Saat ini
aku tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh empat orang. Di rumah itu kami
ngontrak. Kami berempat telah saling mengenal lebih dari satu tahun, atau
sebelum kami tinggal satu atap sebelas bulan terakhir ini.
Sebelas bulan
bersama ketiga temanku, sediktinya aku telah mengenal mereka. Kebiasaan mereka,
sifat mereka, watak mereka satu persatu telah ku kenali. Dua orang plegmatis,
satu orang koleris dan aku,,, apapun lah. Tergantung orang yang sedang dihadapi.
Si plegmatis selalu cerewet dengan kerapihan kostan. Ada kebiasaan dia
marah-marah karena ada baju yang digantung di sembarang tempat. Oh,,, my lovely fren. Dari beliau saya belajar
tentang kepekaan dan ketafahuman pada orang lain.
Dalam waktu
sebelas bulan, aku mendekati satu persatu secara personal. Dari si plegmatis
satu, lalu plegmatis dua dan yang terakhir adalah si koleris. Sebulan sebelum
ramadhan kemarin aku mulai mendekati si koleris. Dekat dalam artian lebih
sering berkomunikasi dan mengenali wataknya lebih dalam lagi. Tapi dibalik itu,
aku juga gak suka pertemanan yang terlalu dekat. Sedekat-dekatnya aku dengan seseorang,
tapi jarak tetap saja ku jaga. Kenapa? Karena seorang teman pun bisa menjadi ilah bagi seseorang. Teman itu bisa
menjadi saudara yang saling menggenggam tangan untuk bisa istiqomah dalam
kebenaran, tapi ia juga bisa menjadi teman yang mengajak pada sebuah
kemaksiatan. Oleh karena itu, sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak
tetap dijaga, walaupun hanya 5 cm. Dengan si koleris, masuk bulan agustus, aku
merasa terlalu dekat dengan dia. Kedekatan yang melebihi batas. Maka, aku berdo’a
agar pertemanan kami sedikit diberi jarak atau sedikit dijauhkan. Sepertinya Allah
pun Mengabulkan.
Singkat cerita
masuk bulan juni aku dekat dengan si koleris. Dia senang bercerita. Kalau terus
dilayani, dia bisa bercerita selama berjam-jam. Dari cerita soal cacing si
makhluk kecil dan hidup di dalam tanah, hingga ke pembahasan matahari dengan
ukuran dan kadar panasnya. Gak nyambung? Tapi oleh beliau bisa saja nyambung. Kemampuan
berbicara memang menjadi satu potensinya.
Dalam kedekatan
kami, dia telah kenal aku yang cablak.
Apapun yang ada di pikiran, bisa keluar dengan bahasa yang kadang polos, kadang
lucu atau kadang dengan bahasa yang gak dimengerti. Begitupun dengan dia. Yang
aku kenali, dia orang yang blak-blakan, tegas dan sedang dalam proses belajar
memahami dan bersabar menghadapi ketiga teman kostannya.
Maka, pada
satu sore, aku dengan dia makan satu nasi bungkus bersama. Teman nasinya adalah
satu potong paha ayam dan sayuran. Ceritanya kami berdua sedang ngirit
pengeluaran. Dia yang rajin dan kerennya makannya juga cepat. Sore itu kami
sedang ngumpul bertiga, aku, si koleris dan si plegmatis satu. Sambil makan,
aku ngobrol dengan si plegmatis satu. Aku tertarik pada cerita dia waktu di sekolahnya hari itu. Satu
suap, dua suap nasi dengan sayur masuk ke mulutku. Aku lebih intensif
mendengarkan cerita si plegmatis ketimbang makan nasi. Setelah si plegmatis
satu selesai bercerita, aku melirik nasi. Dan mataku tercengang. Mulanya aku
ragu untuk bilang pada sikoleris bawha aku gak kebagian ayam. Yang tersisa
memang tinggal tulang ayam saja. Sedangkan aku belum makan daging ayam itu
sedikitpun. Dengan nada bercanda akhirnya aku berkata, “Iiihhh,,, aku belum
kebagian ayamnya. Kok udah habis?”
Si koleris
menjawab, “Jadi maksudnya, ayamnya cuma aku yang makan? Ya sudah, aku berhenti
makan. Aku mah mau pundung. Merasa jadi tertuduh ngabisin ayam.” Setelah itu,
sahabatku si koleris menghentikan makannya lalu cuci tangan. Ku lirik nasi dan
sayurnya tinggal sedikit sedangkan daging ayamnya sudah habis. Ku pikir dia bercanda
saat dia bilang mau pundung. Biasanya juga dia gak mudah kesinggung. Tapi
sepertinya sore itu suasana hatinya sedang berbeda. Keesokan harinya, dia tak
seakrab seperti hari-hari sebelumnya.
Peristiwa paha
ayam itu terjadi sekitar bulan kedua di bulan Agustus. Melihat dia dengan
sikapnya yang cuek padaku, ku pikir aku akan bersikap sebiasa mungkin dengan
dia, sambil berharap dia akan secepatnya kembali seperti biasanya. Bolehlah dia
cuek padaku. Tapi bagiku dia tetap teman yang telah memberiku banyak pelajaran.
Tiga hari kemudian, aku pikir dia akan mulai membaik. Tapi dia masih dengan
sikap cueknya. Ditanya, menjawab
seperlunya. Kalau kebetulan sedang duduk bersama, tak ada lagi berondongan
cerita dari dia. Tapi kalau sedang duduk dengan si plegmatis dua, dia bersikap
biasa dengan berondongan ceritanya.
Huuuftt,,,
ternyata dicuekkan teman itu nggak enak. Si nafsu, tentunya ingin bersikap lebih
cuek lagi pada dia. Tapi, akal tak menghendaki itu. Akhirnya,,,, ya sudahlah,
menunggu dia mau membuak suaranya lagi untukku.
Dan pagi
tadi, setelah tiga setengah minggu dia bungkam padaku, dia mulai membuka
suaranya untukku. Aaahhh,,,, senangnya!!! Rasanya ingin melayang sambil
tersenyum sendirian. Lalu turun dan memeluk dia.
Haduh,,, di
balik do’a yang terkabul, paha ayam telah memisahkan kami selama tiga setengah
minggu.