Selasa, 02 Februari 2016

Selamat Datang 2016... (Kerja atau Wirauasaha?)


Welcome 2016...
(Seneng pake titik-titik di akhir kalimat sebagai tanda keriangan dari ungkapan yang kutulis, heheee...)

Kerja atau Wirausaha????

Huuufttt.... Buang nafas yang dalam, mengingat jarangnya aku mengisi blog sendiri. Tapi meskipun jarang isi blog, aku masih rajin bikin jurnal harian, walau baru merajinkan diri di akhir tahun 2015, hhee...
Sepertinya keintrovertanku benar-benar mengganggu langkah hidupku (meski kadang ada teman yang gak percaya aku introvert). Iya lah dia gak akan percaya aku introvert. Kan dia seorang yang jadi tempat sampah dari cerita-ceritaku. Hmm...#melotot kecewa. Pernah kubaca dari sebuah artikel, bahwa seorang introvert itu akan tetap dengan satu teman jika dia telah nyaman dengan teman tersebut. Dan memang seperti itulah kenyataan yang terjadi pada diriku. Hidup tujuh tahun terakhir ini hanya pada dia aku bisa bercerita soal masalah pribadiku.

#Perhatian: pembahasan introvert sebagai alasan aku nulis jurnal harian tanpa diposting ke blog. Kebiasaan buruk itu jika nulis tak tentu arah yaa...

Tanya: lalu apa artinya tulisan yang aku bikin dari tahun-tahun kemarin?
Jawab: entahlah. Tapi yang aku rasakan aku seorang introvert. Titik!

Baiklah, berhenti berbicara aku introvert atau tidak, karena sekarang bukan soal itu yang akan aku tuliskan. Aku mau menulis tentang si aku dan jalan hidup yang akan aku lalui. Tentunya dengan sebuah hikmah yang harapannya bisa menjadi buah pelajaran bagi semua orang.

Daaannn,,, SELAMAT DATANG di 2016...!!!!!!

Meski terdengar telat, tapi tak apalah. Untuk memotivasi diri sendiri selalu tidak ada kata telat. Semua selalu tepat pada waktunya, seperti kata pepatah: semua akan indah pada waktunya. Dan semangat 2016-ku di awal Februari ini adalah masa yang tepat bagi semangat awal tahunku. Lagian Febuari juga masih termasuk bulan awal, kan??? #haa_maksa.
So, awal Februari ini menjadi awal semangat juga untuk mengisi kembali ruang tulisanku (blog). Bukan hanya membuat jurnal harian diri sendiri, tapi semangat ngeblog aku jadikan media untuk belajar berlepas diri dari medan introvert. Bercerita masalah pribadi bukan hal yang mudah bagi lisanku. Tapi dengan niat ingin belajar ekstrovert, semoga blog ini dapat menjadi salah satu media bagiku belajar lebih terbuka lagi. Selain itu, moga bisa istiqomah dalam mengisi ruangan ini, karena cita-citaku untuk menjadi penulis belum juga pudar dari tahun kemarin. Blog ini, semoga menjadi salah satu media bagiku untuk menggapai mimpiku itu. Amin.

