Jumat, 09 Januari 2015

2 pedih 100 kesadaran



Alhamdulillah dari satu kepedihan, berbuah rasa dan keyakinan betapa modal terpenting dalam hidup ini adalah iman, islam dan saudara. Tak ada uang sepeser pun di tangan, tapi dengan modal keyakinan bahwa Allah-lah Sang Pengurus dan Pengatur rizki setiap makhluknya, islam yang menjadi motivasi untuk terus melakukan gerakan dan saudara yang bisa menjadi salah satu jalan rizki, maka kehidupan masih bisa berlanjut. Benarlah, yang menghidupkan dan mematikan seseorang adalah Allah. Yang mengatur dapat apa hari ini saya, apakah dapat lapar, dapat irit atau dapat makanan yang mewah itu pun Allah. Rasa takut akan kekurangan bisa menjadi salah satu sikap yang membuat diri jauh dan tidak yakin akan adanya kepengaturan Allah. Dan ini kisahku tentang satu hari yang membuat aku semakin yakin bahwa tidak perlu terlalu khawatir soal rizki yang belum kita dapatkan, soal perut yang belum terisi, atau soal berbagai masalah yang membutuhkan uang. Ada Allah, semua beres!

Pada kesempatan pulang hari itu, aku berpikir, mudah-mudahan kalau aku pulang ke rumah orang tua, walaupun Cuma satu hari satu malam, nanti orang tua akan memberi uang saat aku akan kembali ke Bandung. Tapi, perkiraan tinggallah perkiraan. Saat ku menyalakan motor untuk berangkat ke Bandung, tak sepeserpu aku dikasih uang. Katanya orang tua lagi gak ada uang. Bisa saja hari itu aku memutuskan untuk tidak ke Bandung. Toh aman kan kalau tinggal di rumah dalam kondisi tidak punya uang seperti itu? Tapi nyatanya, takdir berkehendak aku harus ke Bandung hari itu. Maka perjalanan rumah sampai Kota Subang pun menjadi perjalanan berurai air mata. Ya, aku nangis sejadi-jadinya. Nangis, kenapa orang tua ku sampai setega itu padaku gak memberikan ku uang. Nangis, karena ingin meluapkan segala keusahan yang aku alami sebelum-sebelumnya: keluar dari kerjaa, uang gaji belum dapet, mau kerja belum minta, inginnya berwirausaha, tapi untuk awal-awal tentunya aku butuh biaya juga untuk kelangsungan hidupku. Akhirnya satu kesimpulan yang ku dapat, mencari uang itu susah! Perjalanan rumah-Kota Subang, menjadi perjalanan pembebasan berbagai perasan yang memberatkan itu.

Lain perjalanan rumah-Kota Subang, lain pula perjalanan Kota Subang-Bandung. Pas di sebuah tanjakan rante motor putus. Kesal sih, tapi tak lama aku berpikir, “ya Allah, sudahlah terserah Engaku, mau Kau apakan aku ini. Aku gak punya uang, Engkau-lah yang Maha Kaya.” Satu persatu pertolongan pun datang. Perjalanan Subang-Bandung pun bisa dilanjutkan.
Cerita di Bandung, jelas berbeda dengan cerita dari dua fase perjalanan sebelumnya. Di Bandung, dengan modal uang 5000, aku titipkan saja masalah penghidupanku pada Sang Pemilik kehidupan. Hanya sebuah keyakinan yang menjadi modal besar untuk ku menetap di Bandung. Hanya dengan satu pengharapan akan Sang Pemelihara kehidupan yang menjadi modalku hidup di kota orang. Dan hari ini, hari sabtu, aku telah bisa melewati hari-hari kemarin. Hari minggu aku menginjak Bandung dengan modal keyakinan dan pengharapan, hari ini aku masih bisa isi perut, bisa bergerak, bisa bernafas dan bahkan bisa daftar menjadi member sebuah MLM.

Banyak pelajaran yang aku dapatkan dari pengalaman itu. Aku ingin sebut perjalanan rumah-Kota Subang-Bandung hari itu sebagai perjalanan 2 pedih 100 kesadaran. pedih karena gak dikash uang dan karena berharap pada orang. Dengan perjalanan itu aku buang air mata sebanyak-banyaknya karena menyadari betapa mencari uang itu susah. Menyadari betapa iman,islam dan saudara islam menjadi modal paling penting dalam hidup. Dan juga menyadari, betapa pengharapan itu hanya milik Allah. Pengharapan pada manusia bukan hanya soal kecewa atau bahagia, tapi lebih pada penodaan kelurusa tauhid. Jelas dalam surat al-ikhlas bahwa Allah-lah tempat meminta harap. Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Itulah salah satu bentuk tauhid. Jadi, kenapa masih mengharap dan bergantung pada makhluk yang lemah? Kenapa tidak berharap pada yang memiliki kuasa akan diri???

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur dan mengabdi pada-Mu. Amin.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar