Terlalu menyesuaikan diri dengan karakter
orang lain, akhirnya membuat bingung sendiri, jadi kepribadian aku seperti apa?
Beberapa tahun ke belakang, aku
mulai berpikir, karakter aku sebenarnya seperti apa? Masalahnya setiap bertemu
dengan orang yang beragam karakter, penyikapan aku pada mereka selalu berbeda. Jika
dengan orang yang suka mendengarkan aku akan banyak bicara. Jika dengan orang
yang banyak bercerita aku yang jadi pendengar. Tapi kebanyakan memang aku lebih
banyak mendengarkan (mungkin efek banyak teman yang suka bercerita dibanding
mendengarkan, heheee). Kadang dengan orang yang heboh, aku pun ikut
menghebohkan diri. Jika bergaul dengan anak remaja, maka meremajakan diri. Maka
satu waktu, aku putuskan bahwa aku memang tipikal orang yang sering
berubah-ubah karakter, tergantung siapa orang yang aku hadapi. Bahkan, pada
seorang teman aku pernah bilang bahwa aku adalah cermin. Isinya bisa berubah
kapanpun, tergantung siapa yang berdiri di depan cermin (loh, nyambung gak
yah cermin dan ??? ;-) )
Suatu hari, ada dua orang yang
mengatakan sesuatu yang berbeda tentangku. Orang pertama adalah seorang bidan
yang telah berpengalaman lima tahun kerja. Karena sudah sering berhubungan
dengan banyak orang, maka dia bisa menebak karakter orang lain. Bidan itu
bilang kalau aku orangnya plin-plan, belum memiliki pendirian yang kokoh. Terhenyak
juga aku mendengarnya. Plin-plan itu kan sikap yang gak baik. Pula seperti
anak-anak. Sedang usiaku sudah masuk usia dewasa (agak gak ridho gitu
dibilang kayak anak-anak, hikss...). Tapi setelah direnungkan, ada benarnya
juga. Bukankah selama ini aku memang seperti itu? Misalnya mudah merubah
rencana saat rencana yang telah dibikin hendak dijalankan. Lama-lama, iyalah
aku terima tebakan bidan itu. Aku memang plin-plan.
Orang kedua adalah ayahnya teman
aku. Karena ia seorang mandor proyek pembangunan, maka beliau pun sering
berhubungan dengan banyak orang. Hasilnya, beliau pun suka menebak karakter
orang lain. Saat aku main ke rumah teman aku itu, maka ayahnya bilang, “Coba
jadi diri sendiri, lepaskan kekakuan yang ada pada diri sendiri.” Mulanya aku
gak ngerti. Kekakuan apa? Diri sendiri yang seperti apa? Bukankah wajar saja
kalau aku bersikap menghormati saat aku bicara dengan orang yang lebih dewasa
dari aku? Karena aku menghormati beliau, maka aku pun belajar jaga sikap. Berbicara
sopan, sopan mendengarkan, sopan berperilaku. Wajar kan kalau aku bersikap
seperti itu? Meskipun, kata teman aku itu, teman-teman sekolah dia biasanya bersikap
biasa aja pada ayahnya. Bahkan cenderung seperti ke seorang teman yang bebasa
saja mau bicara atau bercanda pun. Si aku, nyatanya belum bisa seperti itu,
lantas mau gimana???
Lalu sampailah saya pada suatu
hari saat saya jalan bareng dengan seorang teman lama yang sudah lama tak
bertemu. Dengannya, aku merasa nyaman ngobrol. Biasanya, saat janjian dengan
seorang teman, sering kali pikiran dibatasi oleh hal-hal yang sesuai dengan
karakter teman saya. Jadi, pembicaraan pun tidak mengalir dan kurang nyaman. Tapi
saat bersama teman lama aku itu, apa yang aku pikirkan bisa keluar dengan
lancar. Bahkan kita bisa bertukar pikiran. Mengeluarkan pendapat masing-masing
kita, meski kadang pendapat kami tak sama. Tapi walau bagitu, setidaknya aku
bisa mengeluarkan pendapat aku sendiri. Bahkan sikap narsis aku keluar, gaya
bicara yang nyaman dengan apa adanya diriku pun keluar. Nyaman juga bisa
bersosialisasi dengan gaya seperti itu. Bisanya aku ragu mengeluarkan pendapat
demi menghargai teman aku. Tapi setelah ngobrol dengan tema lama aku itu, aku
merasa lebih nyaman dengan dia. Pembicaraan dua arah yang lancar. Tak ada
seorang pun yang mendominasi pembicaraan. Dan aku pun, merasa jadi diri
sendiri, apa adanya.
Setelah direnungkan, ternyata
aslinya kita itu sama dengan apa yang ada di pikiran kita. Saat pikiran dan
langkah tidak sesuai, maka saat itulah kita bertindak bukan jadi diri sendiri. Saat
kita bersosialisasi dengan rasa terbebani oleh pikiran saya harus bertindak
seperti apa agar bisa sesuai dengan lingkungan yang saya masuki, maka saat
itu kita tidak menjadi diri sendiri.
Kita adalah apa yang ada dalam
pikiran kita!!!
Jadi diri sendiri itu seru
sekali. Bisa dapat banyak pengalaman baru, banyak masukan dari teman untuk bisa
lebih baik lagi. Kalau ada sikap atau tingkah yang salah gampang menerima
kritik/masukan/saran dari orang lain. Dan yang lebih penting, kita tidak
kerepotan untuk jadi orang lain yang tidak sesuai dengan pikiran kita.
Ya,, saya adalah saya, dengan
pikirana saya sendiri.
Jadilah diri sendiri, untuk
mengurangi sedikit beban hidup diri.
Jadilah diiri sendiri, dan
biarkan orang lain tahu apa adanya diri!!!
Bandung, 04 Februari
2016