Jumat, 14 November 2014

Yakinkah dengan Wirausaha????









Aku, yakinkah akan memilih jalan wirausaha tanpa ada pekerjaan tetap?
Yakinkah dengan semua resiko dari wirausaha yang nanti akan dijalankan?
Bagaimana dengan orang tuaku nanti? Apa mereka akan setuju dengan jalan yang akan ku pilih ini? Hidup jauh dari orang tua dengan kondisi yang terkatung-katung dan tidak menentu (secara duniawi/materi). Kadang berkecukupan, kadang berkekurangan. Sedangkan di kampung halaman sana, orang tua seringkali menawarkan pekerjaan.

Dan dengan diriku sendiri, siapkah hidup dengan kerja keras serta kekurangan?
Kata ‘kekurangan’ kemungkinan besar akan nempel dalam jalan wirausaha nanti. Karena aku tak memiliki pekerjaan tetap. Jelas, uang yang ada harus aku mengiritnya. Atau, uang yang ada distrategikan agar bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Bensin saja 2 hari 10 ribu. Kadang sehari 10 ribu. Makan, seirit-iritnya sehari bisa menghabiskan 20 ribu. Belum pulsa telpon, pulsa internet. Huuuftt....

Usaha meubel, memang aku telah gunting pita pertanda mulai usaha. Tapi itu belum jalan 100%. Hari-hari masih disibukkan dengan kebutuhan komunitas. Jualan kue,,, yah, udah tiga hari aku jualan. Keuntungan rata-rata perharinya 10 ribu dengan omzet 50.000. oemji,,, sehari 10 ribu, sedangkan pengeluaran sehari bisa saja 25-30 ribu, untuk bensin dan makan saja. Pulsa belum termasuk, dan kebutuhan lain yang tak terduga.

Yakinkah aku tidak akan mencari pekerjaan?

Memang tak ada semangat dalam mencari pekerjaan. Aku inginnya wirausaha. Punya toko sendiri. Muterin otak untuk mikirin perkembangan usaha. Dan akan sangat membanggakan saat kondisi usaha sudah mulai stabil. Waahhh,,,, membayangkannya indah sekaliiii..... :-)

Siang tadi temanku bercerita, di tempat kerjanya dia diberi susu setiap bulannya. Di hari-hari tertentu diberi jus. Gaji yang diperoleh 2,1. Sepertinya hidup sudah tenang. Uang dapat, pekerjaan Cuma tinggal menjalankan jobdesk yang sudah ada. Sedangkan kalau wirausaha??? Makan tak tentu. Dapat uang tak tentu. Kerja harus muter otak sendiri. Gak ada jobdesk yang hanya tinggal dikerjakan. Semuanya dipikirkan sendiri. Melelahkan, bukan? Sangat bertolak belakang dengan status karyawan. 

Yakinkah aku dengan jalan ini? 

Mimpi itu harganya pasti mahal. Perlu ditebus dengan tenaga, pikiran, lelah, penghematan uang, belum lagi komentar orang tua nanti. Hmm.... 

Hanya bermodalkan mimpi dan motivasi, mampukah?

Mimpi untuk punya usaha sendiri dan motivasi-motivasi wirauasaha.

Jika ingat kata ustadz itu, “Allah itu memiliki kemahaan. Maha kaya, maha berkehendak, maha pemurah. Dengan kemahaan Allah itu sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Maka, bergeraklah mengejar mimpi-mimpimu untuk membuktikan kemahaan Allah itu.”

Itu...!!!

Jika kupejamkan mata, kesuksesan itu sudah terlihat. Yah, di sana, di depan keningku, kesuksesan itu sudah nampak. Minimalnya hasil dari wirausaha itu dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi jalan menuju ke sana gelap. Mimpi itulah yang menjadi cahayanya.
Usahanya apa? | Punya toko kue dan meubel|. Itu saja.

Kau-kah yang telah menanamkan cita-cita wirausaha ini? Hujan yang mengguyur bumi malam ini, Kau-lah yang mengaturnya. Malam yang terus berganti dengan siang, Kau pula yang mengaturnya. Maka, apakah aku masih belum yakin akan takdir rizkiku yang telah Kau gariskan? Ataukah aku belum meyakini akan kemahaan-Mu?

Robbana, Kau-lah yang menjamin hidup dan penghidupan hamba. Maka, hilangkanlah segala keraguan akan materi. Sabarkan dalam kekurangan, sabarkan dalam kecukupan, sabarkan dalam kelebihan.

******

Ayo bermain, dengan keyakinan, keterbatasn materi, keajaiban rizki, keberkahan usaha.
Mari bermain, dengan kemahaan Allah yang mampu menghendaki berbagai peristiwa. Hingga tak ada lagi rasa khawatir dan pesimis dalam menjalani kehidupan ini!!!!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar