Hidup
di Bandung, bermula dari kuliah di UPI. Di sanalah perkenalan pertamaku dengan
Bandung. Bandung dengan segala pernak-perniknya, Bandung dengan segala
relaitanya, gemerlapnya dan Bandung dengan predikat kota shoping dan kuliner.
Beres
kuliah, keinginanku untuk menetap di Bandung masih kuat. Melewati masa nganggur
selama empat bulan, kerja selama dua bulan, dan kini harus terjun ke lapak. Orang
lain menetap di Bandung mungkin karena pekerjaannya yang menjanjikan hujan uang
baginya. Atau karena ikatan pernikahan yang mengikatnya. Tapi aku,,, selintas
muncul sebuah pertanyaan, kenapa aku masih menetap di Bandung dengan pekerjaan
buka lapak gini? Bukankah lebih baik balik ke rumah dan menerima tawaran
pekerjaan yang jelas-jelas menantiku di Subang sana?
Bagiku
saat ini, Bandung bukan sebatas tempat kuliah atau bekerja di kantoran. Bandung
bukan hanya kota tempatku mendapatkan ilmu dan uang. Tapi lebih dari itu. Lebih
dari semua itu. Bandung, bagiku adalah tempat aku mengenal diriku sendiri.
Bandung menjadi saksi perkenalanku dengan arti kehidupan ini. Di Bandung inilah
sumber cahaya hidupku bermula. Di Bandung inilah aku mengenal Allah, tujuan
hidupku dan tugasku sebagai seorang manusia di hadapan Allah. Bumi Allah memang
luas. Dan untuk menebarkan semangat mengenal Allah dan tujuan hidup manusia gak
terbatas di Bandung saja. Tapi untuk saat ini, untuk detik ini, Bandung masih
menjadi kota perjuanganku. Bukan karena gemerlapnya malam di Bandung. Bukan karena
indahnya shubuh yang terbit di Bandung. Juga bukan karena materi yang
dijanjikan di Bandung. Tapi karena sumber pijar langkahku masih kuat mengikat
tubuhku di tanah Bandung ini.
Bandung malam, 11 Nopember 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar