Aku,
yakinkah akan memilih jalan wirausaha tanpa ada pekerjaan tetap?
Yakinkah
dengan semua resiko dari wirausaha yang nanti akan dijalankan?
Bagaimana
dengan orang tuaku nanti? Apa mereka akan setuju dengan jalan yang akan ku
pilih ini? Hidup jauh dari orang tua dengan kondisi yang terkatung-katung dan
tidak menentu (secara duniawi/materi). Kadang berkecukupan, kadang
berkekurangan. Sedangkan di kampung halaman sana, orang tua seringkali
menawarkan pekerjaan.
Dan
dengan diriku sendiri, siapkah hidup dengan kerja keras serta kekurangan?
Kata
‘kekurangan’ kemungkinan besar akan nempel dalam jalan wirausaha nanti. Karena aku
tak memiliki pekerjaan tetap. Jelas, uang yang ada harus aku mengiritnya. Atau,
uang yang ada distrategikan agar bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Bensin
saja 2 hari 10 ribu. Kadang sehari 10 ribu. Makan, seirit-iritnya sehari bisa
menghabiskan 20 ribu. Belum pulsa telpon, pulsa internet. Huuuftt....
Usaha
meubel, memang aku telah gunting pita pertanda mulai usaha. Tapi itu belum
jalan 100%. Hari-hari masih disibukkan dengan kebutuhan komunitas. Jualan
kue,,, yah, udah tiga hari aku jualan. Keuntungan rata-rata perharinya 10 ribu
dengan omzet 50.000. oemji,,, sehari 10 ribu, sedangkan pengeluaran sehari bisa
saja 25-30 ribu, untuk bensin dan makan saja. Pulsa belum termasuk, dan
kebutuhan lain yang tak terduga.
Yakinkah
aku tidak akan mencari pekerjaan?
Memang
tak ada semangat dalam mencari pekerjaan. Aku inginnya wirausaha. Punya toko
sendiri. Muterin otak untuk mikirin perkembangan usaha. Dan akan sangat
membanggakan saat kondisi usaha sudah mulai stabil. Waahhh,,,, membayangkannya
indah sekaliiii..... :-)
Siang
tadi temanku bercerita, di tempat kerjanya dia diberi susu setiap bulannya. Di hari-hari
tertentu diberi jus. Gaji yang diperoleh 2,1. Sepertinya hidup sudah tenang. Uang
dapat, pekerjaan Cuma tinggal menjalankan jobdesk yang sudah ada. Sedangkan kalau
wirausaha??? Makan tak tentu. Dapat uang tak tentu. Kerja harus muter otak
sendiri. Gak ada jobdesk yang hanya tinggal dikerjakan. Semuanya dipikirkan
sendiri. Melelahkan, bukan? Sangat bertolak belakang dengan status karyawan.
Yakinkah
aku dengan jalan ini?
Mimpi
itu harganya pasti mahal. Perlu ditebus dengan tenaga, pikiran, lelah,
penghematan uang, belum lagi komentar orang tua nanti. Hmm....
Hanya
bermodalkan mimpi dan motivasi, mampukah?
Mimpi
untuk punya usaha sendiri dan motivasi-motivasi wirauasaha.
Jika
ingat kata ustadz itu, “Allah itu memiliki kemahaan. Maha kaya, maha
berkehendak, maha pemurah. Dengan kemahaan Allah itu sesuatu yang tidak mungkin
akan menjadi mungkin. Maka, bergeraklah mengejar mimpi-mimpimu untuk
membuktikan kemahaan Allah itu.”
Itu...!!!
Jika
kupejamkan mata, kesuksesan itu sudah terlihat. Yah, di sana, di depan
keningku, kesuksesan itu sudah nampak. Minimalnya hasil dari wirausaha itu
dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi jalan menuju ke sana gelap. Mimpi itulah
yang menjadi cahayanya.
Usahanya
apa? | Punya toko kue dan meubel|. Itu saja.
Kau-kah yang telah menanamkan
cita-cita wirausaha ini? Hujan yang mengguyur bumi malam ini, Kau-lah yang
mengaturnya. Malam yang terus berganti dengan siang, Kau pula yang mengaturnya.
Maka, apakah aku masih belum yakin akan takdir rizkiku yang telah Kau gariskan?
Ataukah aku belum meyakini akan kemahaan-Mu?
Robbana, Kau-lah yang menjamin
hidup dan penghidupan hamba. Maka, hilangkanlah segala keraguan akan materi. Sabarkan
dalam kekurangan, sabarkan dalam kecukupan, sabarkan dalam kelebihan.
******
Ayo
bermain, dengan keyakinan, keterbatasn materi, keajaiban rizki, keberkahan
usaha.
Mari
bermain, dengan kemahaan Allah yang mampu menghendaki berbagai peristiwa. Hingga
tak ada lagi rasa khawatir dan pesimis dalam menjalani kehidupan ini!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar