Malam-malamku, kini berisi nyanyian tentang seorang pengemis
kasih pada Sang Penguasa Kasih. Melodinya adalah not-not bernada pengharapan
tentang kemurnian cinta. Syairnya berisi kisah seorang perindu yang tengah
terusik nafsu dan cinta lain.
Malamnya tak lagi berisi kesejukan kasih.
Siangnya hanya tentang keresahan antara harap dan putus asa.
Matanya tak lagi berbinar semangat kecintaan.
Tergopoh. Terseok. Bahkan sesekali merangkak demi bertemu
Sang Penguasa Kasih.
Cerita alam tak lagi tentang kehebatan Sang Pujaan.
Tulisan alam hanya berisikan kata-kata yang bermakna
menduakan cinta. Setiap kata tak lagi menjadi sahabat yang mengajarkan pikiran
tentang cara memetik kesetiaan. Kata, cerita, sesekali menjadi duri yang dapat
menusuk telapak kaki saat melangkah. Ia tak lagi menjadi kawan yang
mengantarkanku pada sang Pujaan. Ia adalah duri untuk kaki kecilku!
Bagaimana aku akan menjadi kekasih sejati, jika tunas
kesetiaan tak mampu tumbuh dalam ladang hatiku?
Bagaimana penantian akan berbuah manis, jika pupuk yang
dipakai hanya menghasilkan rerumputan liar?
Dengan mata yang terhalangi keinginan diri, masih mampukah
aku membaca cintanya?
Siangku,,, kini tentang lemahnya kaki dalam perjalanan
menuju cintanya.
Nyanyianku, kini tentang ketundukan yang tergores nafsu.
Subang, 03 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar