Hahahaaa,,,,
ketahuan yaa motivasi menulisnya masih belum poooool. Tapi, selama masih bisa
dilanjut, bukankah itu juga baik? Daripada nggak sama sekali??? So,, cerita
kali ini bukan tentang beres-beres kamar blog lagi, melainkan pengalaman
pertama jualan kue basah.
Setelah
off dari tempat kerja, di-off-kan bukan karena pekerjaanku yang dinilai
negatif, tapi karena tempat kerjanya yang bermasalah. Tapi, apapun alasannya
aku berhenti dari tempat kerja, yang aku yakini bahwa Allah memiliki rencana
lain. Jalan hidupku bukan di perusahaan tempat aku kerja itu. Jalan hidupku
adalah di tempat lain. Di pekerjaan yang lain.
Jualan
kue basah di pagi hari adalah ide sejak sebelum aku kerja dulu. Tapi dikukus
aja. Setelah masuk kerja, ide itu gak kepikiran lagi. Setelah kerja off,
pendapatan gak ada, maka ide jualan kue itu dibuka lagi. Tereeeeeenggg,,,, sekaranglah hasilnya.
Target
mulainya hari senin 10 Nopember. Dari malam seninnya, pikiran udah tegang aja. Deg-degan.
Malu pada orang-orang yang liat aku jualan nanti. Gak PD. Ada pikiran untuk gak
jadi jualan, munduraja deeehh... beres perkarakan kalau gak jadi jualan??? Peralatan
untuk jualan pun belum sepenuhnya ada. Aku udah minta tolong ke teman untuk
nemenin hari pertamaku. Minimalnya nemenin belanja dan duduk di menit pertama
saat buka lapak. Tapi, wassalam. Hari senin dengan berbagai rasa itu, akhirnya
aku gak jualan. Bangun memang kesiangan. Tapi bukan karena itu intinya aku
belum mulai jualan. Melainkan mentalku belum siap.
Hahaa,,,,
lebay amet pikirannya. Atau memang pikiran pertama seorang yang akan jualana
memang seperti itu???
Hari
selasa, hari ini, setelah jatuh di hari target pertama, semangat mulai membara.
Tidur diwaktu yang lebih awal. Bangun pun sebelum alarm berbunyi. Sebelum dingin
merambahi tubuhku, maka langkah pertama setelah bangun tidur adalah kamar
mandi. Yak, mandi terlebih dahulu. Dan memang berhasil, dingin jauh-jauh dari
tubuhku walaupun mandi di jam 4 subuh.
Euforia
pertama, aku jerit-jerit di motor. Gak percaya pada akhirnya aku akan jadi
jualan. Segarnya udara Bandung di jam 5 subuh menambah semangat perjalanan
menuju Buah Batu. Euforia kedua karena terlalu senang, pasar kue yang kutuju
kelewat. Hahaa... kebanyakan jerit-jerit di motor, pasar kuenya kelewat.
Hhmm,,, ;-)
Target
jam 6 subuh udah stand by di lapak. Tapi,,, o-em-ji, ban motor pake bocor
segala. Pagi-pagi udah mendorong. Dan parahnya, jam 6 pagi tukang tambal ban
itu mana ada yang udah buka. Kuketuk pintu tukang tambal ban pertama, gak ada
jawaban. Tuh kan, mana ada yang udah buka jam 6 subuh gini? Neng Hafsoh pun kembali
ku dorong. Setelah berjalan beberapa meter, kutemukan juga tambal ban yang udah
buka. Alhadulillah....
Akhirnya,
persoalan rizki biarlah itu urusan Allah. Mau buka lapak siang dengan rizki
yang didapatkan seadanya, ya seadanya itulah rizkiku dihari pertama jualan ini.
Melihat
mang tambal ban yang sedang membetulkan ban motorku, satu pelajaran yang aku
terima. Bahwa rizki setiap orang memang gak akan pernah ketukar. Rizki tukang
tambal ban yang disyariatkan padaku, memang harusnya untuk tukang tambal ban bkedua
yang aku temu, bukan tukang tambal ban
yang pertama. Pelajaran keduanya adalah bahwa semakin pagi kita berusaha, maka
pintu rizki semakin terbuka dan dari arah yang tidak terduga. Makanya rasul
bilang bawah setelah subuh malaikat Mikail menebarkan rizki dari Allah.
Ahh,,,
semangat! Bocor ban pagi-pagi, keluar uang pagi-pagi, tak ada yang sia-sia. Tak
ada yang lepas dari kepengaturan Allah, dan semua kejadian pastinya mengandung
pelajaran.
Dan
di hari pertama pun, penjualan kue dengan modal 63.000 terjual semua. Eh,, sisa
satu biji. Dimakan aku 3 biji. Total jumlah kue yang terjual 53 biji.
Alhamdulillah. Bonusnya, aku ditawari nyimpen kue di sebuah kantor atas
rekomendasi teman yang kerja di sana. Woowww,,,,,
Bandung, 11 Nopember 2014.