Selasa, 16 September 2014

Paha Ayam untuk 5cm



Saat ini aku tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh empat orang. Di rumah itu kami ngontrak. Kami berempat telah saling mengenal lebih dari satu tahun, atau sebelum kami tinggal satu atap sebelas bulan terakhir ini.

Sebelas bulan bersama ketiga temanku, sediktinya aku telah mengenal mereka. Kebiasaan mereka, sifat mereka, watak mereka satu persatu telah ku kenali. Dua orang plegmatis, satu orang koleris dan aku,,, apapun lah. Tergantung orang yang sedang dihadapi. Si plegmatis selalu cerewet dengan kerapihan kostan. Ada kebiasaan dia marah-marah karena ada baju yang digantung di sembarang tempat. Oh,,, my lovely fren. Dari beliau saya belajar tentang kepekaan dan ketafahuman pada orang lain.

Dalam waktu sebelas bulan, aku mendekati satu persatu secara personal. Dari si plegmatis satu, lalu plegmatis dua dan yang terakhir adalah si koleris. Sebulan sebelum ramadhan kemarin aku mulai mendekati si koleris. Dekat dalam artian lebih sering berkomunikasi dan mengenali wataknya lebih dalam lagi. Tapi dibalik itu, aku juga gak suka pertemanan yang terlalu dekat. Sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak tetap saja ku jaga. Kenapa? Karena seorang teman pun bisa menjadi ilah bagi seseorang. Teman itu bisa menjadi saudara yang saling menggenggam tangan untuk bisa istiqomah dalam kebenaran, tapi ia juga bisa menjadi teman yang mengajak pada sebuah kemaksiatan. Oleh karena itu, sedekat-dekatnya aku dengan seseorang, tapi jarak tetap dijaga, walaupun hanya 5 cm. Dengan si koleris, masuk bulan agustus, aku merasa terlalu dekat dengan dia. Kedekatan yang melebihi batas. Maka, aku berdo’a agar pertemanan kami sedikit diberi jarak atau sedikit dijauhkan. Sepertinya Allah pun Mengabulkan.

Singkat cerita masuk bulan juni aku dekat dengan si koleris. Dia senang bercerita. Kalau terus dilayani, dia bisa bercerita selama berjam-jam. Dari cerita soal cacing si makhluk kecil dan hidup di dalam tanah, hingga ke pembahasan matahari dengan ukuran dan kadar panasnya. Gak nyambung? Tapi oleh beliau bisa saja nyambung. Kemampuan berbicara memang menjadi satu potensinya.

Dalam kedekatan kami, dia telah kenal aku yang cablak. Apapun yang ada di pikiran, bisa keluar dengan bahasa yang kadang polos, kadang lucu atau kadang dengan bahasa yang gak dimengerti. Begitupun dengan dia. Yang aku kenali, dia orang yang blak-blakan, tegas dan sedang dalam proses belajar memahami dan bersabar menghadapi ketiga teman kostannya.

Maka, pada satu sore, aku dengan dia makan satu nasi bungkus bersama. Teman nasinya adalah satu potong paha ayam dan sayuran. Ceritanya kami berdua sedang ngirit pengeluaran. Dia yang rajin dan kerennya makannya juga cepat. Sore itu kami sedang ngumpul bertiga, aku, si koleris dan si plegmatis satu. Sambil makan, aku ngobrol dengan si plegmatis satu. Aku tertarik pada  cerita dia waktu di sekolahnya hari itu. Satu suap, dua suap nasi dengan sayur masuk ke mulutku. Aku lebih intensif mendengarkan cerita si plegmatis ketimbang makan nasi. Setelah si plegmatis satu selesai bercerita, aku melirik nasi. Dan mataku tercengang. Mulanya aku ragu untuk bilang pada sikoleris bawha aku gak kebagian ayam. Yang tersisa memang tinggal tulang ayam saja. Sedangkan aku belum makan daging ayam itu sedikitpun. Dengan nada bercanda akhirnya aku berkata, “Iiihhh,,, aku belum kebagian ayamnya. Kok udah habis?”

Si koleris menjawab, “Jadi maksudnya, ayamnya cuma aku yang makan? Ya sudah, aku berhenti makan. Aku mah mau pundung. Merasa jadi tertuduh ngabisin ayam.” Setelah itu, sahabatku si koleris menghentikan makannya lalu cuci tangan. Ku lirik nasi dan sayurnya tinggal sedikit sedangkan daging ayamnya sudah habis. Ku pikir dia bercanda saat dia bilang mau pundung. Biasanya juga dia gak mudah kesinggung. Tapi sepertinya sore itu suasana hatinya sedang berbeda. Keesokan harinya, dia tak seakrab seperti hari-hari sebelumnya.

Peristiwa paha ayam itu terjadi sekitar bulan kedua di bulan Agustus. Melihat dia dengan sikapnya yang cuek padaku, ku pikir aku akan bersikap sebiasa mungkin dengan dia, sambil berharap dia akan secepatnya kembali seperti biasanya. Bolehlah dia cuek padaku. Tapi bagiku dia tetap teman yang telah memberiku banyak pelajaran. Tiga hari kemudian, aku pikir dia akan mulai membaik. Tapi dia masih dengan sikap  cueknya. Ditanya, menjawab seperlunya. Kalau kebetulan sedang duduk bersama, tak ada lagi berondongan cerita dari dia. Tapi kalau sedang duduk dengan si plegmatis dua, dia bersikap biasa dengan berondongan ceritanya.

Huuuftt,,, ternyata dicuekkan teman itu nggak enak. Si nafsu, tentunya ingin bersikap lebih cuek lagi pada dia. Tapi, akal tak menghendaki itu. Akhirnya,,,, ya sudahlah, menunggu dia mau membuak suaranya lagi untukku.

Dan pagi tadi, setelah tiga setengah minggu dia bungkam padaku, dia mulai membuka suaranya untukku. Aaahhh,,,, senangnya!!! Rasanya ingin melayang sambil tersenyum sendirian. Lalu turun dan memeluk dia.
Haduh,,, di balik do’a yang terkabul, paha ayam telah memisahkan kami selama tiga setengah minggu.  

Senin, 15 September 2014

Sepiring Gado-Gado



Hari ini. Yah, hari ini. Hari ini adalah hari senin tanggal 15 September 2014. Dan pertama kali saya nulis tugas One Day One Article dari pelatihan menulis dengan hati. Harusnya aku mengumpulkan tugas ini pada jam 21.00. Udah nawar ke pak Ketu, tapi belum ada balasan. Ya sudahlah. Nyampe kostan jam 21.30, Hp udah bergetar-getar ria (gak mau membukanya karena pasti dari peserta MdH), tapi otak belum tahu harus menuliskan apa.

Dari latihan one day one article ini, sebelum memuntahkan isi otak ke dalam tulisan,  saya dapat sesuatu pelajaran. Bahwa, setiap hari adalah hari baru, setiap hari menjadi kertas putih dan manusia memiliki hak untuk mengisi kertas itu walau ia tidak tahu sampai kapan akan diberi kesempatan menulis di kertas kehidupan itu. Setiap hari yang Allah berikan pada manusia pasti dengan satu harapan, bahwa manusia itu bisa hidup lebih baik dari hari kemarin dan menuliskan kisah yang lebih baik dari waktu sebelumnya. Karena memang kesempatan waktu yang Allah berikan adalah wujud kasih sayang Allah agar manusia bisa berbuat lebih banyak kebaikan. So, bagaimana dengan hari ini yang telah aku lalui?

Pagi ini diawali oleh kemesraanku dengan kamar mandi. Omegot,,, makan apa aku malam kemarin, sampai pagi harinya harus bolak-balik kamar mandi. Tapi untunglah tidak lama. Setelah minum satu gelas teh manis panas (kata orang tua, teh dapat mengurangi frekuensi buang air ketika sakit perut) dan sepiring nasi, maka sang perut sudah tidak berorasi lagi. Lappper kali yaa si perut??? Setelah beres dengan ritual pagi (prepare sebelum berangkat kerja), maka sampailah aku di kantor.

Di kantor, rasanya masih seperti hari jum’at kemarin. Bosnya keluar, di kantor tinggalaku dan sang istri bos beserta anaknya yang berusia 1 tahun. Bolehlah aku bercanda dengan anaknya yang lagi lucu-lucunya, tapi kalau sang istri bos sudah bercerita tentang anaknya yang katanya dianiaya oleh pembantunya maka aku merasa jadi si pembantu yang menganiaya anaknya. Okelah beliau curhat tentang kekesalannya pada si pembantu karena telah membuat kaki anaknya luka kena setrika.  Tapi kalau beliau curhat sambil marah-marah,,,,,, aku merasa jadi pembantunya yang sedang dimarahin sang majikan. Pengen tutup telinga, gak sopan. Ngalihin pembicaraan, beliau malah balik lagi curhat. Kalau sudah masuk moment curhat sambil marah-marah seperti itu, jalan keluarnya hanya satu, “Bu, saya izin ke air dulu!” Maka, bereslah sudah curhatan sang istri bos (untuk sementara waktu)... heuuuu,,,, :,(

Masuk jam 14.00. Klien yang akan konsultasi jurnal datang. Seorang dosen Psikologi Unpad yang juga sedang sekolah S3. Waahhh,,,, kalau ibu ini datang ke kantor, bahkan mau berjam-jam beliau bercerita hayu-lah aku jabanin. Kenapa? Karena apa yang beliau bicarakan selalu memberikan pengetahuan baru. Pertama kali beliau konsultasi, beliau bercerita tentang ‘agama-agama’ baru yang bermuculan karena memenuhi syarat sebuah agama. Beliau berkata, “Bahkan di zaman sekarang, pertandingan sepak bola pun bisa menjadi agama.” Hwaaaauuuu,,,, berharap ibu dosen bisa di kantor sampai jam malam. Gak akan bosen deh aku dengerin beliau. Dan hari ini, di sela-sela konsultasi beliau tentang jurnalnya, beliau bercerita soal negara-negara sumber ilmu psikologi dan perbedaannya. Aku gak bakalan bosen deh mau disuruh jadi notulen sampai 24 jam juga. Heheee..... trus emang ibu dosennya gak ada pekerjaan lain? Hahaaa....

Dari beliau saya mendapat inspirasi. Pokoknya saya harus banyak membaca dan menulis. Karena, pengetahuan dan ilmu itu lebih mahal dibanding segunung harta yang dimiliki.
Jam 16.00 pulang kerja. Niatnya aku mau menyempatkan nulis. Tapi, ohh,,, teman aku yang mau nginep minta dijemput. Huuuftt.... udah semangat megang senjata (buku dan balpoin) walau belum ada ide mau nulis apa, terpaksa harus menyimpan kembali senjata ke dalam tas.
Sudah masuk maghrib, maka pekerjaan selanjutnya sudah menanti. Seorang sales dari salah satu penerbit di Bandung ngajak aku kerja sama untuk ngisi web penjualan mereka. Hmm,,,, ngobrol dengan orang yang satu ini (sales, cewek) pasti saja pembicaraan diwarnai dengan cita-cita keliling dunia, sarapan pagi di Braga, jadi haji backpacker, tawaran jalan-jalan ke Thailand yang ongkosnya cuma 1.300.000,,, dan cita-cita lain yang berbau petualangan. Bersama beliau selalu muncul satu kata, SERU! Dari beliau, aku belajar semangat dan marketing. Dari jam 19.00 pekerjaan baru beres jam 21.30. Aduh ibuuuuu,,,, tab aku udah nguk-ngek dan tak tahulah apakah tugas one day one article ini akan diterima atau tidak.

Tapi, terlapas dari diterima atau tidaknya, setelah menuliskan tulisan ini (walaupun sepertinya gak jelas alurnya), aku teringat ilmu-ilmu yang aku terima tentang menulis dari teman-temanku yang sudah sukses menjadi penulis. Dia seorang reporter dan penulis puisi aktif berkata, menulis itu harus tulus dan hati merasa senang ketika menulis. Dia, seorang dislexia yang berhasil menjadi penulis novel dan kini sedang berbadan dua berkata, untuk membiasakan menulis, tuliskanlah apapun yang ada di otak kamu. Dan, tulisan yang jelek saat ini adalah lebih bagus daripada tidak menulis sama sekali.

Maka, diujung tulisanku saat ini, terlepas apakah tugas ini kan diterima atau tidak, saya tetap bahagia karena hari ini telah menulis. Inilah gado-gado cerita yang akan terasa nikmat kalau diri mau berpikir positif atas semua kehendak Allah.

Rabu, 10 September 2014

Saat Aku Bosan, maka Kau Beri Aku Sakit untuk Istirahat dan Menata Ulang Niat.

(Panjang banget judulnya....)

Ada masa dimana aku bosan dengan semua aktivitas yang kulakukan. Kerja di kantoran (padahal dulu aku do'anya ingin kerja di kantoran. Walau kuliah di jurusan Kependidikan, tapi sepertinya jiwa guru tertolak didiriku). Menulis, membaca. Di bazar buku kemarin, aku membeli tiga buku yang aku butuhkan. tapi sampai saat ini belum satu pun buku yang kau bereskan. Iyalahh... orang buku yang aku beli buku api sejarah 1 dan 2. Belinya tanggal 31 Agustus kemarin. Tapi,,, semangat membeli dan membaca waktu itu sirna dalam sekejap kala bosan melanda. Akhirnya, sementara waktu, pada kedua buku itu, aku lambaikan satu tangan, dadaaaahhhh,,,,, aku sedang tidak mau memegang kalian berdua. Hanya satu buku yang masih mau aku buka dalam kondisi bosan seperti ini. Buku Gong Travelling. Haaa,,,, aku ingin jalan-jalan keliling Asia seperti yang waktu itu Gol A. Gong lakukan. 

Di jalan dalam perjalanan ke tempat kerja, dengan malas dan berat hati terlintas sebuah keingingan. Seandainya aku sakit, mungkin aku bisa beristirahat dari semua kejenuhan aktivitas ini. Siang hari, aku bisa gulang guling di atas kasur. Merasakan waktu yang berjalan seolah milikki sendiri, dan nonton film dengan asyiknya. Dan Allah memang Maha Mendengar dan Maha Berkehendak. Maka, di ambang rasa bosan itu, makan pun telat. Efeknya, tentulah perutku protes dan mulai melakukan orasi. Sakitlah si aku ini. Setelah ke dokter, siang diisi oleh gulang guling di atas kasur, tidur disiang bolong, nonton film dengan dalih agar sakitnya tidak keingetan terus. Waktu yang kulalui seolah milikku. Senangnyaaaaa......!!!!! Bebas dari kantor, buku-buku, ichhh,,,, menajuh dulu lah!

Tapi, kondisi ini tetap saja tidak bisa berlangsung lama. Seolah Allah cuma memberiktahat waktu istirahat hanya satu hari saja. Karena setelah satu hari dilalui oleh keadaan istirahat, sesosok malaikat tiba-tiba mampir di otakku dan mengatakan, "Ingat, waktu yang kamu gunakan bukan seutuhnya milikmu. Ingat, waktu mu telah tergadaikan untuk melakukan ibadah." Oh...God! Seandainya malaikat itu datang setelah beberapa hari aku istirahat dan merasakan kenikmatan hidup di dunia. Tapi,,, itulah lonceng peringatan dari Allah. Jenuh dan capek dengan segala aktivitas, maka Allah memberi kesempatan untuk istirahat. Tapi hanya sekejap. Ya, cuma sekejap. Setelah waktu istirahat itu selesai, aku kembali harus menata ulang niat, menata ulang jadwal aktivitas bila masih merasakan bosan dengan aktivitas yang semula, merencanakan perubahan jadwal baca dan nulis, atau mungkin merencanakan untuk merubah kebiasaan. Yang pasti, semangat untuk menjalani hidup harus terus menyala dan hidup harus terus berjalan.

So, terima kasih Allah atas sekejap waktu yang Kau berikan hingga aku bisa bersemedi (berisitrahat) sekejap dan meng-up grade niat, kebiasaan dan jaln hidupku.

Selasa, 09 September 2014

KISAH TENTANG DIRI (Home Fun MdH Part 2)



Berkisah tentang diri adalah berkisah tentang seseorang yang memiliki sikap tidak tetap (seperti bunglon, tergantung orang yang dihadapi). Seorang sanguin, dalam kondisi apapun mungkin dia akan memunculkan watak heboh, periang dan penghiburnya. Kepribadian koleris, dalam kondisi dan lingkungan apapun, mungkin dia akan bertindak sebagai pengatur. Plegmatis, yang menyukai kedamaian, bisa saja ngikut suara terbanyak dan belum menentu apa pilihan dia sendiri. Dan melankolis, seseorang yang penyayang dengan kesabaran dan kelapangan hatinya mampu meluluhkan batu yang keras. Tapi aku? Sebenarnya waktu di kelas itu, aku bingung, aku sendiri masuk ke jenis kepribadian yang mana. Atau yang paling dominan yang mana. Karena memang, beda lingkungan, beda orang, beda suasana, berbeda pula penyikapanku. Saat bersama orang sanguin, aku bisa saja ikut sanguin atau jadi penonton dan pendengar saja. Saat berhadapan dengan orang koleris, selama tindakannya tidak merugikan dan mengganggu privasiku, okeee, aku ikuti. Menghadapinya bisa saja aku manut, atau kalau berbeda pikiran, aku bikin aturan sendiri. Dengan orang plegmatis yang sukanya bilang ‘terserah’ atau manut-manut saja, aku bisa menjadi koleris di hadapan mereka. Dan saat bersama dengan orang melankolis, aku bisa lebih melankolis dan sedikit agak lebay. 

Hahaa.... Jadi, manusia jenis apakah aku?

Aaahhh,,,, da aku mah apa atuh? Menentukan kepribadian aja masih bingung. Jadi lebih baik makan aja.. (nah... Lohhh???). Tapi, baiklah, aku pilih salah satu, PLEGMATIS, titik!

Berkisah tentang diri adalah berkisah tentang aku yang kata teman dekatku ‘aneh’. Kadang normal, bersikap dan berpikir seperti orang normal. Tapi tak jarang teman-temanku kaget melihat hal yang tidak biasa dikerjakan orang. Misal, di kantor saat ada client, harusnya aku mencatat pembicaraan penting client dan bos, tapi, dengan netbook membelakangi si bos, dan posisi meja aku yang berada di depan meja di bos, aku nyuri-nyuri kesempatan buat nonton film korea. Temanku yang meilhat tingkahku geleng-geleng kepala, keget melihat tingkahku. Hahahaaa... karyawan yang tak sopan!

Maafkan boss, aku ngantuk waktu itu teh,,,

Saat seseorang melihat mobil, sebuah mobillah yang mereka lihat. Tapi aku akan bertanya, apa merek mobil itu? Kondisinya masih bagus atau tidak? Dalamnya, bisa muat berapa orang? Dan pemikiran yang katanya kudu jelas jentre ini tak jarang membuat teman-temanku kesal dengan pertanyaanku. Seperti halnya home fun membuat tulisan yang berjudul ‘Kisah tentang Diri’. Sebenarnya sebelum menulis, ada pertanyaan dalam pikiranku. Kisah tentang diri ini apanya yang mesti dikisahkan? Diri dengan pengalamannya kah? Diri dengan kebiasaannya kah? Diri dengan kepribadiannya kah? Atau diri tentang apanya? Atau semuanya seutuhnya tentang diri yang dituliskan? Tapi pada akhirnya yang aku tuliskan di sini adalah diri dengann,,,,, dengan apa yang ada di pikiran saja. Wajar kalau tulisan ini tidak nyambung, karena pikirannya pun belum tersambungkan dengan baik. Hahaaa... Tapi kata guru menulisku terdahulu, tulisan jelek hari ini lebih baik daripada tidak menulis sama sekali!

Polos, yang membuat orang geli melihat kepolosanku, mungkin kadang bikin gereget, atau kalau yang belum kenal dekat mah bisa jadi tersinggung. Tapi, kondisi ini tak selamanya terjadi. Tapi yang pasti yaaa,,, seperti inilah adanya kisahku. Kadang  polos, kadang bijak, sesekali lebay, melankolis. Kalau dalam kondisi yang aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa, maka bersikap seperti orang yang gak tahu apa-apa dengan keterbatasan pengetahuannya (mungkin) yang aku lakukan. Tersesat itu akibat seseorang tidak mau bertanya saat dia tidak tahu jalan yang harus dia tempuh. Tapi bertanya itu kadang membutuhkan pemutusan urat malu untuk mendapatkan hasil dan jawaban yang tepat.
 
Dan aku, berkisah tentang diri sendiri, pada intinya adalah berkisah tentang keanehan dan pola pikir yang harus jelas jentre. Da aku mah apa atuh??? Gak tahu apa-apa. Sarapan aja harus selalu di Braga... ;-)

Seperti apapun adanya diriku, aku tetap mencintai diriku apa adanya. Karena apapun yang ada dalam diri, itu adalah potensi yang Allah berikan sebagai modal agar diri -sebagai manusia cantik- bisa menjalankan ibadah/ketaatan kepada Allah selama hidupnya. MERDEKA!!!! (bendera, mana bendera??? ^_^" ).

KISAH TENTANG HARI INI (home fun MdH part 1)



Bercerita soal hari ini adalah bercerita tentang kepengaturan Allah yang benar-benar di luar kuasa manusia (kuasaku maksudnya.. ;-) ). Juga bercerita tentang sehektar tanah yang Allah berikan atas permintaanku untuk sekuntum mawar. Dan benarlah adanya, bahwa Allah itu memiliki ke-Maha-an yang bisa berkehendak sesuai keinginan-Nya.

Berkenalan dengan kelas menulis ini adalah tentang satu pesan BBM yang masuk ke gedget saya dan nge-share bahwa ada kelas menulis "Menilis dengan Hati". (Ahh,,,, harusnya bukan dari BBM ini muqodimahnya). Muqodimah dari peristiwa hari ini adalah berawal dari cita-citaku untuk menjadi penulis novel. Kenapa ingin menjadi penulis novel? Bagian cerita ini biarlah menjadi kisah tersendiri di cerita dan tulisan lain. Yang saat ini disampaikan adalah tentang kisah hari ini! Ingat itu!!!

Well, setelah BBM masuk, saya pikir ini adalah satu jalan untuk bisa melancarkan usaha menulis saya. Saya akan punya relasi baru, saya punya komunitas yang bisa saling memotivasi dalam hal tulis menulis, bahkan mungkin saya akan dapat jalan untuk menuju pada cita-cita saya ini. So, daftarlah saya di kelas Menulis dengan Hati ini.

Exspektasi (gimana sih nulis ekspektasi???) awal saya masuk kelas menulis ini, saya akan diajarkan tentang tekhnik menulis, seperti yang dulu pernah saya lakukan di sebuah komunitas menulis. Mulanya saya berniat menyediakan buku khusus buat mencatat materi-materi yang akan disampaikan nanti. Biasa,,, salah satu kebiasaan saya dalam tulis menulis adalah suka menggunakan satu buku khusus untuk satu moment yang kira-kira lama dan membutuhkan banyak tulisan. Tapi entah mengapa, Allah Berkehendak buku itu tidak terbeli. Kesiangan, mencari buku yang kosong di kostan gak sempet, mau membeli buku di toko buku pinggiran jalan lupa terus, mau ke Rumah Buku pun masih tutup. Akhirnya, ya sudahlah pakai buku catatan yang sudah ada aja.

Perjalanan berikutnya adalah mencari lokasi. Heuu,,, dimana itu lokasinya. CP’nya tidak memberi alamat yang saya fahami betul. Katanya di Cihaurgeulis (masuk lewat pusda’i). ‘Masuk lewat pusda’i itu saya harus masuk ke kawasan pusda’i atau lewat jalan belakang pusda’i yang suka dijadikan pasar jum’at? Tapi saya pikir itu bukan jalan Cihaurgeulis. Ada lah nama jalan itu, tapi bukan Cihaurgeulis dan apa nama jalannya saya sendiri lupa. Hehee....

Alhasil, saya masuk aja ke kawasan pusda’i. Lalu nanya ke bapak-bapak  yang ada di pos mesjid pusda’i sebelah timur. Pertama nunjukkin arah yang salah, yaitu ke arah jalan surapati lalu nanti masuk gang. Katanya Pondok Almeera itu adalah kost-kostan yang biasa digunakan untuk tempat ngaji. Ada ustadznya dan yang ngekost di sana adalah orang-orangnya atau jama'ahnya. Uweeehhh,,,,????? serem juga!!!!! Biasanya kalau yang ditanyain itu lokasi pengajian, orang udah berpikir, orang ini pasti ikut pengajian itu. Dan memang, pertanyaan itu terlontar dari salah satu mulut si bapak yang ada di sana. Gak mau disebut ikutan ngaji, saya jawab, saya mah cuma mau ikutan pelatihan nulis. Karena katanya ada pelatihan nulis di tempat itu. Untuk meyakinkan ketiga bapak itu, saya tunjukkan deh sms reminder dari CP’nya. Dan setelah menunjukkan sms itu, seorang bapak yang baru nimbrung memberi tahu lokasi yang berbeda, yaitu pondok Almeera yang sebenarnya. Berjalankah aku ke pondok Almeera dengan semangat untuk menerima materi-materi yang nanti akan disampaikan. Kalau gak malu, aku ingin berlari ke pondok Almeera itu sambil berseru girang. Tapiii, sepertinya aku belum siap disebut aneh oleh orang yang belum aku kenal. So, berjalanlah aku dengan semangat dan rasa senang yang terpendam di belakang dada.

Aku yang memiliki otak yang hiperaktif (seneng membayangkan suatu kemungkinan yang akan terjadi/dijalani) telah membayangkn hal-hal yang seru dan semangat dalam kelas itu. Melangkah,,, otak membayangkan hal-hal yang mungkin nanti akan terjadi.

Sampailah aku di Pondok Almeera. Tempatnya nampak seperti rumah biasa. Maksudnya rumah biasa adalah rumah yang digunakan untuk dihuni, bukan rumah yang digunakan khusus untuk pertemuan seperti Aula. Itu adalah hal pertama yang meleset dari bayanganku. Oke,,, tak apa. Aku lanjutkan perjalanan ke lantai 2 sesuai yang ada di petunjuk arah yang ditempel di salah satu tiang rumah itu. 

Ruangan kelas menulis yang aku bayangkan ternyata ruangan kecil yang seukuran kamar kost-kostan. Meleset dari perkiraan lagi, tak apalah. Di ruangan itu, aku melihat dua orang peserta yang tengah duduk manis berdiam-diaman satu sama lain, membuat aku tak sabar ingin kenalan dengan mereka. Kenalan dan ngobrol dengan orang yang baru bagiku adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Dan berkenalanlah aku dengan mereka.

Teeeenggg,,,,!!!!! Waktu kematerian dimulai. Hal yang meleset selanjutnya adalah content kemateriannya. Tapi sebelum ke content, ada hal menarik yang terjadi sebelumnya. Aku diajarkan tentang empat kepribadian manusia. Koleris, sanguin, plegmatis dan melankolis. Pada sesi perkenalan, peserta harus bisa menyebutkan dirinya masuk ke kategori apa. Dulu aku pernah baca sekilas. Tapi hari ini dijelaskan lebih detail (walau gak detail-detail amat. Tpi lumayanlah, gambaran umumnya ada, hahaa).

Kembali ke content! Sebelum masuk pada kematerian, pematerinya terlebih dahulu bilang bahwa dia akan mematahkan ekspektasi-ekspektasi peserta. Oke, viksss, saya sudah siap dipatahkan. Intinya bahwa kelas menulis ini tidak akan mencetak penulis-penulis yang terkenal dan membuat buku bestseller. Bukan! Bukan untuk itu. Tapi dengan kelas menulis ini, beliau (pemateri) bilang bahwa goal dari kelas menulis ini adalah mencetak penulis-penulis yang menulis dengan hati. Dalam artian, penulis yang menulis bukan hanya mengejar bestseller, tapi mengejar keridhon Allah sampai pada akhirnya menulis itu bisa menjadi ibadah.
Terpatahkan?
Tidak!
Semu hal yang dibayangkan memang tidak ada yang terjadi satu pun, selain keakraban saya dengan para peserta lainnya. Tapi, inilah ‘ladang’ yang Allah berikan. Sekuntum mawar yang saya minta, tapi Dia memberikan puluhan pohon (kalau mawar apa sih namanya? Pohon apa batang?) plus dengan ladangnya. Allah memang selalu memiliki rencana lebih indah dari rencana yang kita buat. Dan Allah-lah satu-satunya pengatur hidup kita dan yang tahu hal terbaik untuk kita. 

Ekspektasi terpatahkan, tapi di kelas itu saya merasa diingatkan kembali akan niat saya menjadi seorang penulis. (Soal niat awal menjadi seorang penulis, itu ditulis di sesi/catatan yang lain). Saya bertemu dengan orang-orang baru yang artinya bertambah teman, pasangan saya soulmate kang Ayi padahal maunya teh Ilma, mendapat cerita tentang penulis-penulis yang niat awalnya tidak memiliki niat agar tulisannya dibukukan dan dijadikan film. Dan yang lebih penting adalah, saya yakin, hari ini, di tempat ini, di jam ini, adalah jalan yang Allah aturkan untuk saya menuju pencapaian cita-cita saya. Tak ada kejadian yang kebetulan dan sia-sia, bukan? Biar apa yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi, tapi apa yang didapat tidak terlakahkan oleh serunya kejadian yang sebelumnya dibayangkan.

Saya memang gak tahu efek apa yang akan terjadi nanti dari peristiwa hari ini. Sebelumnya saya mendapat masukan dari teman bahwa untuk mengembangkan kemampuan nulis saya, saya butuh seseorang yang bisa mengarahkan dan menentukan jalur tulisan saya. Saya gak tahu, hasil dari peristiwa hari ini di Pondok Almeera apakah akan  ada seseorang yang saya butuhkan itu? Saya tidak tahu. Tapi, apa yang saya dapatkan, yaitu soal niat menulis, itulah yang paling berharga yang didapatkan dari ruangan kira-kira seluas 3x3 m hari ini.

Ekspektasi terpatahkan, tapi Alhamdulillah saya bisa mersakan betapa Kepengeturan Allah itu lebih indah dan lebih baik. 

Satu kuntum mawar yang saya minta, tapi Dia Memberi saya ladang dan tanaman mawarnya...|

Bersih-Bersih "Kamar" Blog...

It's time to bersih-bersih 'kamar' blog.
Aduhhh....banyak sekali sarang laba-labanya. Bersihin halaman depan, pojokan, samping kiri kanan, lukisan-lukiisan yang berdebu dan miring diluruskan dan dibersihkan. Lantainya dibersihkan hingga kinclong, daaa.....n, pingganggku sakut karena kebanyakan ngepel.
Tapi hasil akhirnya.... tereeeeeeenggg.... 'kamar' blog ku sudah bersih, rapi kinclong dan siap dibersihkan.

Heuuu,,, membersihkannya bukan semata membuka dan bersih-bersih. Tapi sebelum melakukan bersih-bersih terlebih dahulu aku harus memutar otak memikirkan mau digunakan tulisan jenis apa blog ini? Curhatankah? Hasil membacakah? Opini-opini dirikah? Atau tulisan jenis apa.
Mulanya aku mau menggunakan blog ini untuk opini-opini diri, pemikiran-pemikiran diri (cieeee.... pemikiran orang yang pikirannya suka melayang-layang, heheheee) dan ilmu yang didapat dari hasil membaca. Tak ada satu tulisan pun tentang curhatan diri dan tentang diri. Tapi,,, karena di kelas Menulis dengan Hati butuh setor blog,,, maka setelah mengingat, menimbang, akhirnya memutuskan,,, blog ini akan  digunakan untuk cerita tentang seorang Irma Imtihani. Ada apa di balik Irma Imtihani? Ada cerita tentang perjalanan, keanehan (unik), dan peristiwa-peristiwa normal yang diolah oleh pikiran-pikiran yang aneh.
Apanya yang aneh? Entahlah, kata teman-teman yang sudah dekat denganku, mereka sering berkomentar aku dan pola pikirku kadang aneh dan nyeleneh.

Back to kamar blog! Setelah menjalani semedi, pemikiran dan diskusi intern (dalam diri), maka pada rapat sidang blog, saya memutuskan blog ini digunakan untuk kisah-kisah perjalanan hidup Irma Imtihani!!!
Keputusan ini penting ditulis di sini?
Bagiku penting. Keputusan ini seolah menjadi sebuah haluan dalam mempergunakan blog ini. Dalam rumah, setiap kamar pasti sudah ada fungsinya masing. Gak etis dong kalau menggunakan dapur untuk tidur???
Konsep tulisan perkamar ini juga hasil dari pengalaman menulis tiga jenis blog untuk sebuah komunitas yang kemaren-kemaren dilakukan. Tapi yang sering diisinya cuma dua blog. Jadi, setiap media tulisan di internet, ada fungsinya masing-masing. FB untuk memberi motivasi orang, blog 1 untuk tulisan tentang diri, blog 2 untuk tulisan mengenai opini dan pemikiran diri, dan blog tiga,,,, entahlah. Buat rumah laba-laba aja mungkin, hahaaaa.  

Dan,,,,, inilah kamar blog cantikku tentang aku, perjalanan dan keimanan...!!!!

NB: kenapa keimanan harus dibawa?
Karena hidup tanpa iman itu CELAKA!!!!