Rabu, 03 Februari 2016

SELALU, TAK ADA KEJADIAN YANG SALAH/KEBETULAN



Istilah “Allah selalu memiliki takdir yang lebih baik dari yang kita harapkan”, benarkah kita telah meyakininya? Hingga saat mengalami kejadian yang tidak kita sukai sekali pun, pikiran kita masih bisa berpikir positif: tak ada yang salah dengan kejadian ini! Walau hati merasa kesal, sakit, kecewa, tapi pikiran terus ditarik untuk tetap berpikir tak ada yang salah dengan kejadian ini. Sudah kah kita seperti itu?

Kenyataan untuk bisa berpikir positif dengan mudah, jujur, masih saja sulit kulakukan, kecuali jika sudah memahami apa kebaikan dari kejadian yang tidak disukai itu. Kalau sudah tahu, maka luluhlah semua kekesalan dan kekecewaan di hati, lalu berganti rasa syukur yang tiada terkira. Bagaimana kita tidak akan bahagia jika seseorang memberikan bunga bank sama simpanannya saat kita ingin bunga mawar (#loh, kok jadi riba??? Heee).

Selain itu, berpikir positif juga merupakan ujian keyakinan atau kepercayaan pada Allah. Senantiasa kita melafazkan dzikir subhanallah setelah beres shalat. Atau dalam aktivitas kita mungkin? Kita tak pernah lepas dari kalimat tasbih tersebut. Arti dari kalimat subhanallah adalah maha suci Allah. Artinya, Allah-lah yang paling suci diantara yang tersuci. Salah satu wujud sucinya Allah adalah bahwa Allah tidak pernah memberikan takdir yang salah atau yang jelek pada hamba-Nya.  Itu makanya, tak ada kejadian yang sebenarnya buruk buat kita. Semua kejadian itu baik buat kita. Yang memandang suatu kejadian buruk hanyalah ego kita sendiri. Ini baik karena sesuai dengan harapan diri. Ini jelek karena tidak sesuai dengan harapan diri. Padahal, takdir, apapun itu, tak pernah ada yang salah atau jelek. Betul????

Termasuk kejadian bocor ban motor hari ini (mulai deh curhatnya, hihiii...). Perjalanan Subang-Bamdung hari ini diawali oleh ban dalam motor yang bocor. Tepatnya sobek. Mulanya kesal juga. Dari bulan Desember sampai sekarang Februari, masa tiap bulan ganti ban? Padahal ban yang dibeli udah ban yang agak mahal. Tapi tetap aja harus ganti ban dalam. Perjalanan seorang diri ternyata sebenarnya tak pernah sendirian. Saat ban motor bocor, ada beberapa orang yang membantu, hingga akhirnya sampai ke bengkel. Ah... benar sekali kalimat dalam surat ath-Thariq itu, bahwa tak ada satu pun jiwa (diri) selain ada penjaganya (QS. Ath-Thaariq:4). Maka, perjalanan seorang diri pun selalu mendapat bantuan dari tangan-tangan lain saat diri membutuhkan bantuan.
Selama dalam perjalanan ke bengkel, aku muter otak dengan sebuah pertanyaan: kenapa bisa sampai sebulan sekali ganti ban motor (ban dalam)? Lumayankan 50.000 perbulan hanya untuk mengganti ban dalam motor? Belum lagi untuk servisnya. Ngenes juga...! Dalam kondisi ngirit uang, ada aja biaya yang tak terduga. Sampai di bengkel, aku bertanya ke mang bengkelnya, “Mang, kenapa yah ban dalamnya mudah rusak/bocor? Tiap bulan loh saya ganti ban dalam.”
Dengan santainya mang bengkel bilang, “Itu karena bocor, Teh.”
Krik,,krik. Harapan dapat penjelasan yang masuk akal dan akan aku lakukan, pupuslah sudah. (aku jadi merana menyanyi sambil menangis seorang diri, #LebayON). Jawaban mang bengkelnya benar-benar bikin aku patah hati. Ini kondisinya aku yang salah pertanyaan, atau mang bengkelnya yang bingung jawab, yah??

Tapi ya sudahlah,,, ban motor udah rusak toh? Mau diapain lagi? Harus marah ke mang bengkel yang gak tahu apa-apa? Atau ngomel-ngomel ke ban motor yang jelas-jelas gak punya penglihatan dan pendengaran? Akhirnya, dengan kesal yang masih bercongkol di hati, pikiran memaksakan diri untuk berpikir positif.

Pagi ini adalah perjalanan Subang-Bandung. Dari awal pakai motor, aku sudah merasakan keanehan dengan kondisi motor. Rantai yang suka mendadak ngajetruk, ban belakang yang sering terasa bergoyang tapi gak kempes, juga laju mesin motor yang gak enak. Padahal dua hari sebelumnya motor itu baru di servis. Dan kejadian rusaknya ban motor lalu masuk bengkel, memberikan hikmah tentang perlindungan Allah. Motorku itu, sambungan rantainya ada yang lepas. Karena itulah motor jadi gak enak jalannya. Maka masuknya motor ke bengkel dengan masalah pertama ban bocor, membuat motorku tersayang dibenerin. Hasilnya, jalannya jadi terasa lebih baik.

Hikmah yang bisa aku ambil adalah betapa kasih sayang Allah itu besar. Dia tahu ada masalah dengan motorku. Kalau saja saat itu motor aku gak masuk bengkel, mungkin kejadiannya akan lebih buruk dari ban bocor. Apalagi untuk bermotor ria di Bandung. Motor yang fit jelas-jelas dibutuhkan untuk keselamatan berkendara.

Ban motor bocor, meski mulanya bikin kesal, tapi berujung syukur.

Terima kasih Allah. Kau memang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kau juga sebaik-baik Pelindung dan Pemelihara. Bimbing aku untuk senantiasa hidup dalam ketaatan kepada-Mu. Amin..

03 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar