
Dengan pola
pikir seperti itu, sudahkah aku memiliki salah satu jiwa wirausahawan???
*****
Selalu tak ada kejadian yang
kebetulan, termasuk pikiran. Meski untuk melangkah di jalan wirausaha ini masih
terlihat gelap, tapi aku kenal dengan sang penguasa kegelapan. Karena-Nya,
keadaan gelap bisa dirubah jadi terang. Jadi, kenapa aku masih takut dengan
kegelapan itu????
Subang, 02 Februari
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar