Hai Jamalku (novelku), dari awal April ini
aku belum lagi mengurusmu. Sampai sekarang sudah tanggal 21 April, kau belum
juga aku buka. Kenapa? Ada apa dengan aku?
Kau tahu? Awal April selama hampir 2 minggu
aku harus ngurus ibu aku yang sakit. Masak, bersih-bersih rumah, ngurus ibu
yang sakit, ngurus makan adik. Makan kalau untuk keluarga saja masih mending. Tapi
aku harus menyediakan makan untuk para pekerja juga. Dua pekerja sih. Tapi
belaja walau dua pekerja, tetap aja harus menyediakan makan. Apalagi porsi
makan mereka banyak. Maafkan aku, Jamal. Entah kenapa bulan ini gelombang malas
semakin membesar. Padahal aku masih mencintaimu.
Hai rumahku (blog). Akhh,,, setelah pelatihan
menulis dahulu, bagaimana aku bisa membuatmu kesepian setiap hari? Sungguh, aku
tuan rumah yang pemalas. Padahal jika aku rajin membersihkanmu, jelas itu sebuah
keberuntungan buatku. Tapi, sepertinya malasku mulai akut. Tapi maret kemarin
aku membiarkanmu kesepian karena aku sering nulis novel. Fokus di sana, kau
jadi terlupakan. Ah,, tetaplah maafkan kemalasanku. Apapun alasannya tetap aja
aku yang mendengar, dan aku muak mendengar alasan orang yang malas.
Hai disiplin... kamu itu setinggi apa? Kenapa
susah sekali kau kudaki? Bagaimana agar aku terbiasa dengan pendakian dirimu? Memilih jalan senang sering kali kulakukan
yang akhirnya membuatku mengeluh lagi mendakimu. Bagaimana aku bisa berprestasi?
Bagaimana cita-citaku akan cepat kugapai jika aku masih mengenakan pakaian
kemalasanku. Oh disiplin, maafkan aku juga yang masih malas mengejarmu.
Hai aku... kenapa kau malas
sekali? Kapan kau akan mulai disiplin? Jika begini terus, kapan kau akan sampai
pada garis finish dari cita-citamu?
Aku: Hei pikiran yang bertanya...
aku sedang belajar. Bersabarlah sedikit. Walau malas, tapi aku belum gagal dan
mati. Karena gagal dan mati terjadi ketika kaki dan tangan telah berhenti
berusaha. Berasabar saja menikmati proses ini. Pastinya tak ada yang sia-sia
dengan semua yang telah terjadi!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar