Selasa, 11 November 2014

Bandung, dan Aku



Hidup di Bandung, bermula dari kuliah di UPI. Di sanalah perkenalan pertamaku dengan Bandung. Bandung dengan segala pernak-perniknya, Bandung dengan segala relaitanya, gemerlapnya dan Bandung dengan predikat kota shoping dan kuliner.

Beres kuliah, keinginanku untuk menetap di Bandung masih kuat. Melewati masa nganggur selama empat bulan, kerja selama dua bulan, dan kini harus terjun ke lapak. Orang lain menetap di Bandung mungkin karena pekerjaannya yang menjanjikan hujan uang baginya. Atau karena ikatan pernikahan yang mengikatnya. Tapi aku,,, selintas muncul sebuah pertanyaan, kenapa aku masih menetap di Bandung dengan pekerjaan buka lapak gini? Bukankah lebih baik balik ke rumah dan menerima tawaran pekerjaan yang jelas-jelas menantiku di Subang sana?

Bagiku saat ini, Bandung bukan sebatas tempat kuliah atau bekerja di kantoran. Bandung bukan hanya kota tempatku mendapatkan ilmu dan uang. Tapi lebih dari itu. Lebih dari semua itu. Bandung, bagiku adalah tempat aku mengenal diriku sendiri. Bandung menjadi saksi perkenalanku dengan arti kehidupan ini. Di Bandung inilah sumber cahaya hidupku bermula. Di Bandung inilah aku mengenal Allah, tujuan hidupku dan tugasku sebagai seorang manusia di hadapan Allah. Bumi Allah memang luas. Dan untuk menebarkan semangat mengenal Allah dan tujuan hidup manusia gak terbatas di Bandung saja. Tapi untuk saat ini, untuk detik ini, Bandung masih menjadi kota perjuanganku. Bukan karena gemerlapnya malam di Bandung. Bukan karena indahnya shubuh yang terbit di Bandung. Juga bukan karena materi yang dijanjikan di Bandung. Tapi karena sumber pijar langkahku masih kuat mengikat tubuhku di tanah Bandung ini. 

Bandung malam, 11 Nopember 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar