Rabu, 02 Maret 2016

Nyanian Pengemis Kasih


Malam-malamku, kini berisi nyanyian tentang seorang pengemis kasih pada Sang Penguasa Kasih. Melodinya adalah not-not bernada pengharapan tentang kemurnian cinta. Syairnya berisi kisah seorang perindu yang tengah terusik nafsu dan cinta lain.
Malamnya tak lagi berisi kesejukan kasih.
Siangnya hanya tentang keresahan antara harap dan putus asa.
Matanya tak lagi berbinar semangat kecintaan.
Tergopoh. Terseok. Bahkan sesekali merangkak demi bertemu Sang Penguasa Kasih.

Cerita alam tak lagi tentang kehebatan Sang Pujaan.
Tulisan alam hanya berisikan kata-kata yang bermakna menduakan cinta. Setiap kata tak lagi menjadi sahabat yang mengajarkan pikiran tentang cara memetik kesetiaan. Kata, cerita, sesekali menjadi duri yang dapat menusuk telapak kaki saat melangkah. Ia tak lagi menjadi kawan yang mengantarkanku pada sang Pujaan. Ia adalah duri untuk kaki kecilku!

Bagaimana aku akan menjadi kekasih sejati, jika tunas kesetiaan tak mampu tumbuh dalam ladang hatiku?
Bagaimana penantian akan berbuah manis, jika pupuk yang dipakai hanya menghasilkan rerumputan liar?
Dengan mata yang terhalangi keinginan diri, masih mampukah aku membaca cintanya?

Siangku,,, kini tentang lemahnya kaki dalam perjalanan menuju cintanya.
Nyanyianku, kini tentang ketundukan yang tergores nafsu.


Subang, 03 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar