Kamis, 04 Februari 2016

JADI DIRI SENDIRI


Terlalu menyesuaikan diri dengan karakter orang lain, akhirnya membuat bingung sendiri, jadi kepribadian aku seperti apa?

Beberapa tahun ke belakang, aku mulai berpikir, karakter aku sebenarnya seperti apa? Masalahnya setiap bertemu dengan orang yang beragam karakter, penyikapan aku pada mereka selalu berbeda. Jika dengan orang yang suka mendengarkan aku akan banyak bicara. Jika dengan orang yang banyak bercerita aku yang jadi pendengar. Tapi kebanyakan memang aku lebih banyak mendengarkan (mungkin efek banyak teman yang suka bercerita dibanding mendengarkan, heheee). Kadang dengan orang yang heboh, aku pun ikut menghebohkan diri. Jika bergaul dengan anak remaja, maka meremajakan diri. Maka satu waktu, aku putuskan bahwa aku memang tipikal orang yang sering berubah-ubah karakter, tergantung siapa orang yang aku hadapi. Bahkan, pada seorang teman aku pernah bilang bahwa aku adalah cermin. Isinya bisa berubah kapanpun, tergantung siapa yang berdiri di depan cermin (loh, nyambung gak yah cermin dan ??? ;-) )

Suatu hari, ada dua orang yang mengatakan sesuatu yang berbeda tentangku. Orang pertama adalah seorang bidan yang telah berpengalaman lima tahun kerja. Karena sudah sering berhubungan dengan banyak orang, maka dia bisa menebak karakter orang lain. Bidan itu bilang kalau aku orangnya plin-plan, belum memiliki pendirian yang kokoh. Terhenyak juga aku mendengarnya. Plin-plan itu kan sikap yang gak baik. Pula seperti anak-anak. Sedang usiaku sudah masuk usia dewasa (agak gak ridho gitu dibilang kayak anak-anak, hikss...). Tapi setelah direnungkan, ada benarnya juga. Bukankah selama ini aku memang seperti itu? Misalnya mudah merubah rencana saat rencana yang telah dibikin hendak dijalankan. Lama-lama, iyalah aku terima tebakan bidan itu. Aku memang plin-plan.

Orang kedua adalah ayahnya teman aku. Karena ia seorang mandor proyek pembangunan, maka beliau pun sering berhubungan dengan banyak orang. Hasilnya, beliau pun suka menebak karakter orang lain. Saat aku main ke rumah teman aku itu, maka ayahnya bilang, “Coba jadi diri sendiri, lepaskan kekakuan yang ada pada diri sendiri.” Mulanya aku gak ngerti. Kekakuan apa? Diri sendiri yang seperti apa? Bukankah wajar saja kalau aku bersikap menghormati saat aku bicara dengan orang yang lebih dewasa dari aku? Karena aku menghormati beliau, maka aku pun belajar jaga sikap. Berbicara sopan, sopan mendengarkan, sopan berperilaku. Wajar kan kalau aku bersikap seperti itu? Meskipun, kata teman aku itu, teman-teman sekolah dia biasanya bersikap biasa aja pada ayahnya. Bahkan cenderung seperti ke seorang teman yang bebasa saja mau bicara atau bercanda pun. Si aku, nyatanya belum bisa seperti itu, lantas mau gimana???

Lalu sampailah saya pada suatu hari saat saya jalan bareng dengan seorang teman lama yang sudah lama tak bertemu. Dengannya, aku merasa nyaman ngobrol. Biasanya, saat janjian dengan seorang teman, sering kali pikiran dibatasi oleh hal-hal yang sesuai dengan karakter teman saya. Jadi, pembicaraan pun tidak mengalir dan kurang nyaman. Tapi saat bersama teman lama aku itu, apa yang aku pikirkan bisa keluar dengan lancar. Bahkan kita bisa bertukar pikiran. Mengeluarkan pendapat masing-masing kita, meski kadang pendapat kami tak sama. Tapi walau bagitu, setidaknya aku bisa mengeluarkan pendapat aku sendiri. Bahkan sikap narsis aku keluar, gaya bicara yang nyaman dengan apa adanya diriku pun keluar. Nyaman juga bisa bersosialisasi dengan gaya seperti itu. Bisanya aku ragu mengeluarkan pendapat demi menghargai teman aku. Tapi setelah ngobrol dengan tema lama aku itu, aku merasa lebih nyaman dengan dia. Pembicaraan dua arah yang lancar. Tak ada seorang pun yang mendominasi pembicaraan. Dan aku pun, merasa jadi diri sendiri, apa adanya.

Setelah direnungkan, ternyata aslinya kita itu sama dengan apa yang ada di pikiran kita. Saat pikiran dan langkah tidak sesuai, maka saat itulah kita bertindak bukan jadi diri sendiri. Saat kita bersosialisasi dengan rasa terbebani oleh pikiran saya harus bertindak seperti apa agar bisa sesuai dengan lingkungan yang saya masuki, maka saat itu kita tidak menjadi diri sendiri.

Kita adalah apa yang ada dalam pikiran kita!!!

Jadi diri sendiri itu seru sekali. Bisa dapat banyak pengalaman baru, banyak masukan dari teman untuk bisa lebih baik lagi. Kalau ada sikap atau tingkah yang salah gampang menerima kritik/masukan/saran dari orang lain. Dan yang lebih penting, kita tidak kerepotan untuk jadi orang lain yang tidak sesuai dengan pikiran kita.

Ya,, saya adalah saya, dengan pikirana saya sendiri.
Jadilah diri sendiri, untuk mengurangi sedikit beban hidup diri.
Jadilah diiri sendiri, dan biarkan orang lain tahu apa adanya diri!!!


Bandung, 04 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar