Selasa, 21 April 2015

Hidup Penuh Warna



Hidupku ternyata berwarna, bahkan penuh warna. Warna kesulitan, hahaa...
Beragam sekulitan itu membuat ku harus berpikir tterus. Bertindak terus. Lepas dari masalah yang satu, maka siap-siap menghadapi masalah berikutnya. Haammm,,,, memang hidup kalau dibawa tersenyum hasilnya akan terasa ringan juga.

·      Segala jenis jualan yang sedang aku jalani membutuhkan pemikiran dan langkah untuk menjalankan,
·      tulisan yang menguji imajinasi harus dibereskan. Kalaupun sudah beres, tentunya nulis harus tetap berlanjut, karena cita-citaku jadi penulis.
·      Adik-adik binaan ngabrink bermasalah, hampir semuanya, heuu...

Seandainya aku bisa menyelesaikan setiap permasalahan dari ini berarti aku diberi kemampuan yang meningkat, yeee,,,, (tepuk tangan meriah). Yah, seperti itulah seharusnya. Hidupku penuh warna. 

Welcome my life. Apapun adanya diriku (dan permasalahannya), aku tetap cinta aku apa adanya. 

Masalahku bukan masalah orang lain. Masalah orang lain juga bukan masalahku. Jadi, mari kita mengurus masalah kita masing-masing!!! (#sindiran bagi pikiran yang mulai kepoin urusan orang lain).
Bandung, 16 April 2015

Untukmu, Si Masa Lalu



Bersua lagi dengan sang masa lalu. Membangun cerita lagi yang entah akan jadi seperti apa akhir cerita ini. Kau, masa lalu.. sebatas masa yang ada di belakangku.

Untuk kau, masa lalu yang tak berwujud lagi..
Bagaimana bisa aku mencintaimu?
Bahkan untuk mencintaimu sebatas dalam hati saja, sepertinya aku tak bisa. Walau sebatas cinta dalam hati, tapi rasa itu bisa meluluhkan rasa cinta pada Allah, rasul dan saudara-saudara di sekeliling diri. Karena cinta dalam hati itu, amarah begitu gampang terpancing, kendali emosi melemah dan kerjaan dari orang tua pun mulai terbengkalai. Fokus pikiran bukan lagi pada kerjaan dari orang tua, tapi lebih pada kamu. Yaa, walaupun sebatas calam hati, tapi efeknya sungguh merusak hubungan diri dengan orang tua dan saudara-saudara di sekelilingku.
Bagaimana aku bisa menyimpan perasaan padamu jika perasaan yang hanya pada satu orang itu dapat merusak rasa yang telah terbina selama kurang lebih 7 tahun? Lalu, aku harus melepasnya? Kenapa ada rasa berat kala aku mau melepasnya? Inikah yang namanya tipu daya syetan?
Padahal rasa dalam hati itu telah merugikanku, sampai kepala pusing kembali ku rasakan hanya karena aku berpikir kasihan pada kamu dan merasakan pula beratnya menjalani kondisi seperti sekarang ini. Kondisi sekarang yang tiba-tiba saja aku datang menawarkan do’a tentang keluarga bersamamu, tapi tiba-tiba juga mundur karena orang tua menyuruhku mundur.
Maaf, jika sebatas dalam hati dan pada bayangmu saja, aku tak bisa memberikan cintaku..

Maret 2015

New Experiance

Memutuskan masuk ke dunia usaha, dan diketahui oleh berbagai orang ternyata memberikan banyak pengalaman ditawari berbagai produk atau ditawari untuk gabung ke usaha-usaha mereka. 

Dulu, nggak dulu, tapi beberapa waktu lalu, atau katakanlah tahun lalu, ditawari berbagai usaha ini itu sering kali mudah kegoda. Jadinya, banyak barang yang ingin aku jualin tapi gak ada yang konsisten. Dari mulai jualan produk sandang dari berbagai merek, produk qur’an, produk kesehatan, MLM, pokoknya berbagai yang dipikir seru dan prospek buat jualan, aku ikuti. Tapi sekarang.... sepertinya telah berubah. Hehee... beranjak dewasa, katakanlah begitu.

Bandung, 11 Januari 2015

Jumat, 09 Januari 2015

2 pedih 100 kesadaran



Alhamdulillah dari satu kepedihan, berbuah rasa dan keyakinan betapa modal terpenting dalam hidup ini adalah iman, islam dan saudara. Tak ada uang sepeser pun di tangan, tapi dengan modal keyakinan bahwa Allah-lah Sang Pengurus dan Pengatur rizki setiap makhluknya, islam yang menjadi motivasi untuk terus melakukan gerakan dan saudara yang bisa menjadi salah satu jalan rizki, maka kehidupan masih bisa berlanjut. Benarlah, yang menghidupkan dan mematikan seseorang adalah Allah. Yang mengatur dapat apa hari ini saya, apakah dapat lapar, dapat irit atau dapat makanan yang mewah itu pun Allah. Rasa takut akan kekurangan bisa menjadi salah satu sikap yang membuat diri jauh dan tidak yakin akan adanya kepengaturan Allah. Dan ini kisahku tentang satu hari yang membuat aku semakin yakin bahwa tidak perlu terlalu khawatir soal rizki yang belum kita dapatkan, soal perut yang belum terisi, atau soal berbagai masalah yang membutuhkan uang. Ada Allah, semua beres!

Pada kesempatan pulang hari itu, aku berpikir, mudah-mudahan kalau aku pulang ke rumah orang tua, walaupun Cuma satu hari satu malam, nanti orang tua akan memberi uang saat aku akan kembali ke Bandung. Tapi, perkiraan tinggallah perkiraan. Saat ku menyalakan motor untuk berangkat ke Bandung, tak sepeserpu aku dikasih uang. Katanya orang tua lagi gak ada uang. Bisa saja hari itu aku memutuskan untuk tidak ke Bandung. Toh aman kan kalau tinggal di rumah dalam kondisi tidak punya uang seperti itu? Tapi nyatanya, takdir berkehendak aku harus ke Bandung hari itu. Maka perjalanan rumah sampai Kota Subang pun menjadi perjalanan berurai air mata. Ya, aku nangis sejadi-jadinya. Nangis, kenapa orang tua ku sampai setega itu padaku gak memberikan ku uang. Nangis, karena ingin meluapkan segala keusahan yang aku alami sebelum-sebelumnya: keluar dari kerjaa, uang gaji belum dapet, mau kerja belum minta, inginnya berwirausaha, tapi untuk awal-awal tentunya aku butuh biaya juga untuk kelangsungan hidupku. Akhirnya satu kesimpulan yang ku dapat, mencari uang itu susah! Perjalanan rumah-Kota Subang, menjadi perjalanan pembebasan berbagai perasan yang memberatkan itu.

Lain perjalanan rumah-Kota Subang, lain pula perjalanan Kota Subang-Bandung. Pas di sebuah tanjakan rante motor putus. Kesal sih, tapi tak lama aku berpikir, “ya Allah, sudahlah terserah Engaku, mau Kau apakan aku ini. Aku gak punya uang, Engkau-lah yang Maha Kaya.” Satu persatu pertolongan pun datang. Perjalanan Subang-Bandung pun bisa dilanjutkan.
Cerita di Bandung, jelas berbeda dengan cerita dari dua fase perjalanan sebelumnya. Di Bandung, dengan modal uang 5000, aku titipkan saja masalah penghidupanku pada Sang Pemilik kehidupan. Hanya sebuah keyakinan yang menjadi modal besar untuk ku menetap di Bandung. Hanya dengan satu pengharapan akan Sang Pemelihara kehidupan yang menjadi modalku hidup di kota orang. Dan hari ini, hari sabtu, aku telah bisa melewati hari-hari kemarin. Hari minggu aku menginjak Bandung dengan modal keyakinan dan pengharapan, hari ini aku masih bisa isi perut, bisa bergerak, bisa bernafas dan bahkan bisa daftar menjadi member sebuah MLM.

Banyak pelajaran yang aku dapatkan dari pengalaman itu. Aku ingin sebut perjalanan rumah-Kota Subang-Bandung hari itu sebagai perjalanan 2 pedih 100 kesadaran. pedih karena gak dikash uang dan karena berharap pada orang. Dengan perjalanan itu aku buang air mata sebanyak-banyaknya karena menyadari betapa mencari uang itu susah. Menyadari betapa iman,islam dan saudara islam menjadi modal paling penting dalam hidup. Dan juga menyadari, betapa pengharapan itu hanya milik Allah. Pengharapan pada manusia bukan hanya soal kecewa atau bahagia, tapi lebih pada penodaan kelurusa tauhid. Jelas dalam surat al-ikhlas bahwa Allah-lah tempat meminta harap. Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Itulah salah satu bentuk tauhid. Jadi, kenapa masih mengharap dan bergantung pada makhluk yang lemah? Kenapa tidak berharap pada yang memiliki kuasa akan diri???

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur dan mengabdi pada-Mu. Amin.
  

Kamis, 08 Januari 2015

Kejutan Desember 2014



Ehmmm,,,(tarik nafas dalam....).
Entah, episode seperti apa lagi yang akan ku alami. Cerita yang bagaimana lagi yang akan datang menghampiri hidupku. Kadang aku merasa takut. Tapi ingatan akan kepengaturan Allah selalu menjadi penghibur dan penyemangathh.

Setelah Nopember dilewati dengan jualan kue. Karena kue beberapa hari gak aku lalu ternyata rugi, maka Desember oleh status pekerja. Desember diisi oleh dua hal. Pertama aku kerja di sebuah perusahaan penerbitan dan menjadi admin. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang aku inginkan semenjak beres sidang S1. Kerja di penerbitan, tapi pekerjaannya ada hubungannya dengan tulisan. Mulanya jelas bahagia dan semangat, walaupun ada keraguan akan menggadaikan waktu dan tenaga untuk perusahaan. Rasanya selama ini, waktu yang digunakan untuk keperluanku lebih berharga. Waktuku terasa lebih lebih lebih berharga jika diisi oleh sesuatu yang berhubungan dengan keinginanku. Tapi, semangat karena terwujudnya cita-cita menepis segala keraguan. Dalih belajar tentang operasional perusahaan dan mencari modal untuk usaha menjadi alasan kuat untuk bekerja di sana. Tapi....

Di tempat kerja yang baru itu aku hanya mampu bertahan 2 minggu. Minggu kedua vertigoku kambuh. Karena sakit, maka 1 minggu full aku libur. Selama 1 minggu sakit, aku merenung, mau dilanjut kerja atau nggak. Yang kufahami tentan tubuhku, kambuhnya vertigo merupakan sinyal badan yang telah lelah namun dipaksakan untul terus bekerja. Seperti masa produksi gehu pedas di tahun 2013 silam. Produksi dihentikan karena vertigo dan maag yang sering kambuh. Dan,,, setelah 8 hari libur kerja dan dalam kondisi kebimbangan (libur 8 hari karena libur natal juga) akhirnya aku memutuskan untuk keluar. Ya! Desemberku adalah kejutan. Ia bercerita tentang terwujudnya keinginan tempat kerja, tapi menjadi titik balik pikiranku: aku gak mau lagi kerja di bawah telunjuk orang!

Pengalaman kerja yang hanya 2 minggu ini membuatku semakin yakin untuk berwirausaha. Waaupun harus berlelah-lelah dahulu, beririt-irit dahulu, bahkan tak jarang kekurangan sampai harus pinjam, tapi rasanya memiliki kebebasan waktu lebih berharga daripada kerja dengan gaji jutaan rupiah tapi badan semakin lemah. So, mimpi di bentuk lagi. Kembali ke wirausaha, salah satunya menuls. Agenda disusun. Agenda/manajemen menjadi hal penting demi terlaksananya berbagai kegiatan dan mengoptimalkanusaha. Do’a yang dipanjatkan semakin diperkuat. Maka bismillah,,,, Januari 2015 menjadi masa percobaan berwirausaha lagi, seperti Nopember 2014 silam. Februari? Entah,, akan ada apa di Februari nanti. Yang pasti seperti Nopember 2014, aku ingin Januari 2015 diisi lagi dengan uji coba wirausaha.
 
Bandung, 3 Januari 2015.