Awal Februari ini juga jadi awal pemikiran yang baru tentang jalan hidupku: jadi WIRAUSAHAWAN. Berasa mengulang awal tahun 2015 kemarin. Awal tahun 2015 kemarin aku melewatinya dengan semangat wirausaha. Usahanya adalah jualan produk MLM dan  mulai menata manajemen usaha meubel orang tuaku. Namun semangat itu pudar ketika aku kembali pada status pekerja di tempat aku bekerja sebelumnya karena senang dengan jenis pekerjaannya (bikin jurnal ilmiah) dan juga senang karena dapat gaji bulanan. Jadi wirausaha gak kepikiran lagi. Sampai akhir tahun 2015 si aku pun kerja dengan beragam keluhan yang hanya tersimpan dalam hati.
Masuk Januari 2016, penyakit berontakku kambuh. Mulai muncul pikiran gak mau diperinta-perintah. Pekerjaan terakhir di Januari kemarin adalah nyusun buku. Hadoohhh itu nyusun buku bikin aku sakit perut (sakit perut efek gangguan lambung kalau pikiran dalam keadaan tertekan). Bukan karena nyusun bukunya yang bikin aku sakit perut, tapi karena deadline yang tidak manusiawi. Si bos ingin aku nyusun buku minimal 200 halaman dalam 3 hari.
Memang sih bahannya udah ada, dari disertasi. Aku tinggal mindahin aja. Tapi gak semua materi yang dibutuhkan ada di dalam disertasi. Dalam buku itu ada sedikit pola pikirku yang sumbernya gak ada dari disertasinya. Jadi aku harus bikin karangan sendiri. Deadline itu, bikin aku gak enak makan, gak tidur nyenyak, juga bikin gampang kesal kalau ada orang yang bikin keganggu. Sungguh, kehidupan dengan deadline saat itu bukanlah kehidupanku yang sebenarnya.
Maka setelah pekerjaan menyusun buku itu beres, pikiran mulai merasa sebal kerja di sana lalu menjalar ke arah wirausaha. (Berasa mengulang kejadian tahun lalu). Usaha yang terbayang dalam pikiranku adalah penulis dan mengembangkan usaha meubel orang tuaku.
Usaha meubel ini benar-benar rajin mengunjungi pikiranku. Bagaimana gak kepikiran? Usaha meubel orang tuaku sudah berdiri sejak tahun 1995. Sayang kan kalau gak dikembangin? Meski aku gak tahu langkah kedua yang harus aku lakukan apa, tapi setidaknya niat yang kuat cukup menjadi langkah awal memulai usaha ini.

Dan... wirausaha selalu menjadi hantu dalam pikiranku!
 Kata wirausaha, dari mulai lulus kuliah tak pernah hilang dalam pikiranku. Beda dengan jadi guru atau jadi PNS. Kedua profesi itu tak pernah melekat lama dalam pikiranku. Tapi wirausaha, dari tahun 2012 tak pernah lepas dari pikiranku. Ya, memang sesekali hilang, jika sedang merasa lelah dengan wirausaha. Tapi setelah itu, kepikiran lagi. Terlebih aku memiliki sikap yang beda dengan kebanyakan orang jika aku harus kerja di orang lain atau di perusahaan. Susah bersosialisasi dengan baik dan sering kesal kalau disuruh-suruh. Jangankan untuk pekerjaan yang tak aku sukai, pekerjaan yang aku sukai aja bikin aku geram jika udah disuruh-suruh. Pernah dulu aku kerja di sebuah perusahaan di Bandung, nyatanya,,, dua minggu kerja sudah bikin vertigo kambuh. Lalu akhir bulan aku putuskan mengundurkan diri. Kerja di sana hanya bertahan sebulan dengan pekerjaan admin yang belum terbiasa diotakku, juga dengan lingkungan yang tak bisa membuatku bebas berekspresi. ‘Gagal sosialisai’, aku katakan saja begitu. Bukan karena orang-orang yang ada di tempat kerja itu yang salah, tapi karena aku tak biasa dengan lingkungan yang ramai karena banyak orang (tuh, benerkan aku introvert? Hee).
Lalu, pikiran pun kembali bersandar pada kata ‘wirausaha’.
Dengan pola pikir seperti itu, sudahkah aku memiliki salah satu jiwa wirausahawan???
*****

Selalu tak ada kejadian yang kebetulan, termasuk pikiran. Meski untuk melangkah di jalan wirausaha ini masih terlihat gelap, tapi aku kenal dengan sang penguasa kegelapan. Karena-Nya, keadaan gelap bisa dirubah jadi terang. Jadi, kenapa aku masih takut dengan kegelapan itu????

Subang, 02 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar