Istilah “Allah selalu memiliki
takdir yang lebih baik dari yang kita harapkan”, benarkah kita telah
meyakininya? Hingga saat mengalami kejadian yang tidak kita sukai sekali pun,
pikiran kita masih bisa berpikir positif: tak ada yang salah dengan kejadian ini!
Walau hati merasa kesal, sakit, kecewa, tapi pikiran terus ditarik untuk tetap
berpikir tak ada yang salah dengan kejadian ini. Sudah kah kita seperti
itu?
Kenyataan untuk bisa berpikir
positif dengan mudah, jujur, masih saja sulit kulakukan, kecuali jika sudah
memahami apa kebaikan dari kejadian yang tidak disukai itu. Kalau sudah tahu,
maka luluhlah semua kekesalan dan kekecewaan di hati, lalu berganti rasa syukur
yang tiada terkira. Bagaimana kita tidak akan bahagia jika seseorang memberikan
bunga bank sama simpanannya saat kita ingin bunga mawar (#loh, kok jadi riba???
Heee).
Selain itu, berpikir positif juga
merupakan ujian keyakinan atau kepercayaan pada Allah. Senantiasa kita
melafazkan dzikir subhanallah setelah beres shalat. Atau dalam aktivitas
kita mungkin? Kita tak pernah lepas dari kalimat tasbih tersebut. Arti dari
kalimat subhanallah adalah maha suci Allah. Artinya, Allah-lah yang paling suci
diantara yang tersuci. Salah satu wujud sucinya Allah adalah bahwa Allah tidak
pernah memberikan takdir yang salah atau yang jelek pada hamba-Nya. Itu makanya, tak ada kejadian yang sebenarnya
buruk buat kita. Semua kejadian itu baik buat kita. Yang memandang suatu
kejadian buruk hanyalah ego kita sendiri. Ini baik karena sesuai dengan harapan
diri. Ini jelek karena tidak sesuai dengan harapan diri. Padahal, takdir,
apapun itu, tak pernah ada yang salah atau jelek. Betul????
Termasuk kejadian bocor ban motor
hari ini (mulai deh curhatnya, hihiii...). Perjalanan Subang-Bamdung
hari ini diawali oleh ban dalam motor yang bocor. Tepatnya sobek. Mulanya kesal
juga. Dari bulan Desember sampai sekarang Februari, masa tiap bulan ganti ban? Padahal
ban yang dibeli udah ban yang agak mahal. Tapi tetap aja harus ganti ban dalam.
Perjalanan seorang diri ternyata sebenarnya tak pernah sendirian. Saat ban
motor bocor, ada beberapa orang yang membantu, hingga akhirnya sampai ke
bengkel. Ah... benar sekali kalimat dalam surat ath-Thariq itu, bahwa tak ada
satu pun jiwa (diri) selain ada penjaganya (QS. Ath-Thaariq:4). Maka,
perjalanan seorang diri pun selalu mendapat bantuan dari tangan-tangan lain
saat diri membutuhkan bantuan.
Selama dalam perjalanan ke
bengkel, aku muter otak dengan sebuah pertanyaan: kenapa bisa sampai sebulan
sekali ganti ban motor (ban dalam)? Lumayankan 50.000 perbulan hanya untuk
mengganti ban dalam motor? Belum lagi untuk servisnya. Ngenes juga...! Dalam
kondisi ngirit uang, ada aja biaya yang tak terduga. Sampai di bengkel, aku bertanya
ke mang bengkelnya, “Mang, kenapa yah ban dalamnya mudah rusak/bocor? Tiap bulan
loh saya ganti ban dalam.”
Dengan santainya mang bengkel
bilang, “Itu karena bocor, Teh.”
Krik,,krik. Harapan dapat
penjelasan yang masuk akal dan akan aku lakukan, pupuslah sudah. (aku jadi
merana menyanyi sambil menangis seorang diri, #LebayON). Jawaban mang
bengkelnya benar-benar bikin aku patah hati. Ini kondisinya aku yang salah
pertanyaan, atau mang bengkelnya yang bingung jawab, yah??
Tapi ya sudahlah,,, ban motor udah
rusak toh? Mau diapain lagi? Harus marah ke mang bengkel yang gak tahu apa-apa?
Atau ngomel-ngomel ke ban motor yang jelas-jelas gak punya penglihatan dan
pendengaran? Akhirnya, dengan kesal yang masih bercongkol di hati, pikiran
memaksakan diri untuk berpikir positif.
Pagi ini adalah perjalanan
Subang-Bandung. Dari awal pakai motor, aku sudah merasakan keanehan dengan
kondisi motor. Rantai yang suka mendadak ngajetruk, ban belakang yang
sering terasa bergoyang tapi gak kempes, juga laju mesin motor yang gak enak. Padahal
dua hari sebelumnya motor itu baru di servis. Dan kejadian rusaknya ban motor
lalu masuk bengkel, memberikan hikmah tentang perlindungan Allah. Motorku itu,
sambungan rantainya ada yang lepas. Karena itulah motor jadi gak enak jalannya.
Maka masuknya motor ke bengkel dengan masalah pertama ban bocor, membuat
motorku tersayang dibenerin. Hasilnya, jalannya jadi terasa lebih baik.
Hikmah yang bisa aku ambil adalah
betapa kasih sayang Allah itu besar. Dia tahu ada masalah dengan motorku. Kalau
saja saat itu motor aku gak masuk bengkel, mungkin kejadiannya akan lebih buruk
dari ban bocor. Apalagi untuk bermotor ria di Bandung. Motor yang fit
jelas-jelas dibutuhkan untuk keselamatan berkendara.
Ban motor bocor, meski mulanya
bikin kesal, tapi berujung syukur.
Terima kasih Allah. Kau memang
tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kau juga sebaik-baik Pelindung dan
Pemelihara. Bimbing aku untuk senantiasa hidup dalam ketaatan kepada-Mu. Amin..
03 Februari 2016